
Setelah insiden telur naga aku berfikir tidak akan bertemu lagi dengan naga namun sepertinya tidak demikian, aku memejamkan mata dan saat membukanya kembali aku telah muncul di koridor sebelumnya.
Jelas sekali ini semacam ujian hanya untuk sampai ke kamar nona Charlotte, menarik nafas dalam-dalam aku kembali melangkah dengan hati-hati.
Aku terus bersiaga dengan sesuatu yang akan terjadi namun sampai pintu kamar nona Charlotte tidak ada lagi jebakan.
Aku tanpa sadar menarik nafas lega, satu naga sudah lebih dari cukup untuk menghabisi seluruh tenagaku.
"Pintu kepala sekolah akademi pertama, mari lihat apa isinya."
Aku memutar kuncinya dan dalam sekejap mata pintu tersebut terbuka, aku sudah tahu bahwa pintu ini dilindungi sihir karenanya jika seorang itu tidak memiliki kuncinya mereka tidak akan sanggup melakukannya dan adapun jika pintu ini dihancurkan maka serangannya akan diputar balikkan pada orangnya.
Sihir yang merepotkan hanya untuk mencegah seseorang mengetahui isinya, aku masuk lalu menutup pintu kembali.
Dengan mantra api aku menjadikan tongkatku sebagai lilin dan memeriksa area di dekatku.
Ada meja yang berantakan dengan buku-buku berdebu serta beberapa perabotan yang telah usang. Jelas sekali nona Charlotte kurang pandai merapikan sesuatu. Bukan waktunya untuk mengkritik kehidupan orang lain.
__ADS_1
Fokus Anna.
Aku berdiri di depan tempat tidur, dengan mantra Levirus aku mengangkat tempat tidur lalu memindahkannya ke sisi lain, seperti apa yang aku duga ada sebuah jalan rahasia di sana untuk turun ke bawah.
Aku berfikir seluruh tempat akademi ini memang selalu memiliki banyak hal-hal seperti ini. Perlahan dan pasti aku terus mengikuti jalan satu arah ini.
Aku menyalakan obor-obor sepanjang perjalanan.
Dalam hati aku berharap tidak menemukan seekor naga lagi dan tanpa terduga itu menjadi kenyataan, di ruangan yang terlihat seperti altar aku telah menemukan sebuah telur yang diletakan begitu saja di dalam sebuah sarang. Telur tersebut sebesar telur unggas dengan warna merah terang.
Aku tidak bisa pura-pura tidak tahu tentang itu, ini jelas telur Phoenix konon ketika burung ini mendekati ajalnya mereka akan berubah kembali jadi telur dan mengulangi kehidupannya dari awal, mirip dengan keabadian yang dimiliki seekor ular.
Aku berhasil keluar dari kamar lalu berjalan cepat melewati koridor sebelum akhirnya suara menghentikanku, dia adalah tuan Goven yang selalu bertugas mengawasi akademi setiap malamnya.
"Anna Holand apa yang kamu lakukan? Jangan bilang mencari cemilan tengah malam."
"Aku hanya mencari udara segar tuan Goven, dan sepertinya aku telah tersesat."
__ADS_1
Tuan Goven menatapku dengan wajah dingin.
"Karena inilah aku membenci rakyat jelata."
Syukurlah dia tidak tahu, aku bisa menarik nafas lega.
"Kalau tidak ada lagi urusan aku ingin kembali ke kamarku."
Tepat saat aku mengatakan itu tuan Goven menghentikanku dengan satu kalimat.
"Berikan telurnya? Kau tidak tahu apa yang kau ambil itu."
Jantungku terasa berhenti, apa dia sudah tahu apa yang tersimpan di sana. Aku tersenyum masam.
"Apa maksudmu tuan Goven aku tidak mengerti?"
"Jangan pura-pura bodoh, kau pasti masuk ke ruangan nona Charlotte."
__ADS_1
Sial, dia pasti melihatnya.
Aku siap-siap mengeluarkan tongkat hitamku, jika terpaksa aku harus membuatnya hilang ingatan.