Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 36 : Berkunjung


__ADS_3

Dibandingkan dengan serigala yang aku lawan bersama nona Silia, serigala ini lebih sulit ditangani.


"Kemungkinan besar Jack Ornel diserang oleh mereka, kemudian berlari keluar rumah ini."


Sarah menunjukan darah yang mengering di lantai yang menunju ke luar, kami mengikutinya dan harus masuk ke dalam hutan. Kami hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Jack Ornel, jika dia masih hidup maka itu akan jadi kabar baik bagi Charlotte dan jikapun dia mati Charlotte bisa meninggalkan dunia ini tanpa ada penyesalan.


Lagipula alasan dia tetap masih hidup hanya berfikir bahwa Jack Ornel mungkin terlambat datang, bisa dibilang itu adalah sebuah kisah sedih.


Kami kehilangan jejaknya.


"Mari berpencar."


Atas perkataanku Sarah dan Marick mengambil rute berbeda, seperti yang aku duga aku berhasil menemukan sebuah batu yang aneh seolah dibuat dari sihir.


Aku memanggil Sarah dan Marick untuk membantuku untuk menyingkirkan batu tersebut dan di dalamnya ada sebuah tengkorak manusia lengkap dengan pakaian yang merupakan jubah penyihir.


Ia menyelipkan sebuah pesan di tangannya, jelas sekali itu untuk Charlotte gadis yang dicintainya dan ingin dinikahinya.


"Bagaimana sekarang Anna?"


"Kita akan menguburkan dia di sini, itu lebih baik dibandingkan membiarkannya seperti ini."


Kami memutuskan menguburnya lalu memberikan batu nisan untuknya.


"Beristirahatlah dengan tenang, pesan terakhirmu akan kami berikan pada nona Charlotte saat kami kembali," kataku demikian.


Aku melirik untuk terakhir kalinya ke arah makam lalu pergi bersama yang lainnya.


Masih banyak waktu untuk kami kembali karenanya kami semua memutuskan pergi ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Pertama kami mengunjungi rumah Marick yang merupakan rumah sederhana di desa pegunungan.


Ia memiliki banyak saudara dan jelas mereka semua sangat ramah walau mereka serba kekurangan.


"Kalian benar-benar memakan ini?"


"Kamu bisa menemukannya di bawah batu, rasanya sangat enak."


Aku tidak masalah untuk memakan daging dari siput tapi bagi Sarah ia terlihat akan mual, sebaiknya kami pergi secepatnya.


Di kediaman Sarah itu berbeda 180 derajat, itu merupakan bangunan mewah Eropa. Walau Sarah dibilang rakyat jelata dia sebenarnya orang kaya, Sarah mendapatkan gelar tersebut karena dia darah campuran bangsawan dan rakyat jelata karena itulah dia kerap dipanggil seperti itu, namun tentu beberapa orang tidak memperdulikannya.


Sebelumnya Sarah enggan tinggal di tempat Marick, namun sebaliknya Marick tampak bahagia.


Dia dilayani baik pelayan serta makanan enak yang berlimpah, bahkan saat kami harus pergi, aku dan Sarah harus menyeretnya dengan masing-masing menarik kakinya.


Dia bikin malu saja.


Yang terakhir adalah rumahku, karena itu hanya sebuah panti asuhan tidak ada hal yang bagus yang bisa aku katakan.


Aku hanya menyapa ibu asuh memberikan uang cukup banyak untuk tempat ini lalu pamit untuk pergi.


"Anna, kamu bisa tinggal lebih lama di sini?"


"Tak apa aku sudah punya rencana pergi bersama teman-temanku."


"Begitu, apa ada sesuatu yang tengah membebanimu?"


"Aku hanya berfikir kemungkinan aku adalah orang jahat di masa lalu."

__ADS_1


"Begitu, aku akan mengatakan sebuah rahasia kamu Anna datang kemari bukan saat kamu bayi, aku menemukanmu tertidur di depan gerbang dan saat aku menanyakannya kamu tidak mengingat apapun."


"Aku sudah menduganya."


"Apapun yang terjadi kamu tetaplah Anna, dan kami selalu bisa menjadi rumahmu untuk kembali."


Aku dan ibu asuh saling berpelukan.


Ketika keluar Sarah dan Marick sudah menunggu di dekat ayunan.


"Pergi sekarang?"


Sarah menyikut perut Marick hingga dia kesakitan.


"Kita bisa tinggal jika kamu mau Anna."


"Tidak usah, kita akan kembali ke akademi setelah membeli banyak makanan."


"Itu yang ingin aku dengar," teriak Marick gembira.


"Tapi sebelum itu, aku ingin menghabiskan banyak waktu di pantai."


"Owh, pantai kah.. sudah lama aku tidak pergi ke sana."


Marick menghembuskan nafas lelah.


"Kalian para gadis senang sekali pergi ke tempat yang suka memamerkan kulit."


Dia hanya suara minoritas jadi keluhannya tidak didengar sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2