
Myung-Soo kembali memangku Nara. Pria itu membawa calon istrinya masuk ke UGD rumah sakit tergesa. Berteriak meminta tolong kepada dokter dan perawat di sana untuk membantu istrinya.
"Baringkan di sini, Kak!" titah seorang perawat muda.
Myung-Soo melakukan hal tersebut. Membiarkan dokter memeriksa calon istrinya yang semakin lemas.
"Napasnya sesak, Dok! Istri saya menghirup banyak asap!"
Nara mengepalkan jemarinya. Perempuan itu tersenyum tertahan. Oh Tuhan, jantungnya berdegup tak karuan hanya karena Myung-Soo memanggilnya sebagai istrinya. Pria itu mungkin telah benar-benar yakin untuk menikah dengannya, bolehkah Nara tidur dan memimpikan hal tersebut.
"Ra! Jangan melting dulu! Ini si Sarang gimana? Dia hampir bunuh kamu sama Henry. Pria itu juga sepertinya akan diantarkan ke sini."
"Anak-anak sudah mengurus ini dengan baik," batin Nara berbicara. "Tunggu saja kabar dari mereka. Hari ini Sarang tidak akan bisa mengelak lagi."
"Sebaiknya Anda urus registrasinya terlebih dahulu. Untuk mengobservasi pasien, dia harus menjalani rawat inap!" ujar dokter itu kepada Myung-Soo.
Myung-Soo mengangguk. Tangan besarnya terulur mengusap kepala Nara dengan usapan yang sangat lembut. Pria itu meminta maaf kemudian berlari untuk mengurus semua kebutuhan Nara.
Di sudut lain. Di Yeonwo School. Orang-orang di sana sudah mulai berkumpul di aula. Sarang, Minho dan juga teman-teman mereka yang lain berjajar di depan siswa lain yang ada di aula tersebut.
"Jelaskan ini, Sarang! Minho!" bentak kepala sekolah menunjuk beberapa benda yang diyakini sebagai alat yang mereka gunakan sebagai penyuplai asap saat Nara dan Henry ada di ruang OSIS.
"Dan kalian! Kalian bilang kalian akan rapat bukan? Kenapa hanya ada Nara dan Henry di sana? Apa kalian sudah merencanakan ini fari awal hah? Kalian sengaja ingin membunuh anak-anak itu!"
__ADS_1
Para anggota OSIS itu hanya menunduk takut. Mereka hanya menerima perintah dari Sarang untuk pergi ke bioskop karena saat itu Sarang menjanjikan akan mentraktir mereka.
Brak!
Kepala sekolah itu membantingkan buku ke arah lantai. Anak-anak itu terperanjat kaget. Mereka semua ketakutan. Kepala sekolah sangat jarang marah sampai seperti ini. Tapi, kesalahan yang dilakukan Sarang dan teman-temannya sudah tidak bisa dimaafkan.
"Pak! Kami memiliki bukti kalau Sarang, Minho dan teman-temannya memang sudah merencanakan ini semua!"
Eunhae berjalan mendekat ke arah kepala sekolah, dia berbicara kepada seseorang yang ada di balik earphone miliknya, setelah itu, sebuah layar besar yang ada di aula menyala, memperlihatkan aksi Sarang dan teman-temannya saat sedang merencanakan kejahatan dan juga mengurung Nara dan Henry di tempat yang sama. Bahkan Taeil, anak itu terlihat sedang mengancam seseorang sambil memegang benda-benda penyuplai asap itu.
Para guru dan murid-murid itu saling berbisik, mereka semua tidak menyangka kalau anak seorang model terkenal bisa dengan sangat tega melakukan hal seperti ini. Selain membahayakan, mereka telah membuat nama seolah hancur.
"Sarang! Minho!" ikut ke ruangan saya!" pekik Pak kepala sekolah, sedang anak-anak yang lain diserahkan kepada guru yang lain.
"Mampus kamu, Sarang!" ketus Eunhae.
Dia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku rok yang dia kenakan. Meminta izin kepada guru untuk menemui Nara di rumah sakit.
"Bu ... saya izin pergi lebih dulu. Saya harus melihat keadaan Bora dan Henry!"
Guru wanita tersebut mengangguk. Dia tidak bisa menolak karena Eunhae memang tidak terlibat dengan kejadian ini. Namun, saat Eunhae akan berbalik, salah satu guru pria meminta Eunhae untuk mengikutinya.
"Ada apa, Pak?" tanya Eunhae kebingungan.
__ADS_1
Guru tersebut memejamkan mata untuk beberapa saat, terlihat dengan sangat jelas jika dia sedang gelisah. Entah karena apa Eunhae tidak tahu.
"Eunhae. Bapak minta maaf, tapi kalau boleh, jangan sampai masalah ini sampai ke luaran. Kamu juga adalah murid di sekolah ini. Bapak mohon jaga nama baik sekolah ini!"
"What? Bapak enggak lagi demam 'kan? Bapak mau kita diam saja saat Bora dan Henry hampir meninggal gara-gara Sarang dan teman-temannya?"
Eunhae memalingkan wajah sekilas. Perempuan itu kembali menatap guru itu tidak suka. "Maaf, Pak! Saya tidak bisa. Jika memang sekolah tidak terlibat dengan keburukan yang dilakukan Sarang, ini hanya masalah personal. Saya yakin sekolah akan baik-baik saja!"
"Tapi, Eunhae!"
Perempuan itu mengangkat tangannya dengan cepat. "Maafkan saya, Pak! Saya tidak bisa memenuhi permintaan Bapak. Ini terlalu tidak masuk akal!"
Guru itu mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap punggung Eunhae dengan mata memerah menahan amarah. Jika terus seperti ini, ibunya Sarang pasti akan marah besar.
....
Di dalam rumah sakit, lebih tepatnya di dalam ruang rawat, perempuan di atas ranjang rumah sakit tersenyum saat melihat berita yang baru saja keluar di TV. Perempuan itu kembali memejamkan mata. Sarang sudah berakhir, mau pihak berwajib menghukumnya atau tidak, hukum masyarakat lebih mengerikan dari itu semua.
"Han Bora!" panggil Myung-Soo sesaat setelah masuk ke ruangan calon istrinya. Napas pria itu terengah-engah. Ia menatap Nara lantas berbicara, " Apa karena ini tadi kamu meminta maaf?"
Myung-Soo menunjuk ke arah TV yang ada di depan Nara. Kedua orang itu saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Nara bergeming, begitupun dengan Bora. Kedua makhluk itu seperti sudah menjadi satu dalam jiwa.
"Kakak marah? Apakah setelah ini Kakak akan membatalkan pertunangan kita?" Nara getir,. perempuan itu menatap Myung-Soo semakin intens tetapi orang yang ditatap malah menunduk seraya menghembuskan napas kasar.
__ADS_1