
Hari ini aku menghabiskan waktu bersama Sarah untuk melatihnya dalam penggunaan sihir tingkat menengah, seharusnya aku yakin bahwa kemampuannya cukup baik hingga bisa lulus dari akademi tanpa mengkhawatirkan apapun. Walau begitu, Sarah bilang bahwa ujian terakhir Akademi adalah menangkap monster untuk berjaga-jaga ia ingin menjadi semakin kuat.
Aku bisa mengerti itu.
Ngomong-ngomong orang yang bertanggung jawab soal monster yang berkeliaran di dunia ini adalah aku, karenanya namaku tertera di buku sejarah sebagai orang yang jahat.
Beberapa juga malah terlihat berlebih saat menggambarkan diriku.
Sarah mengayunkan tongkatnya untuk menciptakan pusaran tornado, itu membawa dedaunan serta apapun di sekitarnya dengan kuat.
"Bagaimana nona Anna, apa aku melakukannya dengan baik?"
Sangat baik, tapi bukannya aku sudah mengatakan untuk memanggilku Anna saja."
Sarah terlihat merenungkannya.
Dengan penampilanku yang terlihat sangat dewasa jelas sekali hal itu sulit dilakukan. Pada akhirnya aku yang memilih menyerah lagipula aku memang bukan gadis kecil lagi.
Kami menutup latihan ini dengan makan bersama seolah sedang berpiknik, Oliheim sudah dikalahkan dan semuanya berjalan seperti biasanya.
Seharusnya sudah tidak ada lagi masalah.
Aku menggigit roti lapisku dan merasakan sensasi tekstur dari daging yang renyah dan enak. Aku tidak begitu tahu bahwa makanan seperti ini bisa sangat enak tergantung bagaimana kau memakannya.
Yang aku maksud adalah makanan akan semakin enak saat dinikmati dengan seseorang.
__ADS_1
"Sudah waktunya aku kembali ke akademi, sampai nanti."
"Sampai nanti."
Aku merindukan nuansa akademi namun seperti yang aku pikirkan, aku memang tidak terlalu cocok di sekolah. Itu akan jadi terlalu membosankan.
Aku melihat bagaimana sosok Sarah telah menghilang bersama sapu terbangnya digantikan oleh Vanesa yang muncul secara tiba-tiba.
"Gadis yang manis."
"Kamu juga manis Vanesa."
Vanesa segera menyembunyikan dirinya dengan tangannya.
"Aku tahu Anda menyukai gadis lagi tapi aku masih normal."
Aku meminta Vanesa dan Roa untuk menghentikan pekerjaannya dan berkumpul di ruang tamu untuk mendiskusikan sesuatu.
"Jadi besok aku ingin mengajak kalian pergi ke dunia manusia."
Ketika aku mengatakan itu ekspresi mereka mengeras, walau mereka telah hidup lama mereka sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan dunia luar.
"Aku rasa itu ide buruk."
"Aku juga merasa demikian."
__ADS_1
"Kalian paling tidak harus tahu sesekali."
"Meski Anda bilang begitu."
"Kalian bisa belanja, pergi ke salon dan juga makan-makan enak."
Setelah mengatakan itu mereka menjadi tertarik. Dengan begini kami melakukan perjalanan ke dunia manusia.
Kami menunggu di halte perhentian saat kereta muncul kami segera mengikuti semua orang untuk memasukinya selanjutnya yang kami tahu kami telah tiba di dunia manusia.
Roa dan Vanesa masih menatapku dengan pandangan bermasalah.
Sekarang aku tidak mengenakan pakaian penyihir hanya pakaian normal mirip seorang eksekutif muda.
"Apa rokku terlalu pendek, belahan dadaku terlihat sempurna."
"Aku sudah tahu tapi Anda memang punya sedikit sisi seperti ini," kota Roa.
"Tak apa jika tampil sedikit lebih berbeda dari biasanya bukan."
"Kamu juga mengenakan kacamata," tambah Vanesa.
"Untuk menyesuaikan diri."
Sekilas dari luar kami seperti seorang ibu yang mengajak jalan kedua putri remajanya, tempat yang kami tuju adalah sebuah mall mewah yang cukup terkenal di kalangan sekitar.
__ADS_1
Ada beberapa orang yang mengatakan jika kamu butuh sesuatu tempat ini adalah pilihan yang sempurna.