
Insiden tentang kepala sekolah seperti sebuah uap yang menghilang begitu saja, nona Silia dilantik sebagai kepala sekolah dan kepala sekolah sendiri diputuskan untuk mengambil masa pensiunnya lebih awal. Walaupun sekarang.
"Sebenarnya aku siapa?"
Dia jadi linglung.
Aku senang semuanya berjalan dengan lancar dan kini entah Sarah atau Marick keduanya tertarik tentang telur yang aku pegang sekarang.
Telur tersebut mulai bergerak, retak dan akhirnya pecah.
Seperti yang diduga di dalamnya hanyalah seekor ayam.
Marick dan Sarah melongo termasuk aku juga.
"Ini bukan burung Phoenix."
"Tidak, mungkin saja ini spesies Phoenix langka."
Aku meragukan apa yang dikatakan Marick, bahkan Sarah juga sangat kecewa. Entah ini burung Phoenix atau bukan yang jelas keduanya muat di saku bajuku.
Hari ini adalah tes lapangan jadi kami harus segera bergegas pergi ke sebuah hutan untuk berkumpul, tidak seperti hutan terlarang, ini benar-benar hutan biasanya dengan pepohonan serta tanah penuh rumput.
Di depan kami nona Helena menjelaskan.
"Ini akan mempengaruhi nilai ujian kalian nanti jadi jangan main-main, di tengah hutan ini aku sudah meletakan sebuah bendera, tepatnya tiga bendera, hijau, kuning dan merah. Bagi yang mendapatkannya mereka akan mendapatkan nilai lebih tinggi dibandingkan siapapun yang sampai ke sana, bagi yang gagal akan diberikan materi tambahan."
Marick memucat dengan cepat.
Singkatnya ini mirip seperti lomba lari dan menentukan siapa yang lebih dulu sampai. Ayam maksudku burung di dalam bajuku terus menyuarakan cit...cit..cit.
__ADS_1
Nona Helena mengangkat tangannya dan kami secara beregu masuk ke dalam hutan. Tanah yang dipijak kami lembab serta banyak pepohonan yang menghalangi.
"Levirus."
Sarah mengangkat salah satunya setelah aku mengurus bagian yang sama sebelumnya.
"Kita tidak tahu arah yang harus kita ambil, apa sebaiknya kita melayang saja ke atas?"
"Aku pikir kita tidak boleh melakukannya," kataku pada Marick dan tak lama sebuah teriakan terdengar.
Kami buru-buru menyelidikinya dan terlihat bahwa kelompok lain telah dijatuhkan ke tanah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyaku demikian.
"Tidak, hanya saja kami cukup terkejut saat menggunakan sihir melayang dan tiba-tiba petir menyambar."
"Sudah aku duga, nona Helena merapalkan mantra seperti itu."
"Lalu bagaimana kita menemukan jalan yang tepat?"
"Kurasa kita harus mencari petunjuk di sekitar sini."
Kami mulai meraba-raba setiap pohon, berharap bisa menemukan hal penting. Kelompok yang sebelum dikejutkan turut membantu juga.
Marick yang selalu tidak berguna dalam hal apapun akan menjadi berguna saat dibutuhkan.
"Aku menemukannya."
Aku dan Sarah mendesah pelan dengan kemampuannya ini.
__ADS_1
Yang dia dapatkan sebut kertas putih tanpa apapun. Sarah mengambilnya kemudian menganalisa apa itu.
Beberapa saat kemudian dia memberikan jawaban yang kami tunggu.
"Kertas sihir, kertas ini merupakan petunjuk jalan untuk kita sampai ke tengah hutan."
Semua orang menunjukan kebingungan khususnya bagian cara menggunakannya. Sarah menggunakan kemampuan tangannya untuk melipat kertas tersebut menjadi sebuah origami.
Dia menciptakan sebuah bangau.
"Sihir ini akan gagal jika satu bagiannya robek atau tidak simetris."
Aku yang mendengarnya jelas bingung, sebenarnya apa yang diinginkan guru kami.
Tak lama kemudian kertas itu mulai bergerak sendiri tanpa mantra apapun dan melayang seperti bangau.
"Kita bisa mengikutinya sekarang."
Kami beruntung menemukannya lebih dulu, walaupun beberapa orang turut mengikuti di sekitar.
"Dengan ini kita bisa mencapai lokasi akhir dengan mudah," atas pernyataan salah satunya Sarah menggelengkan kepalanya.
"Kesulitannya baru dimulai," tepat saat mengatakannya bangau itu jatuh seolah menjadi kertas biasanya.
"Sihir ini hanya akan berfungsi beberapa menit saja, dan jelas bahwa kita harus kembali mencari kertasnya."
Semua orang jatuh dalam keputusasaan kecuali aku dan Sarah.
"Terkutuklah guru itu."
__ADS_1
Aku bisa mengerti perasaan mereka, terlebih waktu kami untuk menyelesaikan ini selama seminggu penuh. Dari awal dia menyuruh kami untuk berkemah.