ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 10. Anak Kita


__ADS_3

Myung-Soo mengembuskan napas berat. Ia membukakan pintu apartemennya untuk Nara. Ya, untuk perempuan yang dia pikir adalah Bora. Perempuan paling random dan paling tidak rasional. Gadis ini membuat sebuah perjanjian, jika dia akan langsung pergi ke apartemennya setelah pulang sekolah, malam baru pergi ke rumah keluarga Han. Sungguh sangat tidak masuk akal bukan?


Perempuan ini lebih memilih jika keluarga mereka berdua berpikir kalau hubungan mereka telah sejauh itu. Padahal, Myung-Soo hanya jadi korban pemaksaan. Dia tidak ingin merawat bayi ini tetapi dia lebih takut jika Nara akan membatalkan pernikahan. Jika seperti itu, dia akan merasa bersalah seumur hidupnya.


"Kak!" panggil Nara.


"Hmmm," jawab Myung-Soo seraya membuka jas dan juga beberapa kancing kemeja di atara leher dan juga yang ada di pergelangan tangannya.


"Kamar Kakak di mana? Aku udah enggak tahan ini!"


Uhukkk!


Myung-Soo mendelik menatap Nara dengan tatapan tajam. Apa yang tidak tahan? Batin Myung-Soo menerka.


"Titip sebentar, Kak! Aku mau ke kamar mandi." Tanpa menunggu persetujuan dari Myung-Soo. Gadis itu langsung meletakan bayinya di gendongan pria itu.


Bora tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah dongkol calon suaminya. Nara ini, Myung-Soo pasti berpikir aneh-aneh tentang kalimat ambigu Nara sebelumnya. Ditambah, ekspresi terkejut Myung-Soo saat ini, dia sepertinya tidak menyukai bayi.


"Habislah, kau, Kak!" kekeh Bora menggelengkan kepalanya. Ia berbaring di atas sofa masih dengan tatapan fokus pada Myung-Soo. Pria itu sama sekali tidak bergerak, diam mematung seperti benda mati. Apa mungkin dia takut terhadap bayi itu? Ah bodo lah. Bora ingin istirahat dulu.


"Boraaaa!" pekik Myung-Soo. "Han Boraaa!" teriaknya lagi.


Perempuan yang dipanggil telah berdiri di depan Myung-Soo dengan wajah bingung. "Kenapa?" tanya Nara.


"Ini, dia ... sepertinya pipis di celana!"


Prtttt!


Nara menahan tawa mendengar hal tesebut. Bayi ini menggunakan popok, tapi sepertinya bocor sehingga menjadi basah ke tangan calon suaminya. "Dia terlalu nyaman dengan mu, Kak!" Nara mengambil bayi itu kemudian berbalik.


"Mau di taruh di kamar mana?" tanya Nara menoleh lagi.


"Apanya?"


"Bayinya!"


"Kamar ke dua!" jawab Myung-Soo dongkol. "Aku mau ganti pakaian dulu."


"Eitsssss ... jangan!" Nara menghadang Myung-Soo dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Apalagi?"


"Beliin susu, pokok sama keperluan dia dulu. Kita enggak punya popok, gak mungkin 'kan kalau harus dipakaikan celana mu?!"


Untuk kesekian kalinya Myung-Soo dibuat melongo karena perkataan gadis di depannya. Hembusan napas kasar keluar dari mulut pria itu, Myung-Soo berdecak pinggang seraya mendongakkan kepala.


"Bora. Aku ini bukan ayahnya dia!" keluh Myung-Soo.


"Tapi sekarang kau harus menjadi ayahnya. Dan aku akan menjadi ibunya. Eomma, Appa."


Bibir Myung-Soo berkedut menahan umpatan yang ingin keluar. Gadis ini, astagaaaa ... dia akan menjadi tua sebelum waktunya jika seperti ini terus.


"Nunggu apa lagi, Kak? Mau bayinya pipis sama pup di mana-mana!"


"Eishhhhhhh ...!" Myung-Soo mendesah, mau tidak mau dia keluar dari apartemennya untuk membeli semua peralatan bayi itu. Dalam perjalanan ke sana, Myung-Soo membuka ponselnya, mencari tahu apa saja yang harus dia beli.


"Aishhhh ... bagaimana ini," keluh Myung-Soo. Dia benar-benar tidak tahu harus membeli apa saja, popok yang seperti apa. "Terserah, terserah kau saja Bora!" Myung-Soo menggerutu dengan segala kekesalannya.


Di kamar kedua pada apartemen Myung-Soo, dua orang perempuan tengah menatap bayi mungil yang sekarang terlelap dengan sangat intens. Mereka berdua tersenyum, kadang-kadang Nara akan menggeplak tangan Bora jika hantu itu ingin menyentuh bayinya.


"Pelit amat!" keluh Bora.


Bora berdecih, karena tidak ingin berdebat dengan Nara, hantu itu lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya di samping bayi mungil mereka. "Apa kau tidak ingin memberikannya nama?"


