Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 62 : Monster Pertama


__ADS_3

Di gerbang masuk kota aku menunjukan gambar yang aku buat, meski sedikit jelek yang terpenting orang masih bisa mengenalinya dengan baik.


Karena tempat ini dekat dengan air maka monster ini yang sangat diprioritaskan.


"Gambarnya jelek," kata salah satu orang menilai.


"Ayolah, yang terpenting apa kau pernah melihatnya?"


"Ikan raksasa dengan wajah manusia, tidak pernah tuh."


"Terima kasih."


Aku memutuskan untuk pergi ke dalam kota, bangunan kota ini sendiri memiliki banyak warna putih, jika melihat di bawah kakiku semua pijakan dibuat dari marmer berwarna serupa.


Orang-orang di sini aku rasa punya kesukaan sama terhadap warna. Aku sedikit lapar jadi mari makan sesuatu di sini. Aku mengunjungi kedai dan memesan beberapa daging panggang serta kepiting rebus saus kecap.


Mereka dekat dengan air maka makanan seperti ini pasti tersedia, melihat sebanyak apa aku memesan, pelayan sebelumnya sedikit terkejut.


Aku bisa menghabiskannya jadi bukan masalah.


Aku mulai dengan daging kemudian baru sisanya, rasanya memang enak.


Tepat saat aku membayar tagihan seorang berlari dengan panik. Di tubuhnya dipenuhi darah segar.

__ADS_1


Apa dia membunuh seseorang di jalanan?


"Temanku dimakan ikan raksasa, kalian semua jangan sampai menyentuh air!"


Aku berjalan padanya mengambil selembaran yang aku tunjukkan padanya.


"Apa bentuknya seperti ini?"


"Benar, dia memiliki wajah seperti manusia."


Maka tidak sia-sia aku datang kemari, di pinggiran kota aku berdiri di saksikan banyak orang yang menontonku, di bawah kakiku adalah danau yang luas. Siapapun yang melihatnya mereka pasti akan berfikiran seberapa dalam tempat ini.


Tanpa menunggu lagi aku menjatuhkan diriku ke air, sensasi dingin dapat kurasakan menembus diriku. Seharusnya dia akan muncul saat mengetahui ada manusia yang jatuh ke dalam air.


Dari kejauhan aku bisa melihat bayangan hitam yang meluncur dengan kecepatan tinggi.


Ketika ia membuka mata gigi berjeruji layaknya piranha adalah hal yang bisa disaksikan.


"Tidak sekarang."


Aku mengayunkan tongkatku dan dalam sekejap seluruh air di sekelilingku membeku, aku bisa berenang ke atas dan melihat semua orang yang menyaksikan terkejut.


"Apa sihir bisa sekuat itu?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi yang jelas ikannya terlihat membeku."


Untuk amannya aku menaikan ikan tersebut lalu membakarnya hingga mati, satu monster berhasil dikalahkan dan tinggal sembilan lagi.


"Kalian benar-benar tidak ingin membeli ikan ini, aku akan menjualnya."


"Tidak ada yang ingin melakukannya, khususnya karena dia sudah gosong dan memakan orang."


Sayang sekali aku pikir aku bisa sedikit mendapatkan recehan. Aku membuka mulut ikan tersebut lalu menarik sebuah tangan dari dalam sana.


Dia sudah mati tapi paling tidak ada sesuatu yang bisa dikuburkan untuknya.


Aku meninggalkan kota tersebut secepatnya setelah menerima informasi tentang kemunculan monster berikutnya dari seorang pedagang.


Menaiki sapu terbangku aku melihat padang rumput landai di bawahku yang diisi berbagai bunga serta serangga kecil.


Jika sekilas diperhatikan ini memang terlihat seperti di dunia lain. Aku mendarat di depan seorang anak kecil yang meringkuk sendirian di tengah hutan.


"Kamu baik-baik saja?"


Dia tidak menjawabnya melainkan memegangi perutnya.


"Aku belum makan sesuatu beberapa hari ini."

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu mau ini?"


Aku memberikan seluruh perbekalan yang aku bawa di tasku.


__ADS_2