ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 28. Ketakutan Minho CS


__ADS_3

Nara dan Bora tersenyum meremehkan saat melewati Minho dan teman-temannya. Perempuan itu sangat ingin tertawa karena Minho tidak melakukan apa-apa. Terlebih teman Minho terlihat ketakutan dan tertekan. Jika mereka tidak bisa berubah dan tidak mengerti jika di dunia ini ada hukum tabur tuai, maka Nara akan melakukan itu untuk mereka. Nara akan memperlihatkan karma apa yang akan mereka dapatkan jika mereka melakukan hal-hal yang tidak baik.


"Kita akan ke mana Ra?" tanya Eunhae.


"Ke ruang guru dulu! Aku ingin lihat, bagaimana guru brengsek itu berkilah. Dan ya ... berikan apa yang harus perempuan itu dapatkan!"


"Baik, Ra. Aku akan menemui kalian saat jam olahraga!"


Nara pun mengangguk. Eunhae dan Nayeon pergi ke suatu tempat, sedangkan dia, Hye-In dan Bora berjalan tergesa menuju ruang guru.


"Nomor yang kau gunakan untuk menyebarkan video itu bagaimana?" tanya Nara lagi.


"Aku gunakan nomor sekali pakai. Tidak akan ketahuan!"


Nara mengangguk paham. Perempuan itu berhenti tepat di dekat ruang kepala sekolah, sepertinya tengah terjadi kericuhan karena Nara mendengar suara keributan di sana. Orang-orang dengan pakaian rapi juga mulai berdatangan. Mungkin itu adalah dekan yang akan menangani kasus Jian Man.


Plak!


"Eishhhhhhh ...."

__ADS_1


Nara dan Hye-In meringis ketika mendengar suara tamparan dari dalam ruangan itu. Sudah Pasti kepala sekolah akan memarahi Jian Man habis-habisan. Memecatnya dan membiarkan pria itu terlunta-lunta di jalanan. Nara tidak ingin Jian Man diterima si sekolah manapun. Biarkan dia mendapatkan keburukan seperti ini agar bisa menjadi pelajaran juga untuk orang lain. Bahwa, tidak selamanya bangkai yang disimpan selalu setia. Akan tiba waktunya dimana bangkai itu berkhianat dengan mengeluarkan bau dan membuat tuannya tidak selamat.


"Bajing**an. Bisa-bisa kau melakukan hal menjijikkan seperti ini! Otak mu terbuat dari apa, Jian Man! Apa kau tidak memiliki hati nurani. Mereka adalah murid mu! .... Brengsekk!"


Bughhhhh!


Nara kembali tersenyum. Puas melihat nasib buruk yang diterima oleh Jian Man. Perempuan itu bergegas untuk masuk ke kelas. Tapi sebelum itu, dia kembali dihadapkan dengan kegaduhan yang ditimbulkan Minho dan teman-temannya.


Atensi semua orang teralihkan begitu Nara masuk melewati pintu sehingga orang-orang yang tengah berkelahi itu diam. Termasuk Minho.


"Ada apa?" sarkas Nara dengan wajah dinginnya.


Nara tersenyum menyeringai, wajahnya semakin menakutkan saja. Perempuan itu berjalan mendekati Minho, menarik dasi yang dikenakan pria itu sehingga Nara bisa berbisik di samping telinganya.


"Jangan melakukan hal bodoh selagi aku masih baik Minho! Kau sendiri tahu apa yang terjadi pada Jian Man Ssaem."


Nara menarik kembali kepalanya, menatap Minho dengan senyum mengejek juga salah satu alis yang terangkat. Tangan kanan perempuan itu terulur, mengusap bahu dan tulang selangka pria di depannya.


"Mengalah saja pada wanita, Minho! Kau tidak akan menjadi rendah karena melakukan hal itu!" Nara tersenyum ke arah Minho yang sekarang tengah mengepalkan kedua tangannya. Perempuan itu mengedipkan mata membuat orang-orang yang ada di sana bersorak heboh.

__ADS_1


Apalagi ketika mereka melihat Minho memutar tubuhnya berbalik arah. Semakin heboh lah para perempuan di kelas itu.


"Wuahhhh ... Bora hebat! Bora emang pantes jadi ketua kelas kita! Bora benar-benar yang terbaik!"


Nara dan Bora hanya tersenyum, menatap punggung Minho masih dengan kilatan amarah pada matanya. Namun, Nara sedikit tersentak ketika jantungnya terasa sakit, ia memilih untuk duduk, menghindar dari semua orang.


"Apa kau baik-baik saja, Ra?" tanya Bora khawatir.


Nara mengangguk. Dia hanya kembali teringat pada kejadian di masa lalu. Hal itu masih sangat mengganggu, rasanya Nara benar-benar ingin segera keluar dari sekolah ini. Menemui orang-orang yang sama terus-menerus hanya membuatnya seperti mengulang rasa sakit yang dulu. Sekuat apa pun Nara, dia tidak mungkin bisa sembuh dengan mudah.


....


Pada sudut lain di belahan bumi tersebut. Myung-Soo tengah berdiri di depan dinding kaca di dalam ruangannya. Pria itu menatap lurus ke depan, hiruk-pikuk kota membuat bumi ini terlihat sangat indah dan lebih hidup. Namun, setelah Manse memberikan kabar atas apa yang terjadi di sekolah Nara, Myung-Soo menjadi berpikir ulang.


Orang-orang ini tersenyum hanya untuk menutupi luka mereka bukan? Banyak yang berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan sesuatu secara instan. Orang-orang yang memiliki kuasa seolah diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang tidak lazim. Apakah ini wajar?


"Aku ingin bertemu dengan Bora, Manse!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2