Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 59 : Perubahan


__ADS_3

"Aku ingin meluruskan semuanya di sini, pada akhirnya kebencian hanya akan mendatangkan penderitaan lebih jauh lagi."


Seluruh boneka milik Roa menerjang padaku, aku tidak menahannya ataupun menyerangnya melainkan membiarkan seluruh tubuhku tertusuk.


Lagipula aku tidak akan mati.


Frizel tampak terkejut termasuk Roa juga.


"Apa yang kau lakukan? Lawan aku."


"Ini kesalahanku, aku mengumpulkan kalian untuk membalas dendam pada dunia dan inilah hal yang harus diterima olehku."


"Jangan bercanda."


Boneka tersebut terus menusukku secara membabi buta.


"Meski kau tidak melakukannya kami tetap akan membenci dunia ini, itulah takdir yang akan kami pikul."


"Apanya yang takdir, Roa kau memiliki kesempatan... asal masih hidup kau bisa merubah dirimu."


"Aku tidak percaya, orang tuaku sudah meninggal apa semuanya akan berubah."


"Meski begitu kau bisa menjalani kehidupan baru, tidak sebagai penyihir, Oliheim ataupun penjahat. Hanya seorang manusia biasa."


Roa terkulai lemas.

__ADS_1


"Ini tidak adil."


Ia akan belajar sedikit demi sedikit menghilangkan kebenciannya. Untuknya akan aku titipkan ke Vanesa.


Kini giliran Frizel.


"Aku sempat merasa tidak asing dengan pemilik tubuhmu, jadi kemungkinan besar dia adik dari nenek buyutku di masa lalu."


"Begitulah, aku bertemu dengannya.. kalau tidak salah Vanesa terpisah dengannya hingga ia hidup di jalanan, saat itu aku membiarkannya untuk merawatnya tapi dia malah menggelengkan kepalanya dan berkata baginya ia mungkin menganggap aku sudah mati tapi aku senang bahwa ia memiliki kehidupan yang lebih baik di sini, mulai sekarang tolong rawat ia."


Saat itu aku menerimanya dan memberikan sebuah liontin padanya. Liontin itu adalah liontin yang dibuang oleh Vanesa.


Frizel mengeluarkan kalung dari lehernya dan itu jelas sama persis.


"Sama seperti yang dilakukan leluhurku kurasa aku juga tidak akan memberitahukannya tapi aku ingin dekat dengannya nanti."


Itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan.


Aku hanya mendatangi mereka, memberikannya suntikan lalu menghilang tanpa diketahui siapa pun tanpa mempublikasikan identitas mereka.


Pada akhirnya cara itu telah melenyapkan seluruh Oliheim untuk selamanya, aku yang membuatnya dan sekarang aku sendiri yang menyelesaikannya.


Di dalam taman bunga aku dan nona Silia menikmati teh bersama.


"Hari yang damai."

__ADS_1


"Aku juga berfikiran sama, apa kedamaian ini akan berlanjut?"


"Entahlah lagipula kamu sendiri yang membuat para monster hingga semua orang tidak benar-benar bersantai."


Aku hanya tersenyum masam.


Di sisi lain aku bisa menyerahkan urusan tersebut pada aliansi penyihir. Untuk kedepannya aku hanya ingin menghabiskan waktu sebagai siswi akademi sebanyak waktu yang bisa aku miliki.


Dunia ini memang sudah berubah atau mungkin aku sendiri yang melewatkannya sejak lama.


Satu tahun kemudian aku telah memiliki tubuh dewasaku sendiri, tidak seperti sebelumnya aku mengenakan gaun yang terlihat sedikit dewasa dan rambutku aku sengaja tetap sepanjang bahu.


Di rumah ini aku tidak tinggal sendirian, ada Vanesa dan juga Roa yang turut tinggal, mereka sedang menyirami ladang sementara aku duduk dengan teh hangat.


Aku penasaran bagaimana keadaan Marick dan Sarah, tapi sejauh yang aku ingat mereka akan baik-baik saja, mereka siswa yang berprestasi.


"Hasil panen berikutnya pasti akan besar."


"Itu semua berkatku yang terus bernyanyi."


"Roa, tidak ada sangkut pautnya dengan nyanyian... yang benar karena pupuk yang kita gunakan."


"Dengan pupuk tidak mungkin seperti ini kan."


"Kamu sebenarnya belajar di mana?"

__ADS_1


Mereka sangat akrab.


__ADS_2