
Tepat saat aku berfikir demikian nona Silia telah muncul menghentikannya.
"Jadi di sini nona Anna Holand, sepertinya kamu lupa untuk segera kembali setelah pergi ke kamar mandi."
Tuan Goven mendecapkan lidahnya dan entah kenapa dia melepaskanku begitu saja.
"Anda sudah pergi lagi tuan Goven?"
"Aku harus memeriksa tempat lain, pastikan untuk melindungi muridmu dengan baik."
"Tanpa dikatakan pun aku pasti akan melakukannya, Anna kemarilah dan sebaiknya kamu menceritakan soal yang disembunyikan olehmu."
Mungkinkah bahwa semua guru di sini sudah mengetahuinya.
Di rumah kaca aku meletakan telur Phoenix yang telah aku ambil sebelumnya, nona Silia tidak marah namun dia menunjukkan wajah kagum.
"Kamu berhasil mendapatkannya."
"Iya, apa tuan Goven akan mencoba mengambilnya dariku?"
"Aku ragu ia akan melakukannya, sebenarnya kami juga berusaha untuk mendapatkannya tapi sulit karena ada penghalang di sekitar ruangan khusus nona Charlotte."
"Dengan kata lain ini bukan rahasia."
__ADS_1
"Tidak, ini rahasia hanya aku dan tuan Goven yang tahu akan hal ini, kami berusaha mengambilnya sebelum kepala sekolah di akademi, sebenarnya ialah yang harus diwaspadai."
Aku diam memikirkannya.
"Kenapa begitu?"
Sebelum pertanyaan itu terjawab, sebuah petir melesat untuk melukaiku beruntung bahwa nona Silia menepisnya dengan mudah.
"Nona Silia, Anda masih kuat seperti yang aku ingat dulu."
"Selamat malam kepala sekolah, bukannya tidak baik keluar malam-malam dan bahkan mencoba menyerang siswa sekolahmu."
"Ini hanya pengecualian, aku yakin nona Anna membawa benda yang aku butuhkan sejak lama."
"Jika aku bisa memakan burung itu maka aku akan bisa kembali muda dan memiliki keabadian, alasan itulah aku menjabat menjadi kepala sekolah."
"Aku sudah tahu hal ini sejak lama bahkan 50 tahun yang lalu... karena Anda tidak ada hubungannya dengan Oliheim aku memilih mengabaikannya, tapi sekiranya Anda mencoba melukai muridku jadi aku tidak bisa menghiraukannya lagi."
"Ekpentrum."
Nona Silia membentuk tembok dari tanah sebagai perisai dan itu meledak dahsyat.
"Anna mundurlah."
__ADS_1
"Baik."
Aku tidak berfikir untuk berada di dekat pertarungan mereka berdua. petir, angin, api dan air saling terlempar dari keduanya.
Mereka melayangkan segala barang di dekatnya lalu membenturkannya di udara sampai mereka terdiam saling menatap satu sama lain dengan potongan kaca yang berserakan di sekitar.
"Nona Charlotte hanya memberikan warisan terhadap ia percayai, jangan berfikir bahwa kamu berhak mendapatkannya."
"Ini bukan masalah berhak atau tidak, yang jelas aku yang lebih membutuhkannya."
Serangan mereka saling mendorong satu sama lain, tubuh nona Silia terlempar ke udara hingga beberapa kali bersalto sebelum terjatuh ke tanah di saat yang sama kepala sekolah juga mengalami hal sama hingga darah menyembur dari mulutnya.
Aku mengeluarkan telur yang aku ambil.
Benda ini bisa membuat seseorang memiliki keabadian.
Tapi aku tidak berniat memakannya, aku akan membesarkannya dan memelihara sebagai hewan peliharaan.
Jelas aku menolak memberikannya pada siapapun.
Entah nona Silia ataupun kepala sekolah mereka berdua sama-sama mengeluarkan darah dari kepala mereka.
Kemungkinan aku harus membantu nona Silia tapi kurasa itu tidak diperlukan lagi, tubuh kepala sekolah terbang ke udara kemudian berputar-putar sebelum menabrak dengan keras.
__ADS_1
Aku berfikir apa nona Silia akan menghabisinya. Ketika dia mengayunkan tongkatnya itu adalah sihir untuk menghilangkan ingatan.