
"Anna apa kamu yakin mereka akan datang ke tempat ini? Sesungguhnya kita telah dilarang untuk kembali ke sini bukan?"
"Itu tidak masalah karena nona Silia juga menemani kita."
"Fakta ia datang untuk membantu sangatlah sulit untuk dipercaya."
Nona Silia sendiri hanya mengawasi di atas pohon sementara kami bertiga di bawahnya menunggu.
"Ia juga penasaran kenapa para Oliheim ingin menyerang tempat ini, lagipula apa di sini ada makhluk yang mereka anggap sebagai musuh... bukannya itu cukup membuatmu penasaran."
"Tidak sama sekali."
Marick hanya mengunyah kentang goreng di tangannya tanpa ikut terlibat obrolan, dia kemungkinan sudah menyerah padaku dan memutuskan ikut tanpa mengeluh sedikit pun.
Nona Silia bersuara seperti seekor burung untuk mengisyaratkan bahwa ada orang-orang yang mendekat, dari sini kami bisa melihat beberapa puluh orang dengan jubah hitam. Sebagian adalah vampir dan sebagian lagi serigala.
Benar-benar berbahaya jika kamu diketahui, kami menggunakan semacam ramuan bau juga untuk menyembunyikan keberadaan kami.
Mereka bergerak ke arah kolam kematian dan di sana tentu ada wanita tanpa kepala yang telah mengirimku ke akademi.
Tanpa basa basi mereka menyerangnya, dengan sihir maupun kekuatan fisik.
"Tunggu, tunggu mereka bermusuhan.. nona Silia?"
"Aku tidak tahu siapa wanita tanpa kepala itu, tapi bagaimana dia masih hidup?"
Itu juga yang ingin aku ketahui, sebelumnya aku menebak bahwa dia Merlim Ratmir tapi kurasa tidak, seharusnya dia bisa berhasil mengalahkan mereka seorang diri namun akhirnya malah gagal.
__ADS_1
"Aku tidak yakin tapi mari bantu wanita itu."
Atas usulan nona Silia kami mulai bergerak, sebelumnya kami telah menaruh berbagai kacang-kacangan di dekat sini, dengan satu mantra kacang-kacang tersebut tumbuh sangat besar.
Awalnya kami hanya bisa sedikit menumbuhkannya tapi sekarang itu tidak masalah karena kami bisa menumbuhkannya sangat tinggi hingga menembus awan.
"Kalian lihat itu, sihirku juga hebat."
Marick bergembira atas pertama kalinya ia mampu melakukannya, itu bagus tapi kami tidak boleh lengah.
Kami berhadapan dengan wanita tanpa kepala.
"Tunggu sebentar, kami perlu menanyakan satu hal."
Alih-alih menjawabku dia melemparkanku sebuah peta kemudian menghilang setelahnya.
"Entahlah petanya kosong," balasku demikian.
Sebelum para Oliheim turun kami akan langsung segera meninggalkan tempat ini. Aku melemparkan diriku ke atas ranjang dengan wajah terlungkup di bantal.
"Aku tidak mengerti, peta ini kosong."
"Mungkin ada sihir yang mencegah yang untuk mudah diketahui."
"Aku juga merasa begitu tapi kita sudah tahu nona Silia juga menggunakan sihirnya namun tidak terjadi apapun."
"Apa mungkin kita harus bertanya ke profesor Goven?"
__ADS_1
Sarah memberikan usulan tak terduga.
"Kenapa kita harus menanyakannya?"
"Mungkin saja ada sihir terkutuk yang menghalanginya."
Aku diam memikirkannya, memang benar itu adalah pilihan bagus tapi aku tidak berniat untuk membuatnya mengetahui urusan kita.
Pada akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke perpustakaan walaupun tidak bisa membuahkan hasil.
Semua mantra gagal, tak lama Marick muncul selagi menyeret tangan Jean keluar. Wajahnya tampak pucat.
"Kenapa kau lakukan ini?"
"Kita perlu bantuanmu, serahkan saja padanya."
"Apa boleh buat."
"Kenapa dengan nadamu."
Jean melirik ke arah peta yang aku sodorkan padanya, dia membolak-balik beberapa saat sebelum menyimpulkan.
"Peta ini mengambil ingatan, hanya dengan darah naga kita bisa melihatnya."
Kami diam beberapa saat sebelum berteriak serempak.
"Eh?"
__ADS_1
Orang-orang mulai bersamaan menenangkan kami untuk diam.