Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 65 : Monster Terakhir


__ADS_3

Monster pertama berada di dalam sebuah gua gelap yang sekelilingnya merupakan pegunungan batu, Mira sang resepsionis hanya berada di garis aman mengawasiku dari kejauhan saat aku memberikan sedikit teriakan kecil ke dalam mulut gua.


"Halo."


Yang membalas tersebut adalah teriakan dari seekor hewan buas, tentu saja. Itu bukan hewan buas sesungguhnya.


Dari kegelapan sosoknya terlihat semakin jelas menyerupai beruang dengan dua kepala serta tanduk di masing-masing keningnya.


Mereka membuka mulutnya dan langsung menembakan bola api padaku, dengan tongkat di tanganku aku memblokir setiap serangan tersebut memaksanya keluar untuk menunjukkan keseluruhan wujudnya.


Dia bersiap untuk kembali menyerang, tentu saja aku tidak membiarkannya dan segera menyerangnya dengan sihir tanah.


Tanah menyeruak dari pijakannya membentuk sebuah penjara, dengan mudah makhluk tersebut menghancurkannya lalu menerobos dengan kecepatan tinggi padaku.


"Ekpentrum."


Petirku dimakan salah satunya kemudian dikeluarkan dari mulut kepala yang lain, karena inilah makhluk ini sulit dihadapi.


Aku berlari ke samping untuk menghindari serangan diriku sendiri sebelum berlari menerjang.


Aku mengganti dari tongkat sihir dengan pisau kembar, dengan kecepatan tinggi aku mengayunkan senjata tersebut. Setelah melewatinya bisa dipastikan bahwa makhluk tersebut telah tumbang.

__ADS_1


Mira keluar dengan wajah terkejut.


"Anna, kamu sebenarnya siapa? Tak hanya pandai menggunakan sihir kamu juga ahli bela diri."


"Aku hanya sering berlatih," kataku tersenyum masam.


Kami segera pergi ke tempat selanjutnya untuk mengalahkan bangau raksasa berikutnya monster menyerupai ular serta yang terakhir adalah seekor gurita yang kerap muncul di film-film fantasy.


Karena ada badai kami tidak bisa langsung pergi dan memutuskan untuk tinggal di pelabuhan.


Setiap monster yang aku kalahkan dikirim oleh Mira ke guild, soal pembayaran akan diurus setelahnya.


Di dalam kamar Mira terus menunjukkan ketidakpercayaannya. Aku menyelesaikan misi ini dengan cepat dari kebanyakan orang bisa lakukan, mereka kerap menyerah begitu saja bahkan setelah berjalan setengah langkah.


"Selamat malam Mira."


"Sudah tidur kah, padahal ini belum malam."


"Aku cukup lelah terlebih besok masih ada satu monster yang harus diburu."


"Memang benar."

__ADS_1


"Kalau begitu selamat malam."


"Malam."


Mira hanya menjadi pengawasku saja setelahnya kami mungkin hanya akan menjadi orang asing saja. Ketika hendak mengendarai sapuku keesokan paginya kami dikunjungi beberapa orang yang terlihat seperti nelayan.


"Aku dengar Anda akan berburu gurita tersebut, jika tidak keberatan apakah kami boleh ikut?"


Aku dan Mira memiringkan kepala.


"Walau dia terlihat seperti gurita dia itu tetap saja monster," balasku demikian.


Di dunia normal ada hal yang serupa dan itu sangatlah merepotkan.


"Makhluk itu kerap menyerang kapal-kapal kami, jika dia bisa hilang dari perairan kami itu sesuatu yang kami impikan sejak lama, paling tidak biarkan kami mengantar dan melihatnya."


Mereka agak memaksa yang membuatku tidak bisa menolaknya.


Kurasa aku tidak keberatan untuk mengizinkan mereka untuk ikut, mereka menyiapkan sebuah kapal besar dengan layar yang bisa menahan angin cukup besar, dengan hanya itu kami berlayar dengan mudah.


Sudah terakhir kali aku berpergian seperti ini.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian kami sampai di lokasi yang dimaksud, sama seperti saat melawan ikan berkepala manusia aku terjun masuk ke dalam air kemudian membekukannya dengan mudah sebelum gurita tersebut menyadarinya.


Dengan ini maka perburuanku selesai, dengan ini aku sudah menyelesaikan apa yang telah aku buat di masa lalu meskipun hanya sebagian kecilnya saja.


__ADS_2