
Saat aku kembali dengan banyak tumpukan uang, Roa dan Vanesa segera membantuku.
"Kenapa Anda membawa banyak sekali uang?" tanya Roa yang aku jawab dengan seadanya.
"Ceritanya panjang yang jelas kalian bisa membelanjakan semua ini dengan apa yang kalian suka."
Keduanya menantapku dengan mata berbinar.
"Itu artinya kami bisa membeli game baru."
"Benar sekali."
Kurasa mereka sudah jadi gamer akut sekarang.
Beberapa hari berikutnya aku, Roa dan Vanesa telah melakukan aktivitas berkebun.
Kami akan menanam tomat, labu serta melon. Ketika baru setengah pekerjaan nona Silia muncul.
"Sepertinya kalian begitu sibuk di sini."
"Apa nona Silia datang untuk membantu kami."
"Jawabannya tidak, aku memiliki sesuatu yang harus dibicarakan."
Aku berfikir apa itu? Aku dan nona Silia duduk bersama di ruangan tamu, karena sekarang tubuhku dewasa kami memiliki tinggi yang nyaris sama. Bukan berarti aku tidak menyadarinya tapi jelas aku lebih tinggi sekarang.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat bangga akan sesuatu?"
"Bukan apa-apa," aku tidak ingin mengatakan lebih dari itu.
Nona Silia berdeham sekali.
"Apa kamu sudah mendengar tanaman obat yang jumlahnya berkurang."
"Aku pernah mendengar kabar itu, apa itu masalah serius?"
"Lebih tepatnya masalah serius bagi akademi, kebanyakan siswa tahun pertama banyak mengalami kegagalan saat meracik obat-obatan karena itulah mereka tidak bisa memaksimalkan diri dalam pembelajaran."
"Jangan bilang Anda memintaku untuk menanam tanaman tersebut dan menjualnya ke akademi."
"Itu benar, bukannya kalian juga bertani di tempat ini, beberapa tanaman tidak bedanya bukan?"
"Ayolah Anna, aku sudah menuliskan tanaman apa saja yang harus kamu rawat?"
Ia meletakkan daftar tanaman tersebut dan bisa aku lihat semuanya sekitar tiga tanaman.
"Mereka tanaman yang sulit dibudidayakan?"
"Aku akan membayarnya dua kali lipat dari harga pasar, tentu aku berharap bahwa kualitasnya bagus."
"Berapa lama aku harus menyiapkannya."
__ADS_1
"Dua bulan, jadi apa kamu mau melakukannya? Demi akademi juga."
Sejak kapan aku peduli dengan tempat itu, walaupun aku lebih khawatir tentang Sarah dan Marick.
"Kamu tidak berniat pergi jika aku menolaknya bukan."
"Tentu saja, aku akan menginap di sini jika diperlukan."
Itu pasti akan merepotkan jika seseorang mencarinya sampai kemari, pada akhirnya aku menyetujuinya dan nona Silia pergi dengan senangnya.
Kurasa dengan ini kami tidak akan khawatir soal pemasukan uang nantinya, ada beberapa syarat yang aku ajukan padanya.
Pertama ia harus menyembunyikan darimana asal tanaman yang akan diterima akademi dan kedua bahwa dirinya sendiri yang mengambilnya.
Itu membuat kami tidak perlu repot-repot pulang pergi.
Aku, Roa dan Vanesa membicarakan soal ini bersama.
"Benih tanaman ini hanya bisa diambil langsung dari alam liar, itu cukup merepotkan."
"Benar, tapi ia akan membayar dua kali lipat dari pasar jadi itu bukan suatu kesepakatan yang buruk."
Roa dan Vanesa saling berdebat satu sama lain, aku menambahkan.
"Kita tidak perlu menjual hasil ladang ke kota lagi malah kita bisa mengonsumsinya sendiri sementara uang yang akan kita dapat akan datang dari dompet akademi, apa kalian berdua tidak masalah dengan itu?"
__ADS_1
Keduanya mengangguk mengiyakan. Singkatnya mereka akan lebih banyak bermain game di rumah.