Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 30 : Patung Penjaga


__ADS_3

Semakin dalam maka semakin banyak jebakan yang kami lewati, kami harus berhadapan banyak ular, lorong yang tiba-tiba menyempit, jembatan yang dihalangi kapak raksasa, semua itu adalah kesulitan dalam hal ini.


Ketika kami pikir kami telah mencapai ujungnya hal itu telah dipatahkan oleh sesuatu yang mengagumkan, di ruangan luas ini dipenuhi ratusan sampai ribuan patung dengan senjata di tanah mereka.


Sarah yang gemar membaca buku sama sepertiku terkagum.


"Bukannya ini mirip seperti penjaga-penjaga yang ada di makam-makam cina."


"Aku juga merasa begitu."


Kami memperhatikan setiap kepala mereka yang memiliki wajah serupa, Marick menunjuk ke depan.


Tidak seperti apa yang digambarkan kami, bukan peti mati yang patung ini jaga melainkan sebuah tabung kecil yang di dalamnya ada sebuah potongan tangan kanan.


Tanpa ditanya lagi kami sudah tahu, itu milik siapa.


Benar, itu milik wanita tanpa kepala.


"Firasatku mengatakan bahwa jika kita mengambilnya semua patung ini akan bergerak lalu menyerang kita."


Sarah berhasil menebak apa yang aku pikirkan sekarang, tanpa berlama-lama kamu memutuskan untuk mengambilnya tapi sebelum itu kami punya sesuatu yang harus dilakukan.


"Mari hancurkan patungnya lebih dulu dan kita baru akan mengambil tangannya."

__ADS_1


"Itu ide bagus Anna."


Marick juga mengangguk setuju dan kami pun segera menghancurkan mereka dengan berbagi sihir yang kamu pelajari.


"Ekpentrum."


Petir membentur beberapa dari mereka membuatnya hancur berserakan, di sisi lain api juga cukup efektif. Hingga setelah sore hari kami berhasil melakukannya.


Kami bertiga terkapar di lantai.


"Aku tidak ingin melakukannya lagi, ini capek."


"Rasanya tanganku mau patah."


"Ini sudah selesai jadi tidak usah khawatir."


"Jangan bercanda, masih ada kutukan yang lainnya kah."


"Apa ini waktunya aku berteriak?"


Aku dan Sarah mengiyakan dan Marick berteriak histeris layaknya perempuan. Setiap potongan patung yang kami rusak mulai menyusun dirinya semakin besar membentuk satu patung raksasa dengan empat tangan dengan wajah menyerupai patung sebelumnya.


Matanya yang bersinar menatap ke arah kami, dia menjulurkan tangannya dan kami melompat menghindar.

__ADS_1


Sekali saja terkena kami pasti akan hancur diremukkan. Aku menggunakan Ignium untuk mendorong tubuh makhluk ini menjauh.


"Sarah? Marick? Kalian baik-baik saja?"


"Aku tak apa tapi sepertinya jalan keluar kita telah tertutup."


Aku melirik ke sana dan bisa dipastikan jalan satu-satunya memang berakhir seperti itu. Aku melompat mundur saat makhluk itu kembali bergerak. Aku akan menyebutnya Golem dari sekarang.


Golem menghempaskan tangannya mengirim embusan angin kencang. Aku, Sarah dan Marick membuat pelindung dari tanah lalu menyerang dengan mengangkat sebuah bebatuan yang dilesatkan sebagai peluru.


Keempat tangannya telah dibombardir tanpa ampun, setiap dihancurkan tubuhnya akan kembali menyatu.


"Ini pasti kutukan, kita harus menghapusnya untuk mengalahkannya."


"Sarah kamu sering berada di kelas tuan Goven, lakukan sesuatu."


"Aku sedang memikirkannya."


Sarah terlihat menemukan satu ide.


"Ada sebuah mantra yang baru-baru ini aku pelajari, aku belum tahu apa akan berhasil atau tidak."


"Lakukan saja, itu lebih baik dibandingkan tidak melakukan apapun... Marick bantu aku."

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tapi aaaaaaaaaaaaah."


Aku maupun Marick melayang ke udara dan berputar-putar di sekelilingnya.


__ADS_2