Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 49 : Hutan Misterius


__ADS_3

Setelah kegembiraan menyeleksi ujian dengan nilai memuaskan, kami juga memiliki ujian berbeda yang harus kami lakukan, di tanganku sebuah peta telah menunjukkan arah tertentu dan sayangnya itu merupakan jalan buntu.


"Anna kamu yakin ini tempatnya?" tanya Sarah.


"Tidak salah lagi, walaupun apa yang digambar di peta jelas berbeda."


Di depan kami hanyalah sebuah ngarai dalam, tanpa apapun yang benar-benar tidak terlihat seperti peti harta karun. Sebelumnya kami telah menemukan sebuah tangan sekarang bagian terpenting selanjutnya adalah kepala.


Marick memucat saat aku tersenyum jahat.


"Jangan bilang kita harus turun ke bawah?"


Tanpa menjawabnya aku menaiki sapu dan turun ke bawah.


"Kita juga."


"Aku tidak mau, aku akan menunggu."


Sarah menarik Marick dan turun mengikutiku dari belakang, kami menembus sebuah kabut dan saat aku sadari kami malah berada di dalam hutan.


"Apa-apaan ini? Semuanya jadi membingungkan."


Aku setuju dengan apa yang dikatakan Marick.


"Mungkinkah Anna, kita masuk ke tempat aneh lagi."


"Kemungkinan begitu tapi dari sini gambaran petanya sesuai."


Itu yang aku rasakan.


Kami memutuskan berjalan dari sini, melewati bebatuan dan semak-semak, kemudian akhirnya aku menyadari sesuatu.


"Kita tersesat."

__ADS_1


"Aku memang baru menyadarinya tapi sepertinya kita terus berputar, aku sebelumnya membuat tanda namun tanda itu juga menghilang."


"Sarah jangan bercanda di saat seperti ini, kau tahu ini tidak lucu."


"Kau ini penakut, lepaskan tanganku."


"Aaah."


Hutan ini jelas memenjarakan kami.


Aku diam memikirkannya lalu berkata setelah memiliki ide yang cukup ekstrim.


"Mari bakar hutannya, dan lihat apa ada sesuatu yang akan keluar."


Sarah dan Marick memiringkan kepalanya walau begitu mereka tetap melakukan apa yang aku minta. Hutan terbakar hebat dan aku tertawa di antaranya.


"Hahaha, bakar, bakar."


"Apa-apaan kalian ini? Berhenti membakar hutannya."


"Kami perlu melewati hutan ini, jadi kami harus membakarnya."


"Hentikan, aku menyerah... aku akan menunjukan jalannya."


Aku mengangguk ke arah Sarah dan ia mengubah sihirnya dari api ke air, begitu juga Marick.


Sementara makhluk kecil tersebut berlutut karena merasa lega aku menangkapnya di tanganku.


"Hentikan, apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya membuatmu untuk tidak kabur."


"Dasar gadis jahat."

__ADS_1


"Kau juga jahat loh."


"Aku hanya melakukan tugasku."


Sarah dan Marick mendekat untuk menyentuh makhluk yang aku pegang.


"Gadis berukuran mini, cukup langka."


"Aku yakin belum ada penelitian yang menjelaskan tentangnya."


"Kalian membuatku takut, pokoknya kalian ingin keluar dari hutan ini bukan, aku akan menunjukan jalannya."


Kami mulai berjalan sesuai yang ia tunjukkan.


Tentu saja aku tidak berniat untuk menurunkan kewaspadaanku terhadapnya.


"Jadi kamu ini disebut makhluk apa?"


"Pixy, kami tinggal di dalam hutan. Kebetulan hanya aku yang tinggal di sini."


"Kenapa kamu tinggal di sini?" tanya Sarah dan aku memotong.


"Untuk menjaga peti."


Tepat saat Pixy tersebut mengatakannya sulur pepohonan menangkap kaki kami lalu menariknya ke atas, aku dan Sarah memegangi rok kami agar tidak turun dan Marick bersemangat akan sesuatu yang bodoh.


"Owh, ini pemandangan bagus."


Aku tahu Sarah ingin menyihirnya sayangnya dalam posisi ini sulit untuk melakukannya, di sisi lain Pixy tersebut tertawa.


"Haha aku tahu kalian menginginkan benda itu bukan, tapi sayangnya aku tidak akan begitu saja membagikannya, rasakan mimpi buruk kalian dilecehkan oleh tentakel."


Sungguh mengerikan untuk membayangkannya.

__ADS_1


__ADS_2