ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 46. Kedatangan Jessica


__ADS_3

Seorang anak perempuan tengah meringkuk di dekat sell yang ada di sebuah penjara khusus wanita. Tatapannya kosong, matanya membengkak juga tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Sarang kedinginan. Perempuan itu tidak kuat menahan siksaan yang begitu mendera.


Perempuan itu menangis tanpa air mata, tanpa suara dan tanpa ekspresi. Hidupnya sudah hancur, semakin hancur karena sekarang, rumahnya bukan lagi tempat yang mewah, makanannya bukan lagi makanan yang mahal. Juga dia yang tidak bisa sekolah membuatnya sedikit menyesal. Hanya sedikit, karena, jika dia bisa memutar waktu, dia akan melakukan hal yang sama, lagi dan lagi.


"Pak. Biarkan saya untuk bertemu dengan anak saya, Pak!" Nyonya Kang terus saja memohon. Tapi, para polisi itu tidak mengijinkan.


"Maaf Bu, ini masih proses penyelidikan. Untuk sementara waktu, Anda belum bisa menemui anak Ibu!"


"Yakkkk!" Nyonya Kang berteriak. Dia benar-benar kesal karena orang-orang itu sangat tidak pengertian. "Anak saya itu masih kecil. Sarang harus bertemu dengan saya, kalau tidak, dia tidak akan baik-baik saja. Tolong!"


"Maaf Bu, kami benar-benar tidak bisa membantu."


Eishhhhhhh ... Nyonya Kang malah mengamuk di kantor kepolisian. Perempuan itu menghancurkan apa pun yang ada di depannya membuat orang-orang di sana terperangah kaget.


"Nyonya. Jangan seperti ini!" Miseo, manager sekaligus asisten nyonya Kang mencoba untuk menenangkan. "Anda harus kuat, Nyonya. Kasihan Sarang. Jika Anda bermasalah juga, siapa yang akan mengurusnya."


Untuk beberapa saat Nyonya Kang terdiam, tapi setelah itu, dia menoleh ke arah Miseo kemudian berucap. "Kita harus menemui keluarga Han. Kita harus meminta mereka untuk mencabut tuntutannya agar Sarang bisa bebas. Kita harus melakukan itu. Ini semua gara-gara mereka, jika mereka tidak melaporkan Sarang, Sarang tidak akan seperti ini."


Tanpa menunggu jawaban dari Miseo, Nyonya Kang sudah lebih dulu melesat pergi. Keluar dari kantor polisi menuju tempat dimana keluarga Han berada.

__ADS_1


Sementara itu, orang yang tadi dibicarakan oleh nyonya Kang malah sedang bercengkrama. Mereka semua tertawa bersama dengan Myung-Soo yang sangat serius membantu menyuapi Nara untuk makan.


"Hyunsik sama siapa, Ma?" tanya Nara.


"Ada suster, mama juga enggak akan lama di sini, besok kamu sudah bisa pulang. Sekarang sama Myung-Soo aja dulu ya."


Nara tersenyum. Sedang Myung-Soo terlihat sangat bahagia. Mendapatkan kepercayaan lebih dari calon mertua, siapa yang tidak senang. Myung-Soo janji, dia akan menebus segala kesalahannya agar Bora dan keluarganya bisa menerimanya lebih baik lagi.


"Lagi?" tanya Myung-Soo.


Nara menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah kenyang, Kak!"


"Andai aku punya seseorang yang perduli sama aku," Eunhae menghembuskan napas berat sebelum menunduk meratapi nasib.


Kedua perempuan yang ada di kedua sisi tubuh Eunhae menepuk punggung perempuan itu berkali-kali. "Yang sabar. Kita juga enggak punya ayang kok. Mending enggak punya sekalian daripada harus punya ayang tapi bikin pusing kepala."


"True. Enggak semua laki-laki, baik seperti Kak Myung-Soo, kebanyakan itu mereka egois dan tidak terlalu memperdulikan perasan orang lain. Enggak usah terburu-buru. Yang penting kita bisa ketemu sama orang yang tepat!"


Eunhae tersenyum, dia memeluk kedua temannya itu dengan sayang. Memang iya, tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Ya mending kalau cocok, kalau enggak cocok malah buang waktu saja. Lebih baik gunakan waktu itu untuk hal-hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk mereka kedepannya.

__ADS_1


"Myung-Soo!" panggil Tuan Han.


Pria yang sedang memberikan air minum untuk Nara menoleh. Pria itu mengangguk saat Tuan Han meminta Myung-Soo untuk keluar dari ruang rawat anaknya.


"Iya, Pa. Kenapa?" tanya Myung-Soo to the point.


Tuan Han menepuk pundak Myung-Soo lalu meremasnya cukup kuat. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya sebelum dia benar-benar berbicara. "Myung-Soo!"


Myung-Soo tersenyum.


"Untuk masalah Sarang dan teman-temannya. Papa mau minta maaf jika seandainya papa enggak akan memberi keringanan. Mau di usut sampai mana pun, papa enggak akan pernah memberikan toleran. Apalagi setelah melihat berita tentang perundungan yang dilakukan adik sepupu mu, papa harap kamu tidak keberatan karena hal ini."


Myung-Soo tersenyum. Pemuda itu tentu saja tidak akan mempermasalahkan hal itu. "Myung-Soo juga sudah membicarakan masalah ini jauh-jauh hari dengan ibunya Sarang. Myung-Soo pikir mereka akan sadar dan mau memperbaiki kesalahan mereka, jika akhirnya seperti ini, mungkin ini memang sudah menjadi takdir mereka."


Tuan Han bernapas lega. Dia pikir Myung-Soo akan tersinggung tapi ternyata tidak sama sekali. Meskipun Myung-Soo sangat menyukai anaknya, akan tetapi, kebanyakan orang biasanya akan lebih membela keluarga daripada orang asing. Ya sekalipun keluarganya salah, mereka akan mendadak buta dan tuli. Tapi Myung-Soo tidak seperti itu, pemikirannya sangat logis dan masuk akal.


"Myung-Soo!" tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari kejauhan. Pria itu menoleh, begitupun dengan Tuan Han. Wajah mereka terlihat sangat bingung begitu dua perempuan yang tidak asing berjalan ke arah mereka.


"Tante Jessica!" gumam Myung-Soo dengan kening mengkrut.

__ADS_1


__ADS_2