Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 50 : Sebuah Jawaban


__ADS_3

Jadi aku membakarnya menjadi debu lalu mengirim sihir es untuk membekukan mereka, Pixy itu sedikit memucat terlebih saat Marick dan Sarah juga dibebaskan.


"Ayolah, bukan hanya itu yang kamu miliki bukan?" aku memprovokasinya dan seperti yang aku duga dari belakangnya muncul golem raksasa, kakinya bisa merobohkan pepohonan dan untuk melihatnya kami harus repot-repot menengadah ke atas.


"Serang mereka," kata Pixy.


Sementara Sarah dan Marick merasa ragu untuk melawan makhluk sebesar ini, aku telah mengirim mantra sederhana.


Sebuah lubang besar muncul di bawah kakinya dan dalam sekejap golem tersebut terjerumus masuk sampai bagian lehernya, dengan sihir udara aku memenggal kepalanya dengan mudah.


Pixy itu terlihat shock hingga ia memerosotkan tubuhnya begitu saja ke tanah.


"Itu tidak mungkin kan?"


"Kurasa itu yang terakhir yang bisa kamu lakukan."


"Bunuh aku jika itu maumu."


Dari awal aku memang tidak ingin melakukan itu jadi lupakan saja, Sarah dan Marick mendekat setelah membersihkan dirinya dari banyak debu.


"Mungkin ada perangkap lainnya mari kita kurung saja dia."


"Aku akan memberikan informasi tentang peti emasnya, jangan mengurungku."


Kami semua memiringkan kepala ke arahnya, aku kini tahu bahwa Pixy di depan kami telah salah paham.

__ADS_1


"Apa? Kalian tidak datang kemari untuk mencuri emas?"


"Tidak, kami hanya ingin mengambil sebuah kepala saja."


"Kalian pasti bercanda."


Pixy itu buru-buru terbang dan kami mengikutinya dari belakang, ada sebuah pohon jauh dari lokasi sebelumnya dan dari dalam celahnya tersimpan sebuah peti raksasa.


"Aku tidak tahu ada peti harta yang lainnya," katanya demikian.


Ketika kami membukanya, itu memang sebuah kepala. Kepala dari seorang wanita dengan rambut coklat sebahu yang terlihat sangat cantik.


"Kalau begitu kami akan membawanya."


Sejauh ini walau aku sudah melihat wajahnya aku sama sekali tidak mengingatnya namun aku memilih untuk tidak memikirkan apapun lagi.


Aku memberikan potongan kepala tersebut lalu menyerahkan padanya.


Ia mengambilnya kemudian meletakkannya di leher seolah itu akan menyambung kembali dan jawabannya memang tepat.


Matanya mulai terbuka serta mulutnya juga mulai menyesuaikan.


"Lama tidak bertemu nona Merlim, Anda terlihat baik-baik saja walau menggunakan wujudku."


"Wujudku?"

__ADS_1


Kami bertiga mengulang kata tersebut dan wanita di depan kami mengangguk mengiyakan.


"Aku adalah pemilik tubuh itu dan nona adalah pemilik tubuh ini."


"Jangan bilang aku memiliki kemampuan untuk berpindah jiwa."


"Mungkin banyak hal yang ingin Anda tanyakan, kalau begitu silahkan ikut aku."


Aku melirik ke Sarah dan Marick.


"Anna memang luar biasa, aku juga merasa dia memang Merlim Ratmir."


"Aku bersependapat sama."


Mereka seolah sudah menduganya agar tidak membuatku terkejut. Mereka orang-orang baik.


Kami dibawa ke pondok yang tersembunyi di dalam hutan. Ngomong-ngomong wanita yang bersama kami bernama Vanesa.


Saat kami duduk di ruang tamu ia menyeduhkan teh untuk kami, yang sejujurnya rasanya cukup enak dan harum.


Ia mulai menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang yang diangkat sebagai murid olehku, dia awalnya akan mati karena monster namun aku menyelamatkannya dan sebagai balasan aku memintanya memberikan tubuhnya hingga jiwa kami bertukar.


Orang yang memisahkan tangan dan kepalanya juga adalah aku sendiri.


Aku kini meragukan tentang kewarasanku.

__ADS_1


__ADS_2