ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 26. Myung-Soo Marah?


__ADS_3

Suara ketukan pintu kamar membuat Nara yang baru selesai berganti pakaian membuka pintu itu. Belum sempat berbicara, orang dari balik pintu telah menerobos masuk. Bahkan, Myung-Soo dengan beraninya mengunci pintu kamar.


"Kenapa?" sarkas Nara.


Bukannya menjawab, Myung-Soo malah menarik lengan Nara agak menjauh dari pintu kemudian memperlihatkan ponselnya kepada calon istrinya itu.


"Apa benar kamu yang melakukan ini? Alasan kamu bilang jangan ikut campur adalah karena ini? Kamu mau merisak orang, Bora ....!"


"Kakak dapet itu dari Sarang?" tanya Nara lagi.


"Tidak penting aku dapat dari mana. Sekarang jawab! Kamu yang melakukan ini?"


Nara tentu saja mengangguk dengan sangat yakin. Jangan lupakan ekspresi wajah datarnya yang membuat Myung-Soo mengerutkan kening bingung. Bisa-bisanya seorang murid seperti Nara malah bertingkah nakal.


"Astagaaaa, Bora. Kau itu sadar atau tidak? Ini perbuatan tidak baik. Kenapa kau melakukan ini hah? Apa yang kau inginkan? Apa kau mendapatkan kesenangan jika mengganggu orang lain?"


Nara bukannya tersinggung malah menarik ujung bibirnya, Myung-Soo ini terlalu ribet dan berisik.


"Apa yang ingin kau katakan? Langsung pada intinya saja!" Nara yang sudah kesal pun bersuara. Memang iya, dia yang melakukan itu. Tapi dia memiliki alasan. "Sarang itu pantas mendapatkannya."


Setelah mengucapakan itu, Nara berbalik. Hendak membuka pintu akan tetapi tangannya tiba-tiba dicekal oleh Myung-Soo. Pria itu menarik tangan Nara dan melemparkan tubuh mereka ke atas ranjang.


Tatapan keduanya bertemu. Tidak ada yang bisa Nara lakukan ketika Myung-Soo mencekal kedua tangannya di atas kepala. Ia hanya diam, menatap mata itu dengan dalam.

__ADS_1


"Kau itu perempuan Bora! Kenapa kau melakukan ini kepada sesama mu, hah? Apa kau sangat ingin berkuasa? Ingin mengatakan pada semua orang kalau kau adalah anak orang berpengaruh di kota ini?"


Myung-Soo mengatakan itu masih dengan tatapan tajamnya. Dia tidak mengangkat suara tapi dengan seperti itu pun Nara tahu kalau Myung-Soo sedang marah.


"Jika aku mengatakan kalau aku menyukai hal seperti itu bagaimana? Kau mau membatalkan pernikahan kita?"


"Bora," geram Myung-Soo semakin mengetatkan rahangnya. Pria itu benar-benar habis kesabaran. Ia tidak mengerti kenapa Bora bisa berubah seperti ini.


Brukkk!


Nara membalik keadaan. Kini, Myung-Soo lah yang ada dibawah kungkungan Nara. Ya, perempuan itu duduk di atas perut Myung-Soo tanpa beban.


"Dengarkan aku, Kak. Cari tahu siapa Sarang sebenarnya. Aku melakukan itu masih dengan kesadaran ku. Jika aku tidak memiliki simpati dan hati nurani, aku mungkin sudah akan melakukan apa yang dia lakukan terhadap orang lain!"


Deg!


Myung-Soo bergeming setelah mendengar ucapan Nara. Pria itu menatap perempuan di depannya dengan tatapan yang sulit. Ia masih berusaha untuk mencerna semuanya, mencari tahu apa maksud dari perkataan Bora barusan.


"Tidurlah jika kau sangat lelah!" kata Nara seraya berjalan menjauh dari ranjang. Jangan lupakan senyum mengejek yang dia berikan kepada Myung-Soo. Nara benar-benar tidak habis pikir, orang-orang ini sangat mudah terkena tipu daya manusia biadab seperti Sarang. Tapi, sepertinya Sarang sudah tidak bisa disebut sebagai manusia.


Myung-Soo mulai terduduk. Dia melihat kembali pesan yang dia terima dari seseorang. Pesan yang mengatakan jika calon istrinya telah berani merundung orang, bahkan Sarang pun yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Myung-Soo tidak lepas dari incaran.


"Hyunsik? Bukti kekejaman Sarang?" ulang Myung-Soo.

__ADS_1


Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Ini bukan masalah ringan. Kekacauan yang dilakukan Bora dan Sarang mungkin saja tidak sesederhana pemikirannya.


"Aku akan mencari tahu sendiri," yakin Myung-Soo.


Setelah merapikan pakaiannya, Myung-Soo pun keluar dari kamarnya. Ia tidak langsung turun melainkan malah berdiri di dekat pagar tangga. Pria itu memperhatikan Nara dengan seksama. Perempuan itu, dia selalu menunjukkan ekspresi yang berbeda ketika berada di depan kedua orangtuanya dan Hyunsik dibandingkan saat bersama dengannya. Nara ini seperti sosok lain yang berbeda dari sebelumnya. Perempuan yang dia kenal tidak seperti ini. Perubahaan sikap Nara sebelum dan sesudah kecelakaan terlalu ketara.


"Wuahhhh ... Hyunsik pintar minum susunya. Minum yang banyak, Sayang. Biar cepat gede!"


"Hush!" Nyonya Han menepis tangan Nara.


"Ya jagan kayak gitu, lah! Harus ada aturannya juga. Jangan kurang dan jangan kelebihan. Enggak baik."


Nara tersenyum mendengar teguran dari sang mama. Ya mau bagaimana, dia tidak tahu cara mengurus bayi. Jadi, wajar saja jika dia sedikit melantur.


"Ekh, Nak Myung-Soo. Ayo duduk, Nak! Lihatlah! Anak kalian semakin besar!" Nyonya Han menarik tangan calon menantunya kemudian mendudukkan Myung-Soo di samping Nara.


"Wuahhhhhh ... cantik sekali. Kalian adalah pasangan yang sangat cocok." Nyonya Han tak henti-hentinya memuji.


Myung-Soo hanya tersenyum, sedangkan Nara lebih memilih untuk abai dab fokus pada bayinya.


Pria itu menatap Nara dari samping, air muka Nara, gestur tubuhnya, senyum di wajahnya. Ini bukan Bora yang dulu. Myung-Soo tahu betul, bagaimana centil dan petakilannya Bora. Dan yang ada di dekatnya sekarang malah terlihat sangat tenang dan tidak banyak bertingkah.


"Siapa kau sebenarnya, Bora?"

__ADS_1


Myung-Soo membatin dalam kebingungannya.


__ADS_2