Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 39 : Melawan Egnest


__ADS_3

Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, aku tidak perlu terlalu terpengaruh perkataannya, hal yang harus kulakukan hanyalah melawan wanita ini apapun yang terjadi.


Aku kembali mengayunkan tongkatku dan kilatan petir menembus rentetan pepohonan sebelum benar-benar menghantam penyihir itu dari depan.


Sulit dibayangkan dia juga memiliki kemampuan melindungi dirinya dan membalas dengan kekuatan yang sama, aku menghindarinya dengan berkelok-kelok di antara pepohonan, bagian sapuku kena dan itu terbakar membuatku jatuh menelan rasa pahit dari tanah.


Egnest mengikutinya dan melayang sesaat sebelum kakinya menyentuh tanah, dia memainkan tongkatnya seolah untuk menunjukan seberapa percaya dirinya dia terhadapku.


Jika ada hubungan senior dan junior, aku memang berada di posisi terbawah.


Aku melemparkan beberapa bola api yang hanya dia pantulkan dengan baik, pohon-pohon yang dia lewati terbakar dengan warna cerah yang menyilaukan.


"Percuma saja gadis kecil, kau terlalu cepat seratus tahun untuk bisa mengalahkanku. Maka dari itu kau hanya akan menerima kematian dariku saja... rasakan ini."


Sebelum dia dapat menghabisiku sosok Sarah muncul dengan sapunya.


"Apa?"


Dia melompat jatuh dan membiarkan sapunya terbang begitu saja menabrak perut Egnest hingga ia terbang menabrak pohon.


"Jangan lupakan bahwa Anna tidak sendirian."

__ADS_1


Barusan pertunjukan bagus, aku menerima tangan Sarah yang terjulur untuk membantuku berdiri.


Egnest tertawa.


"Benar-benar konyol, aku lengah dari gadis kecil... itu membuktikan bahwa aku sebaiknya bertarung dengan segala kemampuanku."


Egnest mengayunkan tongkatnya dan itu menciptakan bola petir, api dan air di saat bersamaan.


"Kupikir kamu akan berubah jadi vampir atau serigala?" kataku.


"Tidak akan efektif jika harus melawan penyihir, mempertahankan ketenangan dan kepribadianmu sendiri lebih menjanjikan."


Seluruh serangannya telah dikirimkan. Aku mengatasi dua dan sisanya Sarah, walau demikian itu terlalu kuat hingga membuat kami terlempar.


"lIhat kekuatan kalian belum cukup, Levirus.." dia melayangkan seluruh pepohonan di dekatnya lalu melesatkannya pada kami seolah tidak kesulitan.


Aku mengganti tongkatku dengan tongkat hitam lalu mengunakan sihir tanah untuk membentuk dinding.


Sihir ini dipelajari dari buku yang aku terima dari wanita tanpa kepala, dalam pertarungan sesungguhnya sihir seperti ini sangat berguna, dari pohon dindingku kini dibakar dengan api.


Bisa dibilang panasnya setara dengan semburan dari naga.

__ADS_1


Tidak ada kesempatan untuk berdiam diri, aku dan Sarah saling menatap, mengangguk sebelum memutuskan berlari keluar ke arah berbeda.


"Mencoba mengalihkan perhatianku, itu percuma saja.."


Dia mengirimkan serangannya bergantian antara aku dan Sarah hingga kami tidak bisa mendekat, apa-apaan dengan sihirnya apa dia memiliki banyak tenaga untuk melakukannya?


Aku mengangkat satu pohon lalu melemparkannya pada Egnest, dia dengan mudah meledakannya menjadi serpihan kecil, di saat celah terbuka aku dan Sarah sudah mendekat padanya.


Sebelum kami bisa menembakan sihir dia melemparkan kami ke belakang secara bersamaan.


Tepat saat kami berusaha bangkit Egnest mengirimkan sihir penentu yang merupakan laser berwarna ungu. Aku melakukan hal sama dan Sarah membantuku.


Dua serangan itu berbenturan di tengah-tengah lalu saling mendorong satu sama lain, perlahan itu terdorong ke arah kami.


"Kalian berdua belum bisa mengalahkanku, matilah."


"Jika berdua tidak bisa bagaimana dengan bertiga."


Marick muncul secara tiba-tiba dari belakang lalu menggunakan tongkatnya hingga membantu kami mendorong laser kembali ke arah Egnest, Egnest yang terkejut tidak bisa berbuat apapun saat serangan tersebut menghantamnya lalu merubahnya menjadi tulang dan hancur menjadi debu.


Itu cara tragis untuk mati.

__ADS_1


__ADS_2