
Di dalam kegelapan aku dan nona Silia telah menunggu kedatangan musuh, mereka bukan orang melainkan hanya sekumpulan serigala yang lapar.
Ekpentrum.
Kami berdua menggunakan mantra sihir petir untuk menjatuhkan mereka, ada sekitar 20 ekor yang berhasil kami kalahkan namun yang menjadi masalah adalah pemimpinnya yang merupakan serigala besar dengan dua kepala di tubuhnya, masing-masing mulut bisa menyemburkan nafas api seolah dia seekor naga.
Konon dikatakan bahwa mereka semua adalah monster buatan Merlim Ratmir.
Aku naik ke atas sapu begitu juga nona Silia yang terbang di belakangku, serigala dengan dua keoala tersebut mengejar kami bahkan setelah keluar dari hutan.
Ini sesuai yang kami harapkan, tepat saat serigala itu menginjak jebakan kami, sulur-sulur akar melilitnya dengan erat.
Aku berdiri di atas sapu. Lalu mengirimkannya sihir Ignium.
Bola api meledak di salah satu kepalanya namun itu tidak memberikan dampak baik.
"Sihir tidak berpengaruh hanya ada satu hal yang kita bisa lakukan, gunakan ini Anna."
Nona Silia memberikanku sebuah pedang yang dia simpan di dalam topinya.
"Kenapa tidak Anda yang melakukannya?" aku bertanya.
"Sebagai guru sudah tugasku hanya mengawasi muridnya."
__ADS_1
Jelas sekali bahwa ia tidak ingin melakukannya, aku menghela nafas panjang sebagai awalan untuk membulatkan tekad sebelum melesat maju.
Setiap serigala itu berusaha menghancurkan sulur yang melilit akan ada sulur yang baru mengikatnya begitulah jebakan yang kami pasang, aku berdiri tepat di atas kepalanya.
Ini jelas pertama kalinya aku menggunakan pedang tapi ayolah, ini bukan sesuatu yang sulit bukan.
Aku melompat ke udara, mengandalkan gaya gravitasi sebagai pemberat, dalam satu tebasan aku telah memotong dua kepala sekaligus.
Ini bukan sepenuhnya kekuatanku melainkan kekuatan dari pedangnya. Jelas sekali nona Silia tengah menjahiliku.
Kami berdua kembali ke akademi dan nona Silia telah melaporkan apa yang terjadi pada kepala sekolah.
Dia kembali dengan kabar bahwa Frizel dan temannya bisa tinggal sementara waktu di akademi, aku akan senang mengobrol tentang bagaimana tempat tinggal di suku Utara sayangnya aku, Sarah dan Marick sudah sepakat untuk mengunakan kemenangan sebelumnya untuk berlibur di dunia normal.
"Ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan, bukan begitu Marick, Sarah?"
"Menyenangkan untuk Anna berarti sesuatu yang berbahaya."
"Sepakat."
Aku hanya tersenyum kecil sebagai balasan, kami tidak benar-benar berlibur. Ada yang harus kami lakukan di dunia normal dan itu adalah mencari keberadaan Jack Ornel.
Belum ada yang tahu keberadaannya, bahkan kondisinya entah mati atau belum, namun yang jelas aku sudah mendapatkan alamatnya yang pertama dari sana kami pasti bisa melakukan sesuatu.
__ADS_1
Itu adalah sebuah rumah di pinggir danau di Inggris yang tampak indah.
"Tidak ada jawaban mari masuk."
Sarah menendang pintu hingga kami bisa masuk ke dalamnya.
"Akhir-akhir ini Sarah jadi terlihat sepertimu Anna?"
"Aku merasa dia tetap seperti dirinya sebelumnya."
"Aku akan menyangkalnya."
Ruangannya sangat berantakan dengan perabotan hancur serta kertas-kertas yang berhamburan ke setiap sudut lantai.
Sarah memeriksa kamar, aku dapur dan Marick kamar mandi.
Tidak jelas apa yang akan kami cari yang jelas sesuatu yang tersembunyi, suara Marick terdengar memanggil kami.
"Kalian mungkin harus melihat ini."
Di depan cermin kamar mandi ada sebuah bekas cakar raksasa yang menghancurkannya.
Itu sama seperti saat gadis itu berubah menjadi seekor serigala jadi-jadian.
__ADS_1