
Seperti janji kami, kami telah memberikan telur tersebut pada sang naga, dia mengatakan bahwa naga telah menemukan tempat tersembunyi di dunia ini, setelah ini tidak ada siapapun yang akan menemukan mereka.
Jadi kemungkinan besar hanyalah saat inilah manusia bisa melihat naga lagi walau demikian itu lebih baik dibandingkan terjadi konflik di antara keduanya. Sang naga menggigit tangannya sendiri lalu dari sana setetes darah menetes yang jatuh ke dalam gulungan kertas yang kubentangkan.
Perlahan kertas yang kosong tersebut menampakan dirinya sendiri yaitu sebuah wilayah dari dunia ini.
Itu berakhir di sebuah pulau yang jauh dari daratan.
"Sepertinya itu tempat yang jauh, kalau tidak keberatan aku bisa membawa kalian ke sana."
"Kami sangat berterima kasih jika kamu mau melakukannya."
Mengendarai sapu ke sana jelas sangat melelahkan beruntung bahwa naga ini juga mau membantu. Aku berteriak senang sedangkan Sarah dan Marick ketakutan.
"Terlalu cepat, terlalu cepat."
"Ini sama seperti naik di wahana hiburan."
"Tidak Anna, ini lebih mengerikan."
Kami menembus awan di langit sebelum jatuh ke bawah, sensasi itu yang membuatku senang.
Di sisi lain kedua temanku sudah memucat bahkan saat kami mendarat di pasir yang lembut mereka gemetaran.
Aku melambaikan tangan ke arah naga yang pergi dengan kaki mencengkeram telur sebelum beralih pada mereka.
__ADS_1
"Ayolah teman-teman yang tadi bukannya menyenangkan."
"Aku tidak berfikir demikian, gawat aku akan muntah."
Marick telah pergi ke belakang batu untuk muntah sementara Sarah berkunang-kunang, aku rasa kami memang harus berisitirahat sebentar.
Aku memutuskan untuk melepaskan alas kakiku lalu membiarkannya menyentuh air laut yang dingin.
Pertama mari temukan sesuatu yang akan kami makan hari ini, aku mengangkat tongkat putih lalu berteriak.
"Ekpentrum."
Petir menyambar laut dan dalam sekejap ikan-ikan mati terbawa arus dan aku hanya memungut mereka sebanyak yang aku suka sebelum memberitahukannya dan menjadikannya sate yang aku panggang di api unggun.
"Rasanya isi perutku keluar semua."
"Panas, panas."
Aku juga memberikan bagian untuk Sarah.
Sepertinya dia sudah membaik dari sebelumnya.
"Lalu kemana lagi kita bergerak?"
Aku sekali lagi memeriksa peta dan jelas itu menunjuk ke arah bangunan Piramida yang ada di tengah pulau ini.
__ADS_1
"Kurasa ini mirip seperti dungeon atau sebagainya?"
"Aku tidak suka dengan hal-hal seperti ini lagi."
Aku segera menghentikan rengekan Marick.
"Kalian mendengar sesuatu, rasanya ada sesuatu dari arah belakang kita."
Aku ingin memastikan apa itu? Tapi Sarah sudah lebih dulu berteriak sambil berlari ke depan.
"Lari!"
Kami berdua mengikutinya dan akhirnya tahu apa yang sebenarnya telah mengejar kami, itu adalah sebuah jebakan klasik yang sering ada di film-film.
Benar, kami dikejar sebuah batu raksasa.
Piramid ini tidak naik ke atas melainkan turun ke bawah.
Di depan kami ada sebuah jurang yang di bawahnya terisi batu-batu tajam yang mengerucut.
"Gunakan Levirus kalian."
Atas pernyataanku kami berhasil melayang lalu berdiri di sisi lain, sedangkan batu itu telah terjatuh ke bawah.
"Hal-hal seperti ini selalu membuat jantungku copot."
__ADS_1
"Aku juga merasa begitu, bahkan aneh rasanya kita masih hidup sejauh ini," tambah Marick.
Bagiku yang menyukai buku-buku petualang dan horor hal seperti ini sangatlah menyenangkan.