Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 64 : Kota Home


__ADS_3

Itu merupakan kota besar dengan tembok tinggi mengelilinginya, aku tidak tahu bagaimana mereka membangunnya yang jelas itu terlalu besar untuk dikatakan.


Bangunannya terlihat elit serta beberapa kereta yang ditarik kuda berlalu lalang di jalannya, aku bisa melihat para penyihir serta pedagang membaur satu sama lain dan tidak terkecuali seorang Hunter, jika diibaratkan mereka terlihat seperti seorang tentara bayaran dengan senjata melekat di tubuh mereka.


Untuk para gadis biasanya menggunakan pakaian yang membuat mereka tidak kesulitan bergerak, penyihir juga beberapa bergabung dengan mereka.


Penggambaran yang aku katakan hanya menjelaskan bagaimana kota ini terlihat maju dari orang-orangnya serta bagaimana keadaannya satu sama lain. Tidak ada kawasan kumuh terlebih orang-orang yang di jalanan semuanya rata satu sama lain.


"Ara, apa Anda ingin bergabung di guild?"


Aku baru memasuki tempat para Hunter berkumpul dan seorang resepsionis menyambutku dengan perkataan demikian.


"Aku hanya ingin bertanya keberadaan monster-monster ini."


Aku dengan santai menunjukkan hasil karyaku yang membuatnya memucat.


"Gambarnya seperti monster sesungguhnya."


"Berisik, aku ingin tahu keberadaannya dan juga apa beberapa sudah dikalahkan atau belum?"


Resepsionis menunjukkan wajah jahilnya.


"Sayang sekali infomasi kami sangat rahasia, jika Anda ingin tahu maka Anda harus bergabung dan menjual monster-monster ini pada kami."


Aku menjatuhkan bahuku lemas, jelas sekali akan seperti ini. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bergabung. Setelah mengisi formulir ia mulai pergi untuk memeriksanya.

__ADS_1


"Dari keseluruhannya hanya tinggal sisa lima lagi."


Dia menunjukkan gambar monster yang lebih bagus dari yang aku miliki.


"Ah soal, ikan manusia ini aku sudah menghabisinya di kota air."


"Yang benar? Lalu tubuhnya?"


"Sudah aku buang."


"Sayang sekali jika Anda memberikannya pada kami itu bisa diberikan imbalan."


Aku tidak terlalu membutuhkan uang tapi jika demikian itu memang pilihan bagus.


"Jadi hanya tersisa empat, semua monster ini telah dikonfirmasi keberadaannya maka akan mudah ditemukan tapi bukan berarti orang yang berburunya akan dengan mudah mengalahkannya."


"Semuanya? Sendirian?"


"Tentu."


"Tapi mereka cukup sulit ditaklukkan bahkan harus memiliki regu dengan banyak orang untuk bisa melakukannya."


"Tidak perlu khawatir, aku cukup kuat."


Setelah menerima semua alamatnya aku akhirnya bisa meninggalkan kota ini, tadinya aku ingin sendirian sayangnya resepsionis sebelumnya malah ikut denganku, dia masih mengenakan seragamnya serta membawa ransel di punggungnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?"


"Tentu saja mengawasi, kamu juga perlu laporan saat monster-monster bisa dikalahkan."


"Ini bukan petualangan yang bisa dilakukan oleh gadis sepertimu."


"Walau begini-begini aku juga kuat."


Aku menghela nafas panjang, mungkin memang seperti itulah peraturannya.


Aku menaiki sapu terbang dan dia duduk di belakangku.


"Ngomong-ngomong Mira, siapa yang telah menghabiskan sebagian monster tersebut?"


"Menurut dokumen itu seorang bernama nona Silia, tapi semenjak yang mengalahkan yang terakhir ia dikatakan menghilang."


Sebenarnya ia guru di akademi.


Kemungkinan dia melakukannya karena iseng atau mencoba menghabiskan waktu luangnya.


"Karena empat monster ini jauh dari pemukiman kami tidak benar-benar mencarinya, tapi tetap saja akan buruk saat mereka berubah menjadi ancaman suatu hari nanti."


"Itu benar, karena itulah aku memburunya juga sebagai bentuk tanggung jawab."


"Tanggung jawab?"

__ADS_1


Dia memiringkan kepalanya seolah tanda tanya muncul di atas kepalanya, selain apa yang aku katakan aku tidak berniat menjelaskan apapun padanya.


__ADS_2