
Di akademi ini terdapat sebuah koridor yang terlarang bagi siapapun untuk memasukinya. Berbeda dengan ruang bawah tanah yang selalu tersembunyi koridor ini benar-benar terlihat dengan jelas hanya saja ada sebuah penanda yang melarang siapapun untuk memasukinya, padahal di dalam sana ada tujuanku selanjutnya.
Benar sekali, di ujung koridor itu merupakan kamar milik nona Charlotte, kepala sekolah pertama di akademi ini. Tidak ada yang bisa memasukinya kecuali kamu memiliki kuncinya.
Dan kebetulan kunci tersebut ada di balik pakaianku. Aku baru menyadarinya saat nona Charlotte menghilang.
Aku curiga kemungkinan kepala sekolah di akademi ini juga menginginkan sesuatu yang ada di dalamnya.
Sebaiknya mungkin kini aku juga harus berhati-hati dengannya seperti yang dikatakan wanita tanpa kepala itu.
Ketika hari berganti malam aku telah menyelinap untuk memasuki koridor terlarang, berbeda dari sekarang aku tidak melibatkan temanku melainkan hanya aku sendiri.
Resikonya terlalu besar jika kami benar-benar masuk dalam masalah, perlahan dengan pasti aku telah mengambil langkah pertamaku dan mulai beralih ke langkah kedua kemudian ketiga dan selanjutnya tanpa henti.
Larangan soal koridor terasa konyol, tidak ada apapun yang terjadi seolah itu hanya dibuat untuk menakuti orang-orang. Aku sempat memikirkan hal itu namun sesaat kemudian pikiran itu langsung ditepis begitu saja.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi kini seluruh pemandangan yang aku lihat seutuhnya berubah, tidak lagi di koridor melainkan di sebuah tempat menyerupai altar dengan pilar-pilar mengelilinginya dan lebih buruk dari itu, seekor naga berkepala dua telah menantapku dan kemudian menyemburkan nafas api secara bergantian.
Aku yang terkejut segera berlari kemudian bersembunyi di belakang salah satu pilar walaupun sekarang apinya menyebar di kiri dan kananku.
"Apa -apaan ini ? Apa ini mimpi atau ilusi."
Aku mencubit pipiku sendiri dan merasakan sakit setelahnya, tanpa ditanyakan lagi aku sudah tahu kesimpulannya.
Koridor ini memiliki kutukan untuk memindahkan siapapun ke tempat-tempat mengerikan seperti ini.
Aku mengayunkannya di udara dan pilar-pilar yang terpasang kokoh terangkat ke udara lalu meluncur, menabrak naga dengan kekuatan luar biasa.
Naga itu meraung hingga sudah cukup membuat udara dingin menusuk punggungku. Sang naga berlari padaku dan aku berguling tepat saat dia membenturkan kepalanya di tempat sebelumnya aku berada.
"Ekpentrum."
__ADS_1
Kilatan petir mengenai kedua lehernya secara langsung namun itu tidak berdampak apapun, satu hal yang harus kulakukan hanyalah untuk cepat keluar dari sini atau aku akan mati.
Naga tersebut mulai mengibaskan ekornya, karena jangkauannya yang cukup luas aku terhempas olehnya hingga terbang menabrak pilar.
Itu menyakitkan jika kau tanya aku. Aku menciptakan 10 bola api lalu mengirimkannya langsung ke wajah naga yang berusaha mengejarku.
Efek serangan itu cukup membuatnya bergerak mundur, jika itu sulit menjatuhkannya maka hanya satu hal yang bisa dilakukan.
Terus melemparkan sihir api.
Aku terus melesatkan api dengan jumlah besar, dari sepuluh bertambah dua kali lipat di serangan berikutnya dan berikutnya. Dalam pertarungan seperti ini nekat adalah pilihan tepat jika kamu tidak bisa melarikan diri.
Naga terus menerima seranganku, ketika aku berhenti dan duduk terkulai lemas. Naga itu juga mengalami hal sama atau lebih tepatnya lebih buruk dari yang aku rasakan.
Tubuhnya mulai tumbang dan lalu terjatuh dengan bunyi keras.
__ADS_1