ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 51. Berterima Kasih


__ADS_3

Duarrrr!


Suara-suara confetti party popper terdengar sangat kencang. Kertas - kertas kecil mulai berhamburan memenuhi wajah Nara dan Bora. Tadi pagi kedua mahluk itu sudah mandi bulu angsa, sekarang malah dibuat mandi serpihan isi confetti.


"Congratulations, Bora!" Orang-orang itu mengucapakan itu secara bersamaan. Banner - banner yang ukurannya cukup besar banyak sekali mereka buat. Semuanya bertuliskan ungkap hati mereka untuk Bora. Dewi sekolah adalah malaikat pelindung. Bora adalah jantung untuk Yeonwo School. Dan yang membuat Nara tidak bisa menahan air matanya ada banner bertuliskan. "Terima kasih, kami bisa berdiri menegakkan kepala kami karena bantuan darimu. Ini mungkin tidak akan hilang dari memori kami. Namun, bantuan darimu membuat kami merasa berharga. Terima kasih, Bora!"


Nara mengusap sudut matanya. Perempuan itu tersenyum meski bibirnya bergetar. Mungkin, jika saat itu ada orang yang mau membantunya, Nara juga akan melakukan hal yang sama, dia akan berterima kasih kepada orang itu, sama seperti apa yang dilakukan teman-temannya sekarang.


Dalam kesedihannya, Nara menyunggingkan senyum simpul. Dia melihat satu banner ucapan terima kasih, tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk arwah Bora. Perempuan itu mengetahuinya karena yang memegang banner itu adalah Henry.


"Cieeee ... dinotice, Ayang!" Nara membatin.


Arwah tersebut menunduk malu. Ia tidak menyangka kalau Henry akan melakukan hal ini untuknya. Bora selalu berpikir kalau Henry hanya pro kepada Nara. Namun, pria itu ternyata sangat baik. Meskipun hanya satu kalimat, akan tetapi kalimat itu telah sampai ke hatinya.


"Terima kasih, kembali Henry. Terima kasih karena sudah menganggap keberadaan ku."


Henry tersenyum. Pria itu menatap Bora dengan tatapan memuja. Ya, Henry sangat bangga kepada sosok Bora. Setelah dipikirkan dengan baik, ternyata yang selama ini paling banyak berkorban adalah perempuan itu. Selain memberikan tubuhnya, Bora juga memberikan kehidupan baru untuk orang lain. Henry bangga karena tidak semua orang memiliki pemikiran luas sepertinya. Mungkin, jika itu orang lain, dia akan berusaha untuk menyingkirkan Nara. Keegoisan terkadang bisa menjerumuskan orang. Namun tidak dengan Bora, hatinya berlalu lapang sampai dia bisa seperti ini.


....


Hari demi hari telah berganti. Minggu ke minggu, dan bulan ke bulan. Hari ini, Bara dan teman-temannya baru saja menyelesaikan acara kelulusan sekolah mereka. Semua orang terlihat sangat bahagia. Terutama Nara. Dia sangat bahagia karena saat ini, sang kekasih. Pria idaman para wanita berdiri di depan panggung, menatap ke arahnya yang sedang memberikan ucapan terima kasih, pidato singkat atas keberhasilannya meraih nilai terbaik di sekolah tersebut.

__ADS_1


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan terdengar sangat meriah. Mereka semua berdiri, termasuk Myung-Soo. Nara yang melihat itu pun langsung berlari, menghambur ke pelukan calon suaminya yang sudah sangat setia menunggunya di sana.


"Kakak!" pekik Nara. Para siswi dan siswa di sekolah tersebut bersorak heboh. Mereka semua ikut tersenyum seperti orang bodoh. Padahal yang mendapatkan kebahagiaan adalah Nara, tapi perempuan itu berhasil menularkannya kepada semua orang.


"Selamat atas keberhasilan mu, Sayang!" bisik Myung-Soo masih mendekap dan mengusap kepala Nara penuh kasih sayang.


"Hmmmm ... aku mencintaimu, Kak. Aku sangat mencintaimu!"


"Yeee?" Myung-Soo langsung melepaskan pelukan Nara. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Myung-Soo Oppa!"


Myung-Soo langsung berbalik pria itu mengepalkan tangan, berselebrasi merasa sangat bahagia dan merasa jika ini adalah keberhasilan terbesar dalam hidupnya, selama ini, hanya dia yang selalu mengucapkan kata cinta. Nara seperti masih ragu. Namun hari ini, semuanya semakin jelas.


"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Lebih dan lebih mencintaimu."


Di ujung sana, sesosok mahluk tengah tersenyum. Dia bahagia, akhirnya cerita ini berakhir happy ending untuk Nara.


"Bora~~!" Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya. "Jangan menoleh," ucap pria itu.

__ADS_1


Bora pun menurut saja.


"Dengarkan aku, Bora. Aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Jangan sampai aku harus mengulanginya karena itu tidak mungkin."


Bora kembali mengangguk-anggukan kepalanya.


"Bora ... setelah aku memikirkan ini dengan baik. Aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Wajahmu, bukan wajah yang ada di tubuhmu, tapi wajah ini, wajah ini selalu muncul di depan mataku."


Bora tertegun. Arwah itu menjadi sangat penasaran karena apa yang dikatakan oleh Henry belum selesai.


"Bora ... sepertinya aku mencintaimu! Jati dirimu, bukan kecantikan mu, aku mencintaimu karena hatimu!"


Arwah itu membekap mulutnya tidak percaya. Dia menatap Henry dari samping dengan mata membulat sempurna. Ini tidak mungkin, bagaimana bisa manusia seperti Henry mencintai arwah sepertinya ini tidak masuk akal.


"Henry, aku ...!"


Bora ingin menyentuh tangan pria itu tapi tiba-tiba dia tidak bisa melakukannya. Tangannya mendadak transparan. Dan saat mencobanya lagi dan lagi, Bora tetap tidak bisa menyentuh Henry.


"Henry ...!" Perempuan itu memanggil pria di sampingnya. Henry langsung menoleh, pria itu ikut panik saat tahu kalau dia juga tidak bisa menyentuh Bora. Terlebih, tubuh arwah itu semakin lama semakin transparant.


"Ada apa dengan mu, Bora? Kenapa kamu jadi seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2