Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 56 : Seorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

Seberapa kuat sihir mereka dan seberapa hebat tongkat yang mereka gunakan di depanku semua itu hanyalah sebuah hal sia-sia.


Corgos memucat bagaimana sihir yang dia gunakan tidak pernah mengenaiku. Semuanya menguap ke udara seolah memudar menjadi asap.


"Bagaimana mungkin? Bukannya ini hanya sihir yang digunakan Merlim Ratmir."


"Bisa dibilang aku menemukan buku miliknya lalu mempelajarinya."


"Itu konyol, pengetahuan Merlim tidak mungkin bisa dipelajari oleh gadis ingusan sepertimu."


Menyebutku gadis ingusan, aku rasa itu sudah terlalu berlebihan tapi biarlah. Agar penyamaranku tidak terbongkar aku sengaja mengeluarkan buku dari balik pakaianku.


"Ini dinamakan Grimore, apa kau cukup familiar dengan ini?"


"Setelah Merlim memutuskan mengkhianati Oliheim dia mati oleh muridnya dan memotong kepala dan tangannya, jangan bilang."


"Yap, aku murid tersebut."


"Kami yakin buku itu telah kami bakar karena tidak bisa membacanya."


"Ini hanya salinan, tapi tentu sama persis dengan yang asli... Merlim Ratmir meminta Oliheim untuk berhenti, bukannya sepantasnya kalian menghentikan ini juga."


"Aku tahu, Merlim pasti terpengaruh olehmu bukan, padahal saat itu dia lebih terlihat seperti cahaya bagi kami."


Itu tidak salah juga.


"Merlim telah mati hal itu tidak berubah, kalian hentikan semua ini. Balas dendam tidak akan menyelesaikan apapun."

__ADS_1


"Tidak masalah yang terpenting aku bisa membalas perlakuan mereka."


Tubuh Corgos perlahan berubah menjadi wujud Vampir, aku melemparkan suntikan dan melihat bahwa dia telah menerima efeknya sekaligus.


"Apa yang kau lakukan?"


"Itu ramuan untuk menghilangkan darah terkutuk, dalam waktu singkat kau hanya akan jadi manusia.


"Sialan."


Aku menggunakan mantra tidur untuk melumpuhkannya, jika aku bisa berubah kuharap mereka juga bisa melakukannya juga. Pagi hari menyingsing dan aku telah bangun dan sarapan dengan menu biasanya.


Tidak ada yang tahu kejadian semalam dan semuanya berjalan apa adanya.


"Kurasa sudah waktunya aku pergi ke tempat berikutnya."


"Kau tidak datang ke tempatku untuk berpamitan."


Aku hanya membalas dengan senyuman pahit.


"Aku pikir aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu, kalau begitu selamat tinggal."


Aku berjalan melewatinya dan ia berkata.


"Merlim Ratmir kamu tidak berubah, terima kasih untuk penjagaan desanya... mereka menjadikan desa ini sebagai target karena aku tinggal di sini, jika melawan Corgos aku tidak akan menang dan memutuskan untuk mati dengan desa ini juga."


Keheningan sesaat muncul diantara kamu berdua.

__ADS_1


"Awalnya aku tidak mengenalimu tapi perubahan terkadang sulit untuk dipercaya."


Dia tertawa.


Dulu wanita ini memiliki tubuh kecil dan langsing.


Dia seseorang yang aku kenal sejak lama sebagai pengikutku. Aku melemparkan satu suntikan padanya.


"Jika kau sudah bosan, gunakan saja."


"Akan kuingat."


Aku menaiki sapuku dan terbang menembus awan, di daftar tempat berikutnya adalah kota yang merupakan tempat tinggal bangsawan suku Utara, aku mengenalnya dan pernah terlibat insiden dengannya.


Mengingat seberapa kuat tempat itu kurasa mereka akan baik-baik saja, aku menjatuhkan diri ke tanah di pertengahan jalan, ini adalah sebuah kota yang telah dihancurkan.


Beberapa mati namun beberapa juga hidup.


Corgos mengirim setengah pasukannya kemari juga. Jika begini aku yakin dia akan dihukum mati.


"Maaf apa Anda penyihir, apa bisa membantu kami sebentar?" suara itu datang dari wanita paruh baya.


"Aku tidak keberatan, aku akan mengobati kalian dulu sebelum membantu mengangkat benda-benda berat."


"Terima kasih."


Sejak dulu aku tidak membayangkan bahwa aku yang membenci dunia ini, akan sedikit menyukainya dan membantu orang. Diriku di masa lalu dan sekarang memanglah berbeda.

__ADS_1


__ADS_2