
Kami keluar dari perpustakaan dan bertanya lagi pada Jean.
"Kamu yakin?"
"Tidak salah lagi, ini adalah kertas kuno.. kamu harus bisa memahami tulisannya agar kamu tahu apa ini."
Kami beruntung bisa mengenal Jean, untuk lokasi naga kami telah mendengar rumor tertentu sejak lama karena itulah ketika hari libur kami bergerak ke sana.
Kami bertiga mengendarai sapu terbang kami, sampai Marick memberikan usulan.
"Mari bertarung siapa yang lebih dulu tiba di sana."
"Kamu yang mengatakannya, apa kamu pikir bisa mengalahkanku."
Sarah dan Marick mereka telah melesat maju, untukku aku tidak terlalu tertarik melakukan hal seperti perlombaan walau demikian aku masih memacu sapuku agar kami tidak terpisah satu sama lain.
Sarah dan Marick menembus awan sebelum bermanuver di udara beberapa kali. Jika perlombaan Runer dimulai aku yakin mereka bisa mendapatkan posisi bagus di sana.
Setelah cukup lama bersaing, Marick lebih dulu sampai dari Sarah.
Itu mengejutkan baginya ataupun bagi diriku.
"Aku jauh lebih cepat bukan."
"Lain kali tidak."
__ADS_1
Marick mungkin tipe orang yang lambat di darat namun cepat di langit, aku rasa demikian. Kami kini berada dia sebuah pegunungan terjal dengan bebatuan yang sulit untuk ditembus. Kami tidak menggunakan sapu melainkan hanya mantra melayang sebelum akhirnya menemukan gua yang dimaksud.
Dikatakan naganya berada di dalam sana.
Yang harus digaris bawahi kami tidak berniat membunuhnya, hanya memerlukan sedikit darah untuk mengetahui isi peta ini.
Kami berjalan masuk hingga sampai disebuah tempat mirip altar yang sekelilingnya merupakan lava panas.
Tepat saat kami bertiga menginjakkan kaki sesuatu keluar dari lava panas dan mendarat di depan kami.
Itu adalah seekor naga berwarna merah terang dengan mulut menyemburkan nafas api.
"Jangan bercanda, kita harus melawan makhluk seperti ini."
Kami berlari untuk keluar dari dalam gua, sayangnya naga itu terbang lalu mendaratkan keempat kakinya di hadapan kami. Dia jelas sengaja untuk menutup jalan keluar.
Bahkan naga tersebut seolah tidak peduli pada dua temanku yang lain.
"Di sini bodoh... aku ada di sini, Ignium."
Marick melakukan hal konyol meskipun itu pada akhirnya berbuah kegagalan, di sisi lain Sarah mengirimkan mantra Ekpentrum namun gagal juga.
"Kau benar-benar membenciku?" kataku ke arahnya.
Naga itu menyodorkan taringnya ke arahku yang terpojok, satu langkah lagi aku bisa terjatuh ke lava yang membara.
__ADS_1
Di luar dugaan naga tersebut membalas pernyataanku.
"Aku tidak melupakan aroma ini, aroma yang sangat terkutuk... meski kau menyembunyikan penampilanmu aku tahu kau Merlim Ratmir."
"Kamu mungkin salah paham tapi aku ini adalah orang yang berbeda."
Naga itu mendengus mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya.
"Jika aku Merlim Ratmir seharusnya aku mengingatnya tapi aku tidak ingat satu pun."
"Aneh, sepertinya kau benar-benar tidak berbohong."
Sarah ikut menimpali bersama Marick.
"Itu benar."
"Sebaiknya berhenti membuat Anna terdesak."
"Kau sungguh berani anak muda."
Ditatap oleh mata sang naga, Marick yang sebelumnya disebut berani segera bersembunyi di punggung Sarah yang dengan tongkat menunjukkan kesiapan.
"Lupakan saja apa yang aku katakan, lalu kenapa kalian datang kemari? Tergantung jawaban kalian aku mungkin tidak akan membunuh kalian semua.
Aku menunjukkan peta pada naga tersebut dan berkata.
__ADS_1
"Kami memerlukan darahmu untuk ini."