
Marick memang bisa diandalkan di saat tertentu.
Aku beralih memperhatikan para pemburu yang terus bertarung, beberapa sudah mati dan hanya dengan menghitung jari aku bisa menghitung berapa yang masih hidup.
James kehilangan satu tangannya sementara tangan lain masih kuat memegang pisau, seekor serigala melompat padanya dan hanya satu tusukan itu mengoyak lehernya hingga tewas, di sisi lain wanita berambut bob telah melakukan tugasnya dengan kepala vampir di tangannya.
Mereka bisa disebut sangat brutal dalam bertarung tapi karena itu juga mereka bisa mempertahankan dunia ini.
Dengan ini kurasa kami sudah bisa pulang.
Aku dan James saling berjabat tangan.
"Terima kasih untuk bantuannya, dengan ini aku rasa mereka sudah tidak ada lagi."
Wanita berambut bob memukul bahunya.
"Ini belum selesai, jangan sampai lengah."
"Dia memang sangat waspada."
Aku bisa mengerti itu, dunia sihir masih ada dan selama para Oliheim masih tersisa di sana vampir dan serigala tidak sepenuhnya pergi.
Kami naik ke dalam kereta dan kembali ke akademi seperti yang dijadwalkan, sesampainya di sana orang pertama yang aku temui tentu nona Silia.
"Anna kuharap kamu tidak melupakan janjimu bukan?"
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa.. lihat ini."
__ADS_1
Aku dengan percaya diri menunjukan sebuah bunga matahari pada nona Silia.
"Jadi ini yang disebut sunflower."
"Benar, bunga ini sangat menyukai sinar matahari."
"Kalau begitu mari tanam mereka."
Bunga ini hanya contoh, aku sudah menyiapkan benih yang bisa kami tanam, tak perlu waktu yang lama, dalam waktu sekejap rumah kaca memiliki taman baru yang dipenuhi bunga matahari.
"Indah sekali"
"Aku tidak berbohong bukan, kalau begitu aku ingin istirahat sekarang.. liburan juga terkadang merepotkan."
"Apa terjadi sesuatu di dunia normal?"
"Tidak ada yang istimewa."
Aku jelas tidak akan mengatakan apapun soal yang terjadi padanya, yang jelas ancaman dari darah terkutuk yang melarikan diri ke dunia normal telah selesai seutuhnya, kini hanya ada satu masalah yang harus diurus.
Yaitu soal peta dan juga siapa sebenarnya aku?
Membayangkan diriku adalah Merlim Ratmir membuat perutku mual.
Sementara Sarah sudah tertidur pulas aku kembali memeriksa potongan tangan yang aku sembunyikan. Tangan ini milik wanita tanpa kepala yang mengirimku ke akademi ini.
Ketika aku memeriksanya lebih teliti tangan itu bergerak.
__ADS_1
Ini sedikit mengejutkan.
"Apa dia ada di sini?"
Aku keluar dari akademi, tepat seperti perasaanku, di taman tepatnya di kursi panjang sosok yang aku maksud duduk di atasnya.
Dia melirik ke arahku walaupun aku yakin dia tidak memiliki kepala.
"Kurasa ini milikmu," kataku demikian.
Aku menyodorkan tanganku dan ia membuka tabung tersebut lalu mengambil potongannya, aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya yang jelas, tangan itu menyatu kembali.
"Sampai kami menemukan kepalamu aku rasa aku tidak akan tahu apa yang kau pikirkan."
Dia menuliskan sesuatu di kertas dengan pena.
(Terima kasih banyak)
"Ini bukan masalah, aku tidak tahu siapa kamu tapi rasanya aku tidak bisa membiarkanmu, apa sebelumnya kita saling mengenal?"
(Aku tidak ingin mengatakannya, tapi ada satu hal penting yang harus disampaikan)
"Apa itu?" balasku singkat.
(Berhati-hatilah dengan kepala sekolah)
Ketika dia menuliskannya ada sebuah gerakan di belakangku namun itu hanya seekor kucing, saat aku kembali menoleh sosok wanita tanpa kepala sudah hilang.
__ADS_1
Hati-hati kah? Kata yang disampaikannya padaku adalah sebuah peringatan.