Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 43 : Kota Yang Tenggelam


__ADS_3

Kami berempat menuju sebuah lokasi yang cukup jauh dari akademi, itu berada di balik gunung tertentu yang menampilkan hamparan pepohonan indah dari hutan. Di belakangnya ada sebuah danau yang sangat luas.


Melihatnya perasaanku cukup tidak enak dan tepat yang aku rasakan tadinya itu merupakan sebuah desa.


Ketika aku menenggelamkan wajahku ke danau aku bisa melihat di dalamnya sana banyak rumah-rumah yang kini berubah menjadi tempat persembunyian ikan.


"Berikan ramuannya."


Seperti apa yang diminta nona Helena aku melakukannya, sedangkan kami bertiga akan meningkatkan di belakang.


"Anna ini akan baik-baik saja?"


"Seharusnya seperti itu, hanya mengalami tubuh yang sakit setelah memakannya tidak masalah bukan."


Marick mendengarkan selagi bergidik.


"Kuharap dia tidak akan menerima efeknya lebih dari yang tubuhnya bisa ditahan."


Aku menganggukkan setuju untuk itu. Di sisi lain nona Helena telah meminumnya lalu melemparkan botol ke samping. Dia mulai dengan menciptakan bola api di tongkatnya awalnya itu hanya sebesar bola baseball dan semakin lama semakin besar hingga seukuran rumah.


Dia terlihat akan memperkuat lagi bola apinya di batas maksimum.


Ketika itu telah mencapai apa yang ia inginkan, bola api lemparkan. Aku tidak terlalu jelas melihatnya hanya saja itu menciptakan ledakan yang luar biasa hingga uap terapung ke udara bersamaan hembusan angin dan percikan air yang menyibak ke arah kami.


Setelahnya bisa dipastikan bahwa air danau tersebut telah surut dan hanya menyisakan keadaan desa apa adanya.

__ADS_1


Marick bahkan mengambil kesempatan ini untuk mengumpulkan ikan-ikan yang terbaring di dekatnya.


"Kita punya makanan melimpah," apa yang dikatakannya dengan senang.


Aku dan Sarah mendekati sosok guru kami yang hanya diam mematung, tidak perlu ditanyakan lagi dia gemetaran karena menahan sakit dari efek sampingnya.


"Mari beristirahat di sini seharian sebelum kembali."


Tidak masalah untuk kami semua membolos satu hari karena urusan ini.


Aku tersenyum senang saat melihat reaksi nona Helena yang berteriak kesakitan hanya dengan satu jariku menyentuh bahunya.


"Sarah, mungkin kamu ingin mencobanya juga."


"Hentikan, sakit sekali."


Marick memotong.


"Bagaimana kalau aku mencobanya, aku tertarik untuk menyentuh nona Helena."


Kami sepakat untuk mengikat Marick semalaman. Dia menjadi orang yang selalu diwaspadai bagi kami.


Beberapa hari kemudian desa yang kami lihat telah kembali di renovasi, aku melihat nona Helena yang bercengkerama dengan penduduk desanya. Jelas sekali bahwa mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama.


"Pekerjaan di sini sudah selesai, mari pergi ke kota terdekat."

__ADS_1


"Benar, aku ingin makan sate."


"Bukannya kita tidak bekerja apapun seharian ini."


Kami mengabaikan perkataan Marick dan setelah sampai di kota kami sudah membeli apapun yang kami lihat.


"Beli, beli."


Aku makan dengan lahap menyamai Marick sekarang.


"Kalian berdua tolonglah jangan terburu-buru kita punya banyak waktu seharian di sini."


Tak lama sebuah arak-arakan dipertunjukkan di jalanan dengan boneka raksasa yang menyerupai penyihir tertentu, setelah itu mereka membakarnya lalu menari-nari di atas abunya.


"Apa itu hal yang sering dilakukan di festival?" tanyaku pada salah satu penduduk.


"Tentu saja, kami sering melakukannya. Membakar boneka Merlim Ratmir adalah tradisi yang diturunkan secara turun-temurun untuk menghilangkan nasib buruk."


Ugh...


Apa jika aku benar-benar Merlim Ratmir mereka juga akan membakarku begitu saja?


Mendengarnya cukup menakutkan.


Malam harinya festival ini ditutup dengan ribuan lampion yang diterbangkan ke langit, ini menjadi sesuatu yang indah untuk disaksikan bersama.

__ADS_1


__ADS_2