
Terjadi kesalahpahaman di sini, yang kami anggap mereka akan melukai Marick ternyata mereka hanya ingin membebaskannya. Mereka adalah bangsawan elit dari suku Utara, karena itulah mereka semua memiliki rambut perak.
"Namaku Frizel... aku senang melihat seorang memiliki rambut perak dari luar suku."
"Tolong berhenti memainkan rambutku."
Aku sedikit bersyukur bahwa mereka bukan merupakan Oliheim.
"Jadi nona Frizel kenapa Anda berada di sini? Aku yakin bukan sama seperti kami yang berusaha menangkap sapu terbang bukan?" tanyaku yang dijawab anggukan kepala.
"Benar, beberapa hari lalu wilayah kami diserang orang kawanan serigala iblis... kami mengejarnya sampai ke wilayah ini."
"Apa harus melakukannya sejauh itu?"
"Mereka makhluk yang ganas kami tidak bisa membiarkannya lolos begitu saja, mungkin saja dia mengincar desa-desa dengan pertahanan lemah."
Mereka terlalu baik hingga mementingkan orang lain juga. Anak buahnya yang telah berkeliling telah kembali untuk melaporkan pengamatannya.
"Kami menemukan jejak serigala tersebut nona, mereka menunju desa paling dekat di barat."
"Kalau begitu kita akan pergi, jaga diri kalian kuharap siswa akademi bisa sedikit menahan diri untuk tidak sering keluar."
Aku tertawa ragu.
Aku ingin melihat bagaimana mereka bertarung namun aku yakin Sarah dan Marick sudah lelah dan kami juga perlu segera kembali sebelum matahari terbenam jadi aku putuskan melakukan yang lebih utama dulu.
__ADS_1
Karena sudah tiga sapu kami pulang. Keesokan harinya kami mencoba sapu-sapu liar itu ketika memiliki kesempatan.
Marick bergerak seperti roket.
"Sapu ini benar-benar hebat, ini lebih cepat dari yang aku bayangkan."
"Cepat bukan berarti kita bisa menang, pikirkan lagi peraturannya."
"Kita bisa menjatuhkan lawan dengan sihir apapun."
Sarah dan Marick sedang mengobrol sedangkan aku berusaha berdiri di atas sapuku, itu sulit dilakukan tapi menjadi terbiasa saat sering dilatih.
"Kurasa hanya Anna yang bisa melakukannya."
"Aku juga setuju, Anna apa kamu punya rencana untuk menjatuhkan pesaing?" tanya Marick.
"Itu sangat berbahaya."
"Kalau demikian kita bisa membuat senjata sendiri yang bukan sihir kurasa."
Sarah diam memikirkannya.
"Hal itu juga bisa kita lakukan, kita hanya perlu ransel."
Saat perlombaan itu tiba, kami telah berada di garis star bersama peserta lainnya, kami naik ke atas sapu dan ketika kembang api ditembakkan ke udara kami meluncur bersamaan.
__ADS_1
Yang mengikuti lomba ini sekitar 100 orang jadi ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan, aku menyalip beberapa orang di depan dan di saat yang sama dua temanku mengikuti dari samping.
"Apa-apaan itu, kenapa mereka sangat cepat?"
"Tidak hanya cepat kami juga punya senjata khusus untuk kalian."
Mereka menembakan sihir dan kami memblokirnya dengan sihir pelindung sebelum mengeluarkan senjata yang berada di ransel kami, itu adalah bom asap, ramuan busuk serta ramuan lainnya yang bisa kami buat di rumah kaca nona Silia.
"Aaahhh...."
Mereka berjatuhan di lumpur.
Beberapa bisa melewatinya dan membalas dengan banyak sihir.
"Aku yang akan menjatuhkannya."
Marick meluncur ke arahnya lalu menendang tubuh orang itu jatuh.
"Dia bisa berlaku kejam juga," kataku lemas.
Beberapa orang di depan kami menggunakan sebuah jebakan yang menggunakan sihir ilusi, dengan kemampuan Sarah kami bisa melewatinya dan lalu kembali bergerak.
"Sial, kenapa mereka bisa melakukan itu."
Kami menabrak mereka hingga jatuh hingga akhirnya kami bertiga menjadi juaranya. Nona Silia dan kepala sekolah terlihat berdiri untuk memberikan tepuk tangan meriah sementara tuan Goven masih tersenyum masam.
__ADS_1
Dia masih menyukai bangsawan elit yang bisa menang.