Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 51 : Vanesa


__ADS_3

Ceritanya dimulai ketika Merlim Ratmir atau aku yang berfikir untuk menciptakan sihir keabadian. Saat itu aku menemukan Vanesa di jalanan dan membawanya ke kediamanku sebagai murid.


Saat itu aku telah menciptakan Oliheim dan hendak menyerang seluruh dunia sihir hanya dalam waktu enam bulan.


Ketika ikatan aku dan Vanesa semakin erat, Vanesa berdiri di depanku dan berkata.


"Apapun yang terjadi aku akan menghentikan Anda menghancurkan dunia sihir."


"Kenapa kau begitu bersikeras, ini sudah waktunya kembali ke dunia kita sebelumnya dan membalas dendam terhadap orang-orang yang dulu menyakiti kita penyihir."


"Meski begitu apa yang Anda lakukan adalah salah."


"Misal jika aku menghentikan ini, para Oliheim akan membunuhku walaupun aku abadi aku tidak bisa begitu saja menghentikan semuanya, apa kau mau menggantikanku?"


Aku hanya mengatakannya dengan candaan namun bagi Vanesa dia berfikir jauh ke lebih ektrim.


Singkatnya dia tidak ingin ada banyak orang yang dikorbankan.


"Mari lakukan, jika kita mengirim kepalaku ke aliansi penyihir, perang ini akan selesai."


"Apa yang kau katakan? Kau ingin hidup tanpa kepala."


"Benar, satu tangan kiriku juga."


"Kenapa kau melakukan hal sejauh ini?"


"Aku ingin menyelamatkan Anda dan dunia ini juga.. untuk berjaga-jaga aku akan menghapus ingatan Anda juga, Oliheim akan kekurangan kekuatan dan mereka pasti akan menyerah untuk sementara waktu... suatu hari jika ancaman mereka muncul aku akan datang dan memaksa Anda untuk memasuki akademi dan menyelesaikan semuanya."

__ADS_1


"Kau benar-benar."


Itulah yang terjadi di masa lalu.


Sihir yang menghilangkan ingatan milik Vanesa sedikit khusus karena buatannya sendiri walau begitu, itu bukan sesuatu yang sulit baginya untuk mengembalikan ingatanku.


"Kalau begitu tolong kembalikan ingatanku."


"Guru serius?"


Marick dan Sarah meletakan tangannya masing-masing di bahuku sebelum aku membalas.


"Terlepas dari siapa aku, aku tetaplah aku yang sekarang."


"Kalau begitu aku mengerti."


Keduanya menjaga jarak saat Vanesa mengayunkan tongkatnya untuk menyelimuti diriku dengan cahaya, tiba-tiba saja kepalaku sakit dan saat aku sadari aku telah terbangun di atas ranjang.


"Anna, kamu baik-baik saja? Kami khawatir."


"Aku bisa mengingat semuanya, aku ternyata benar-benar seorang penyihir yang ditakuti banyak orang."


"Senang bahwa ingatan guru sudah kembali, kini Anda bisa menyelesaikan semua yang Anda mulai bukan."


"Seperti itulah," jawabku tersenyum masam selagi memeluk Sarah.


Aku melanjutkan.

__ADS_1


"Jadi Vanesa, apa kau ingin kembali ke tubuhmu.. aku pikir kau mungkin ingin terlihat sebagai remaja?"


"Soal itu aku rasa aku suka penampilanku seperti ini. Sebelum masalahnya selesai aku ingin seperti ini sementara waktu."


Dibandingkan denganku dia memiliki tubuh dewasa.


Vanesa telah mengalami banyak hal sulit, karenanya jika dia menyukai seperti itu aku sama sekali tidak keberatan.


"Kurasa sudah waktunya kalian pergi? Akademi mungkin akan khawatir."


"Benar sekali, aku akan sesekali mengunjungimu, nanti setelah lulus kurasa aku akan menetap juga."


Vanesa hanya tersenyum sebagai balasan dan kami meninggalkan hutan tersebut. Aku meminta temanku untuk kembali lebih dulu sementara aku pergi ke rumah kaca menemani nona Silia dengan segelas teh hangat.


"Mendadak sekali kamu mau mengajakku Anna."


"Ini hanya ucapan terima kasihku karena merawatku dengan baik, ngomong-ngomong dadamu lebih tubuh dari yang aku pikirkan."


"Aku anggap itu sebuah pujian."


Aku diam sejenak untuk menyeruput tehku.


"Mengingatkan masa lalu walaupun aku rasa teh buatanku lebih baik tentunya."


"Hah? Akulah yang terbaik."


"Seperti biasa kamu tidak ingin kalah dalam satu hal itu."

__ADS_1


"Dasar, orang sepertimu masih hidup benar-benar mengerikan tapi aku senang melihatmu lagi. Selamat kembali Merlim Ratmir."


"Aku pikir aku lebih suka dipanggil Anna Holand," balasku tersenyum kecil.


__ADS_2