
Nama anak ini adalah Bil, dia sebelumnya tinggal di dekat hutan ini namun semenjak kemunculan kabut, desanya terpenjara olehnya dan sekarang ia hanya hidup seorang diri.
"Kamu tidak menerobos kabutnya?"
"Aku tidak berani."
"Itu pilihan bijak."
Mendapatkan pujianku, Bil memandangku dengan heran yang membuatku menjelaskan apa sebenarnya kabut tersebut.
"Kabut yang menyelimuti desamu disebut Aurora, kabut itu berasal dari bebatuan, apa sebelumnya desamu membakar batu berwarna-warni."
Bil tampak mencoba mengingatnya sesaat sebelum dia membuka mulutnya.
"Kami menggunakan bebatuan untuk memanggang daging untuk perayaan desa."
"Maka itulah sebabnya, ngomong-ngomong bagaimana kamu tidak terperangkap di sana?"
"Aku sedang mengambil air di sungai."
Aku bisa mengerti, dia hanya beruntung.
"Bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasinya, berapa lama semua orang terkurung."
"Dua hari."
__ADS_1
"Itu masih baru, kita masih punya kesempatan bahwa mereka masih hidup."
Seseorang yang terkurung dalam kabut itu akan terus terperangkap, yang lebih buruk bahwa ketidakadaan makanan memicu semua orang kelaparan.
Jika sebelumnya mereka akan mengadakan sebuah perayaan jika hanya dua hari pasti mereka masih baik-baik saja.
"Bawa aku ke desamu."
"Baik."
Dan begitulah aku akhirnya sampai di tempat yang dimaksud, seperti yang aku duga hanya warna putih yang tampak di depan wajahku.
Aku mengeluarkan sebuah tongkat, mengirimkan sebuah mantra tertentu hingga kabut itu mulai menipis secara perlahan, menampilkan deretan rumah serta orang-orang yang hanya duduk tanpa melakukan apapun.
"Kalian semua, syukurlah kalian masih hidup."
"Aku hanya kebetulan bertemu dengannya, penyihir ini namanya Anna Holand, ia mantan siswa akademi."
Semua orang pada akhirnya memberikan ucapan terima kasih padaku, ini cukup canggung terlebih saat mereka membuat pesta besar-besaran untukku.
Sekarang aku tahu seperti apa desa ini. Mereka suka perayaan.
Dalam kesempatan tersebut aku menanyakan soal keberadaan monster-monster yang aku buru.
"Jika ingin tahu keberadaan monster-monster lebih baik Anda pergi ke kota Home. Di sana merupakan tempat tinggal para Hunter."
__ADS_1
"Hunter?" tanyaku memiringkan kepala.
Itu istilah yang jarang aku dengar sejauh ini.
"Kota itu diperuntukkan sebagai tempat bagi orang-orang yang berburu monster."
"Jangan bilang bahwa monster-monster berguna bagi manusia?"
"Bukannya itu sudah pasti, kulitnya bisa digunakan sebagai pakaian, dagingnya ada yang bisa dimakan dan lain-lain."
Untuk pertama kalinya bahwa apa yang telah aku buat ternyata bisa berguna juga.
Keesokan paginya setelah berpamitan aku melanjutkan perjalanan.
Kota Home, aku sekali lagi memeriksa nama tersebut di peta. Aku dengan mudah bisa menemukannya dengan tulisan kecil.
"Di sini kah, perjalanan ditempuh dalam waktu tiga hari jadi kurasa aku tidak perlu terburu-buru untuk sampai."
Aku terkadang tidur di hutan, di padang rumput bahkan aku juga tidur di atas pohon sesekali.
Hal-hal seperti ini bagiku bukan pertama kalinya, saat era perburuan penyihir aku bisa selamat karena melarikan diri di hutan. Di sana aku cukup lama terjebak dan sejak itu aku bisa hidup di dalam hutan walaupun tidak membawa perbekalan apapun.
Aku mengambil air dari mata air lalu meminumnya di telapak tanganku, air yang segar jatuh ke bawah tenggorokanku yang segera menghilangkan kelelahan.
Aku mengambil apel lalu menggigitnya.
__ADS_1
Seharusnya aku sudah sampai saat ini.
Tepat saat matahari menerpa wajahku, aku bisa melihat kota yang dimaksud.