
Aku dan yang lainnya telah mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Tuan Goven melihatku dengan tatapan curiga.
"Tidak ada kenakalan hari ini nona Anna Holand?" katanya.
"Jangan khawatir tuan Goven sekarang aku jadi murid yang baik, ngomong-ngomong kapan kita berlatih sihir ledakan atau semacamnya?"
"Itu masih lama untuk kalian."
Setelah selesai kami menunggangi sapu untuk pergi ke gua yang sebelumnya ditunjukkan oleh unicorn, dengan alasan permintaan mengumpulkan herbal dari nona Silia kami bisa leluasa kemana saja sekarang.
Kami telah memasuki gua dan yang menyambut adalah sebuah taman bunga dengan seorang berdiri di tengahnya.
Yap, dia adalah nona Charlotte, pendiri akademi.
"Owh, kalian... sudah lama bukan."
"Maaf kami tidak sering berkunjung tapi kami memiliki hal yang harus diberikan."
Aku memberikan sebuah surat kemudian sebuah kotak yang didalamnya ada cincin, aku sudah membacanya sekilas di dalamnya hanya permintaan maaf serta ungkapan hatinya.
Nona Charlotte tersenyum dengan air mata mengalir di wajahnya.
"Aku rasa dia sangat berjuang keras untuk kembali," potongku demikian.
"Itu lega karena dia tidak berusaha meninggalkanku, sekarang aku bisa pergi."
Nona Charlotte keluar dari taman tersebut dan kami hanya mengikutinya dari belakang. Aku ingin menanyakan soal kepala sekolah yang sekarang tapi sepertinya itu bukan waktu yang cepat.
"Anna mampirlah ke ruanganku dan lihat apa yang ada di bawah tempat tidurku."
__ADS_1
"Apa ada sesuatu?"
"Kamu akan tahu nanti."
Itu menjadi pembicaraan kami yang terakhir sebelum akhirnya nona Charlotte benar-benar menghilang.
"Mungkinkah dia memberikan warisan untuk Anna?"
"Kurasa bisa saja, misal Anna akan jadi pemilik akademi yang baru atau sebagainya."
"Sarah itu terlalu berlebihan."
"Aku cuma menebak saja."
"Sebelum kembali sebaiknya kita segera mengumpulkan herbal... kudengar Minggu depan ada festival lampion di kota terdekat, kita akan menabung uangnya untuk pergi ke sana."
Marick melompat gembira sedangkan Sarah menunjukan senyuman lebar.
Aku sebelumnya sudah berjanji akan membawa mereka jalan-jalan karenanya kurasa ini waktu yang tepat, sesampainya di gerbang akademi seorang yang tidak ingin aku temui telah berdiri di sana.
Tuan Goven adalah orang kedua yang tidak ingin aku temui dan yang nomor satu tentu saja nona Helena Everclaw.
Sebelumnya aku terlibat kasus dengannya.
"Anna?"
"Kalian duluan saja, sepertinya nona Helena punya bisnis untukku."
"Kamu cepat tanggap."
__ADS_1
Kami menunggu Sarah dan Marick pergi sebelum memulai obrolan, aku yang lebih dulu mencairkan suasana.
"Sepertinya Anda sehat-sehat saja nona Helena, aku harap ada tidak menaruh dendam padaku."
"Setelah diperlakukan seperti itu, sulit untuk tidak merasakannya.. di sini cukup banyak orang, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih sepi?"
Dia jelas akan membunuhku.
"Aku kehilangan kesempatanku menjadi penyihir api terkuat dan reputasiku kian menurun apa menurutmu aku baik-baik saja?"
Aku ingin bilang itu salahnya sendiri tapi aku berusaha menahan diri.
"Memangnya kenapa Anda begitu terobsesi dengan menjadi kuat?"
"Kota tempat tinggalku telah terendam oleh air, hanya dengan sihir api kuat... itu bisa menguapkannya hingga kami bisa menepatinya kembali, singkatnya Oliheim yang melakukannya."
"Jadi begitu, kamu tahu nona Helena ada cara yang lain untuk memperkuat sihir apimu dan di akademi hanya aku satu-satunya yang tahu, bisa dibilang sebuah ramuan tapi tentu itu bukan sesuatu yang begitu saja terjadi, ada efek samping dan juga hanya bisa digunakan satu kali saja, bagaimana?"
Nona Helena tertawa.
"Apa kamu menipuku?"
"Tidak juga."
Aku menunjukan sebuah buku sihir yang membuat mata nona Helena terbelalak.
"Siapa kamu sebenarnya? Bukannya itu buku sihir terlarang."
"Anda tahu banyak rupanya."
__ADS_1
Buku ini buku yang aku bawa saat datang kemari.