Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 34 : Papan Catur


__ADS_3

Malam harinya aku menghabiskan waktu bersama nona Silia dengan secangkir teh yang manis.


"Belakangan ini teh yang nona Silia minum selalu berbeda?"


Dia membalas.


"Aku berusaha untuk mencari citarasa berbeda setiap harinya."


"Jadi begitu, Anda seorang penikmat teh."


"Bisa dibilang begitu."


Kami menyeruput teh bersama.


"Akan membosankan jika kita hanya diam seperti ini, jadi nona Silia aku membawa permainan yang bisa kita mainkan bersama."


Sementara nona Silia bertanya-tanya. Aku meletakan papan catur dan menyusun bidaknya dengan rapih.


"Kamu mau menantangku untuk bermain ini?"


"Iya... aku pikir nona Silia akan menyukainya."


"Aku tidak keberatan tapi lain kali aku akan mengajakmu ke permainan orang dewasa."


Aku tidak tahu tempat seperti apa itu tapi aku akan menantikannya.


Aku mengambil bidak hitam dan membiarkan nona Silia berjalan lebih dulu dengan bidak putih, untuk bagian awalan aku melakukannya dengan baik sayangnya dipertengahan aku dikalahkan telak.


"Skakmat."


"Sekali lagi."


"Aku menang."


"Sekali lagi."

__ADS_1


Tiga kali berturut-turut aku kalah, benar-benar menyebalkan.


"Jangan bilang nona Silia ahli dalam hal-hal seperti ini."


"Hal seperti itu tidak perlu ditanya lagi."


Salahku karena telah menantangnya dalam permainan seperti ini, aku mulai merapihkannya kembali.


"Helena akan kembali mengajar aku pikir dia pasti akan sedikit kesal denganmu jadi berhati-hatilah nanti."


"Bukannya terlalu cepat ia dibebaskan."


"Dia keluarga elit, ia mampu membayar kebebasannya."


"Begitu," balasku tersenyum masam.


Yang dilakukan nona Helena bukan sesuatu yang perdebatkan, aku tidak masalah jika dia kembali mengajar di sini.


"Ngomong-ngomong Anna, aku sedikit penasaran apa belakangan ini kamu menemui orang-orang baru?"


"Kalau tidak salah aku bertemu dengan orang-orang suku Utara, mereka memiliki rambut perak sepertiku."


"Mereka kah, pantas saja."


"Apa ada yang salah nona Silia?" aku balik bertanya dan ia menghela nafas panjang.


"Sepertinya mereka memberikan sihir untuk menemukan keberadaanmu."


"Eh, benarkah? Dengan kata lain mereka berniat untuk menemuiku lagi."


"Bisa dibilang begitu, tapi mereka sudah datang kemari."


Aku memiringkan kepalaku bingung sementara nona Silia bangkit dari kursinya dan memintaku untuk mengikutinya.


Berada di luar akademi aku bisa melihat Frizel yang sedang menggendong temannya di punggung. Seharusnya mereka lebih banyak dari yang aku ingat meski begitu kami segera mendekatinya.

__ADS_1


Kesampingkan soal sihir yang mereka gunakan padaku, lebih dari itu. Orang yang dibawa Frizel tampak terluka parah.


"Kalian berdua baik-baik saja?" tanya nona Silia.


"Kurasa kondisi kami lebih buruk dari yang terlihat."


"Anna?"


"Baiklah."


Aku mengangkat keduanya dengan sihir melayang dan membawanya ke ruang perawatan di rumah kaca.


Nona Silia mengaduk-aduk ramuan yang diberikannya pada keduanya, untuk rekan Frizel dia sudah tertidur dan akan baik-baik saja keesokan paginya.


"Jadi kenapa Anda memberikan sihir padaku?"


"Aku berfikir aku ingin menemuimu lagi Anna, kami ras suku Utara selalu menganggap siapapun yang memiliki rambut seperti kami sebagai keluarga."


Ternyata ada hal seperti itu juga.


"Sayangnya kami malah gagal mengalahkan pemimpin serigala iblis dan hanya kami berdua yang hidup, aku rasa dia sudah bergerak kemari."


"Itu buruk jika mereka benar-benar muncul di sini, sebaiknya aku melakukan sesuatu," ucap nona Silia berjalan pergi.


Aku memotong.


"Aku ingin ikut juga nona Silia."


"Meski aku larang kamu pasti akan pergi juga, kalian berdua tetap berada di sini saja untuk beristirahat."


"Terima kasih atas bantuannya dan maaf telah membawa mereka kemari."


"Itu tidak masalah."


Aku baru tahu ternyata nona Silia bisa bersikap keren juga.

__ADS_1


__ADS_2