Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 67 : Dua Nama (End)


__ADS_3

Aku mengajak Roa dan Vanesa untuk mendaki pegunungan, kami memiliki banyak waktu luang karenanya hal ini tidak masalah bagi kami semua.


"Bukannya kita bisa terbang saja? Aku sedikit lelah mendaki."


"Ayolah Roa, kamu maupun Vanesa selalu menghabiskan banyak waktu di rumah sesekali jalan-jalan seperti ini bukan hal buruk juga, lihat Vanesa juga tidak masalah."


Kami mengalihkan pandangan ke arahnya yang terlihat akan pingsan kapanpun.


"Aaah, mari istirahat sebentar."


Aku segera mengatakannya agar dia bisa sedikit bernafas, terlalu sedikit bergerak akan membuatmu seperti ini.


Kami minum air dingin untuk meredakan kelelahan. Agar lebih dingin aku menciptakan bongkahan es di tanganku yang bisa dimasukkan ke gelas kami.


"Jauh lebih baik."


Tanaman yang akan kami ambil berada di puncak gunung itu, itu merupakan tanaman semacam bunga menyerupai lili, bunga ini bisa ditanam di rumah dengan kondisi dingin, berhubung aku bisa menggunakan sihir es maka hanya membuat sebidang tanah tertutup maka kami bisa menanamnya.


Setelah 30 menit beristirahat kami melanjutkan perjalanan, kami mulai menginjak sesuatu berwarna putih dan dingin, ketika mengalihkan pandangan kami benar-benar bisa melihat awan tebal yang menutupi sekitar.


Syukurlah kami segera mengenakan pakaian hangat serta beruntung bahwa tidak turun salju di sini.


Vanesa menancapkan bendera yang entah dia dapat dari mana.


"Kita orang pertama yang mendaki gunung ini."


Faktanya kami perlu tiga hari untuk melakukannya. Bagian sulitnya adalah dimulai dari sini, tanaman tersebut kerap tertutup salju karenanya kami harus menggali sedalam lutut dan melihat apa kami menemukannya atau tidak.


Roa menjadi orang yang pertama yang menemukannya disusul Vanesa baru setelahnya aku. Seiring waktu kami bisa mendapatkan sekitar 20 tanaman, kurasa ini sudah cukup dan kini waktunya kami kembali.

__ADS_1


Menggunakan sihir teleportasi kami kembali ke rumah, tidak ada waktu beristirahat karenanya kami segera menanam tanaman tersebut setelah menyesuaikan bagaimana habitat mereka hidup.


Dengan ini tanaman ini akan mulai tumbuh dan kemudian bertambah banyak.


Keesokan harinya kami mulai mengumpulkan sisanya, tidak seperti yang pertama tanaman berikutnya hidup dengan normal.


Sekilas itu mirip rumput namun jika diperhatikan ujungnya memiliki warna keunguan. Yap inilah yang harus kami kumpulkan berikutnya.


Kami berpindah dari padang rumput satu ke padang rumput lainnya, setiap tempat hanya ditumbuhi beberapa saja yang membuatnya sangat merepotkan untuk dicari.


Aku bisa merasakan sakit di pinggangku.


Roa dan Vanesa juga mengalami hal sama, saat kami sudah selesai kami hanya membaringkan tubuh kami di rumput dan baru keesokan paginya baru kami menanamnya.


Tanaman ini cukup kuat karenanya hal itu bisa dilakukan.


Tanaman ini mirip bunga mawar yang setiap batangnya berduri, hanya bagian bungannya saja yang digunakan sebagai bahan obat, sisanya beracun.


"Ah tidak, aku tertusuk duri."


Roa langsung jatuh ke tanah tanpa daya.


"Sepertinya aku akan mati Vanesa."


"Tidak, kamu tidak boleh mati... Roa."


Aku menatap keduanya dengan pandangan bermasalah. Padahal racunnya hanya berefek tiga menit saja setelahnya tubuh akan kembali ke kondisi semula.


Karena inilah tanaman ini yang paling jarang dibudidayakan siapapun.

__ADS_1


Ketika segala sesuatunya sudah selesai kami hanya memiliki kehidupan damai di hutan terlarang di hari berikutnya dan berikutnya.


"Roa, tolong atur kursi di sana juga."


"Baik."


"Aku akan bantu membawa makanan juga."


Hari ini adalah hari yang spesial bagi kami semua, yaitu kami akan membuat pesta untuk menyambut kelulusan Marick dan Sarah, aku berpikir mungkin saja kami akan jarang bertemu mulai sekarang.


Ketika mereka datang Sarah memelukku dengan erat, adapun Marick berdiri dengan teman sekamarnya bernama Jean tersenyum kecil.


"Halo."


"Kalian sudah datang, masuklah dan Sarah berhentilah memelukku."


"Tapi aku ingin melakukannya lebih lama lagi."


"Apa boleh buat."


"Ngomong-ngomong aku akan tinggal di sini juga, aku memutuskan untuk bergabung dengan aliansi penyihir."


"Aku pikir kamu tidak akan bisa melakukan itu."


"Curang sekali."


Sekarang masa depan bagiku adalah sesuatu yang sulit aku tebak. Meski begitu, aku rasa itu akan menjadi kehidupan yang menyenangkan.


Merlim Ratmir ataupun Anna Holand aku bisa hidup dengan dua indentitas tersebut mulai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2