Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 54 : Daerah Utara


__ADS_3

Aku mendaratkan sapuku di sebuah desa terpencil, dibanding desa manapun desa inilah yang paling rapuh untuk diserang.


Bagaimana aku tahu? Karena di masa lalu aku berfikir untuk menghancurkannya juga.


Aku datang sebagai seorang tamu yang mencoba merasakan bagaimana hidup di pedesaan, dengan alasan itu aku bisa tinggal di sebuah rumah kecil yang bisa aku tempati sementara waktu.


Orang yang memilikinya sudah pindah dan rumah ini berubah menjadi tempat peristirahatan bagi pelancong. Aku senang bahwa di dalamnya ada ranjang empuk, lemari dan juga peralatan mandinya.


"Kalau begitu nona Anna, aku permisi."


"Terima kasih," balasku pada seorang gadis yang mengantarku kemari.


Aku sedikit lapar karenanya setelah berkemas aku pergi ke sebuah kedai sederhana satu-satunya di sini, seorang bibi bertubuh besar bertanya, mau pesan apa?


"Aku pesan bir."


"Hah?"


"Kenapa?"


"Kamu masih kecil untuk minum alkohol."


"Mungkin penampilanku seperti ini, tapi aku seorang wanita dewasa."


"Jelas sekali bohong... minum ini dan pilihlah makanan dengan sesuai."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya aku ingin kembali ke tubuhku sesungguhnya. Aku memesan nasi goreng saja serta minuman teh hangat.


Beberapa orang memperhatikanku tapi aku tidak peduli, seorang penyihir datang ke desa kecil memang sebuah hal yang jarang.


Pemilik kedai berkata.


"Jika kamu datang yang membuat masalah aku sarankan untuk segera pergi."


"Sepertinya kalian tidak terlalu ramah kepada penyihir," jawabku santai sebelum mengunyah.


"Mungkin begitu, aliansi penyihir hanya peduli dengan orang-orang yang memiliki uang, ketika kami dilanda masalah mereka tidak ingin membantu."


"Jadi begitu, aku bukan dari aliansi kurasa kalian tidak perlu menunjukkan kebenciannya padaku."


Bibi itu tersenyum lebar.


"Sudah kubilang kan, yah... selama di sini, jika kalian perlu bantuan tak masalah untuk memintanya padaku, aku kasih diskon."


"Tidak gratis."


"Aku juga perlu nafkah kau tahu," kataku demikian.


Aku sebisa mungkin untuk terlihat natural, bisa dikatakan seperti seorang penyihir pengembara atau sebagainya.


Beberapa orang memintaku untuk menggunakan sihir memindahkan bebatuan, memburu monster-monster dan lainnya.

__ADS_1


Memiliki sihir memang praktis hanya saja yang aku pikirkan, bukannya mereka tinggal di dunia sihir kenapa orang-orang ini tidak bisa menggunakannya.


Ketika aku menanyakannya mereka menjawab bahwa biaya akademi terlalu mahal, bagi kalangan menengah dan atas mereka bisa mempelajarinya sedangkan untuk desa seperti itu nyaris sulit.


Aku bisa merasakan kepalaku sakit sekarang.


Sebenarnya apa yang kalian lakukan selama ini, saat aku berniat menghancurkan dunia ini kalian secara susah payah menghalangi namun saat dunia sihir berhasil dipertahankan mereka benar-benar seenaknya.


Jelas mereka sudah melupakan kenapa ada aliansi dan dunia sihir ini.


"Kalian tidak memilih keluar saja dan tinggal di dunia normal?"


"Bagi kami yang lahir di tanah ini, itu merupakan sesuatu yang tidak bisa kami lakukan."


Aku mengerti yang coba dia katakan, mereka ingin hidup ataupun mati di tanah sendiri.


"Akan aku ajari sihir dasar seperti menyalahkan api dan juga melayangkan benda berat dengan mudah, ajak yang lainnya juga."


"Baik, tapi bayarannya?"


"Yang ini gratis."


Dari dulu aku tidak senang jika disamakan dengan orang-orang di aliansi.


Malam telah tiba menggantikan matahari menjadi bulan yang bercahaya terang.

__ADS_1


Di atas pepohonan aku mengenakan jubah hitam yang menutup sebelah wajahku


Sudah tiga hari dan mereka baru bergerak, hal ini membuatku kerepotan.


__ADS_2