Nara berpikir untuk sejenak, benar juga, dia belum sempat memberikan bayi ini nama. Tidak mungkin kalau dia hanya memanggilnya dengan kata bayi ini, atau bayi itu.


"Lim Hyunsik." Nara menggumamkan kata itu di depan bayi laki-lakinya. Ini agak lucu. Seharusnya bayi itu mengikuti marga ayahnya, akan tetapi, karena hanya Nara keluarga bayi ini. Nara memberikan marganya untuk bayi mungil itu.


"Namanya cakep, Ra." Bora memuji.


Nara hanya tersenyum kemudian ikut berbaring di samping Hyunsik. Dia mengusap-usap bayi itu perlahan. Karena terlalu lelah, Nara pun ikut terlelap di samping bayi miliknya.


Tak berselang lama, Myung-Soo telah kembali dari berbelanja. Pria itu membukakan pintu apartemen, membiarkan beberapa orang masuk ke apartemennya karena mereka tengah membawa belanjaan yang sangat banyak.


"Taruh saja di situ!" Myung-Soo menunjuk area kosong di dekat pintu kamar Hyunsik.


"Bora!" panggil Myung-Soo. "Han Bora," panggilannya lagi. Tidak mendapatkan sahutan, akhirnya Myung-Soo masuk ke dalam kamar itu. "Bora aku---,"


Myung-Soo tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu malah tertegun saat melihat Nara tidur menyamping, menunggui bayi kecil itu layaknya seorang ibu yang menunggui bayinya sendiri. Myung-Soo mengambil selimut, menyelimuti calon istrinya lantas kembali keluar dari kamar.

__ADS_1


"Tuan," panggil seorang wanita paruh baya ketika Myung-Soo telah keluar dari kamar. Dia adalah Jung Jaerin. Seorang suster yang Myung-Soo panggil untuk merawat segala kebutuhan Hyunsik. Dia akan sibuk bekerja, juga Bora harus sekolah, mereka tidak mungkin meninggalkan bayi itu sendirian.


"Tolong buatkan susu dulu, Suster Jung cari saja yang mana susu untuk bayi. Saya mau bersih-bersih dulu!"


Suster Jung membungkuk ke arah Myung-Soo. Setelah itu, dia kembali mengangkat punggung dan kepalanya. Helaan napas panjang keluar dari mulut suster tersebut. Pemandangan di dalam apartemen itu tidak baik-baik saja, segala peralatan bayi tertumpuk di sana. Bahkan kasur bayi pun ada.


Myung-Soo memang tidak pergi langsung ke tempat peralatan bayi. Dia hanya menelpon dan meminta orang-orang di toko tersebut untuk mengirimkan semua barang yang dibutuhkan bayi baru lahir. Sangat di luar dugaan karena barang-barang itu ternyata sangatlah banyak.


"Astagaaaa ... kenapa juga susu nya sebanyak ini." Suster Jung menggelengkan kepala. Dengan puluhan kotak susu itu, Suster Jung mungkin bisa membeli rumah sederhana.


....


"Shhhhh!" Nara mendesis dalam tidurnya, gadis itu mengerejapkan mata, perlahan, kelopak mata itu terbuka, atensinya langsung tertuju pada anak bayi yang tadi dia temani.


"Hyunsik!" pekik Nara saat tidak menemukan bayi tersebut.


"Shutttt!" Myung-Soo menahan bahu Nara karena gadis itu tiba-tiba ingin beranjak dari tempat tidur. Tapi, kini pun Nara sudah duduk.


"Apa yang kau lakukan? Ke mana anak ku?"


"Anak mu?" Myung-Soo terlihat sangat bingung karena perkataan Nara.


"Hmmm ... anak kita. Yunsik dimana? Aku harus mencarinya."


"Hei!"


Lagi-lagi Myung-Soo menahan bahu Nara. "Bayi itu aman. Dia sudah mandi dan sekarang lagi diberikan susu oleh Suster. Lutut mu terluka, aku akan membersihkannya dulu. Kenapa tidak bilang sejak tadi. Bagaimana jika terjadi infeksi!"


Nara tidak menjawab. Dia hanya diam, memerhatikan Myung-Soo yang sedang fokus mengobati luka pada lututnya dengan begitu telaten dan hati-hati. Kedua tangan gadis itu mencengkram kuat seprei ketika tiupan-tiupan lembut diberikan oleh pria yang sekarang malah berjongkok di bawah ranjang dengan dia yang duduk di sisi ranjang tersebut.


"Cieeee ... tersepona nie yeee ... huhuy! Ada yang jatuh cinta kayaknya!" Bora berjingkrak heboh di atas ranjang sehingga Nara menghembuskan napas kasar.


"Diam Bora!" bisik Nara tapi tidak digubrisnya oleh hantu itu.


"Jatuh cinta ... jatuh cinta!"


"Aku bilang diam!" teriak Nara lagi.


Myung-Soo mendongak, dia menatap Nara dengan kening mengkerut. "Aku sudah bilang kalau aku sedang mengobati lukamu. Kenapa kau marah?"

__ADS_1


__ADS_2