
Yang pertama kami mencoba untuk pergi ke bioskop untuk menonton film, Roa dan Vanesa memilih genre yang mengejutkan.
"Film zombie?" kataku demikian.
"Kurasa ini akan menarik."
"Kalian yakin tidak ingin pilih yang ini?"
Aku menawarkan film romantis tapi jelas sekali mereka tidak tertarik, pada akhirnya kami melihat film seperti itu dan mereka yang paling bersemangat dibandingkan para penonton yang meringkuk ketakutan.
"Zombie itu keren, mereka bisa membunuh meskipun gerakannya lambat."
"Jangan lupa cara perkembangbiakannya hanya dengan gigitan mereka bertambah banyak."
Mereka berdua, aku tidak tahu lagi seleranya seperti apa.
Setelah puas menonton kami menuju toko elektronik. Di sini menawarkan apapun yang bisa kamu beli dan sebuah pameran game telah dipertunjukkan untuk siapapun yang datang.
Kita bisa membeli semua konsol yang diinginkan.
"Apa-apaan ini, ini luar biasa."
"Benar, aku tidak tahu ada hal seperti ini."
"Kita bisa membelinya, kita tidak terikat peraturan dunia penyihir maka kita bisa menyelundupkan beberapa jika kita mau."
"Aku ingin melakukannya."
__ADS_1
Di dunia penyihir ada larangan untuk tidak membawa hal-hal seperti ini ke sana, itu untuk menjaga dunia sihir masih tetap sama seperti dulu tapi jika itu kami tidak akan tahu. Kami tinggal di hutan terlarang jika hanya dinikmati pribadi kurasa tidak masalah.
Roa dan Vanesa terlihat bahagia walaupun mereka canggung dengan berbagai teknologi, pada akhirnya aku membelikan mereka televisi dan konsol juga untuk kami gunakan di rumah.
Mereka juga perlu pakaian yang bagus mari sekalian membelinya.
"Ini harga totalnya."
"Aku pakai ini."
Aku dengan bangga menunjukkan kartu ATM.
"Dengan hanya plastik ini bisa membeli apapun."
"Ini pasti kartu ajaib."
Kami membeli banyak barang dan keperluan lainnya, untuk kembali aku hanya harus menggambar lingkaran sihir di belakang gang kecil, mengucapkan sedikit mantra dan langsung muncul kembali di perkebunan kami di hutan terlarang.
"Sebaiknya kalian langsung mencobanya."
"Benar, ayo Roa."
"Tentu saja."
Mungkin beginilah rasanya jadi seorang ibu.
Roa dan Vanesa menantapku dengan tatapan bermasalah. Mungkin mereka mendengarnya.
__ADS_1
Beberapa hari berikutnya aku akan selalu melihat dua orang ini sedang memainkan game bersama.
"Ngomong-ngomong apa kalian sudah menyirami ladang?" tanyaku yang baru bangun tidur.
"Tentu saja sudah, kami melakukannya dua jam lebih awal agar bisa bermain."
"Benar sekali."
Kalian ini bocah kah.
Selama mereka melakukan tugasnya dengan benar aku tidak akan komplain apapun.
Hari ini aku telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, singkatnya aku ingin mengalahkan monster-monster yang telah aku buat.
Ada sepuluh yang bisa dikatakan sebagai monster peringkat S. Selain itu Aliansi maupun penyihir bisa mengalahkannya.
Aku sudah memberitahu Sarah dan Marick. Jika mereka tahu, mereka tidak akan terkejut saat berkunjung ke sini.
"Kalau begitu aku serahkan soal rumah pada kalian."
"Tolong berhati-hatilah."
Aku naik ke atas sapu lalu pergi sembari melambaikan tangan pada mereka, sulit untuk mengetahui para monster tersebut tengah berada di mana, yang bisa aku lakukan hanyalah mengunjungi setiap kota dan desa dan bertanya apa mereka melihat makhluk-makhluk yang aku gambar di kertas ini.
Kota pertama yang aku tuju adalah sebuah kota di atas air, tidak kalah dengan dunia di luar sana, di luar sini juga memiliki peradaban yang maju.
Seperti yang aku katakan di awal, tidak ada pemimpin di dunia ini, jika pun ada mereka hanyalah orang yang ditunjuk sebagai perwakilan masyarakat.
__ADS_1