Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 32 : Perlombaan Sapu Terbang


__ADS_3

Kami bertiga telah mendaftarkan diri di perlombaan dan hanya menunggu waktu untuk turut ambil bagian di dalamnya namun ada satu masalah sekarang.


Selama ini kami meminjam sapu milik sekolah dan sesuai peraturan saat pertandingan para siswa harus menggunakan sapu milik mereka sendiri, karena itulah kami bertemu dengan nona Silia untuk meminta solusinya.


"Hmm sapu terbang itu sangatlah mahal, jika kalian menginginkannya maka akan jauh lebih efisien jika kalian menangkapnya di alam liar."


Ini pertama kalinya aku tahu ada sapu terbang liar, nona Silia menjelaskan.


Dulu ada penyihir yang terobsesi untuk membuat sapu-sapu terbang hidup secara bebas di alam liar, ketika dia meninggal sapu itu terus saja berkeliaran seperti burung, jika kamu bisa menemukannya lalu menempelkan jimat di atasnya maka sihirnya akan hilang dan kami bertiga bisa mengendarainya untuk pertandingan.


Sulit dipercaya tapi beginilah dunia sihir.


Nona Silia menunjukkan lokasinya yaitu sebuah rawa-rawa yang cukup merepotkan. Kami berada di atasnya mengejar setiap sapu yang berusaha melarikan diri ke sana kemari.


Untuk menangkapnya sendiri kami menggunakan tali seperti seorang koboi.


"Uwah."


Sarah berhasil menangkapnya namun dirinya yang malah terbawa hingga berada di atas lumpur.


"Tidak, tidak."


Aku melompat dan menangkap kakinya untuk menahannya juga, di sisi lain Marick mensejajarkan sapunya dan melompat untuk menjatuhkannya sebelum akhirnya meletakan jimat yang diberikan oleh nona Silia di atas sapu tersebut.


Itu berhasil dengan baik.

__ADS_1


"Oh, sial.... tubuhku dipenuhi lumpur, aku juga makan lumpur."


"Aku dengar lumpur baik untuk perawatan kulit."


"Mana mungkin begitu," balasnya demikian.


"Kalian para gadis sangat kotor apa sebaiknya kalian membersihkan diri dulu."


Kami setuju dengan apa yang Marick katakan meski begitu kami mengikatnya di pohon sebelum pergi ke sungai untuk membersihkan diri.


"Airnya segar Anna, lihat aku bisa berenang hehe."


"Bukannya kamu terlalu bersemangat walaupun telanjang."


"Tak apa, hanya kita berdua di sini."


"Nah Sarah, bagaimana jika aku benar-benar Merlim Ratmir. Apa kamu dan Marick akan menjauh dariku?"


"Soal itu.. entah Anna, Merlim atau bukan, aku akan tetap berada di dekatmu sebagai temanmu, aku tidak memperdulikan soal masa lalu. Kurasa Marick juga akan berfikiran sama tentang ini."


"Bagaimana kalau aku berniat menghancurkan dunia normal."


Sarah memegangi bahuku hingga pandangan kami saling bertemu.


"Anna tetaplah Anna, entah sekarang atau nanti. Jika kamu ingin menghancurkan dunia normal maka aku dan Marick akan menghentikanmu."

__ADS_1


Aku mungkin sedikit merasa lega sekarang.


Kami memakai pakaian kami kembali dan aku segera menyadari sesuatu.


"Ada apa Anna?"


"Marick dalam bahaya, mari bergegas."


"Tunggu."


Kami berdua bersembunyi di balik pohon sembari melirik ke arah Marick yang telah dikepung banyak orang bermantel hitam. Jumlahnya sekitar tujuh orang.


"Apa-apaan ini, aku takut... jangan mendekat."


Salah satunya membawa pisau di tangannya.


"Kita sebaiknya melawan mereka."


"Sebaiknya sampai di sana saja."


Aku dan Sarah keluar selagi mengacungkan tongkat kami. Salah satu yang membawa pisau berbalik pada kami selagi melepaskan tudung di kepalanya.


Dia adalah seorang wanita dengan rambut perak panjang dengan bibir terlihat sangat merah, yang lainnya juga demikian yang jelas mereka semua memiliki rambut sepertiku.


"Kenapa rambutmu berwarna perak gadis manis?"

__ADS_1


"Entahlah, dari awal rambutku memang seperti ini," balasku demikian.


__ADS_2