
"Tante Jessica!" gumam Myung-Soo saat melihat ibu Sarang ada di sana. Pria itu menatap Jessica aneh, heran karena tidak biasanya perempuan seperti Jessica mau datang ke tempat seperti ini tanpa dandanan yang heboh.
"Tuan Han!" Jessica langsung menghampiri ayahnya Bora tanpa melirik ke arah Myung-Soo. "Tuan Han. Saya ibunya, Sarang. Saya minta maaf untuk semua yang telah Sarang lakukan kepada anak Tuan Han. Saya janji, saya akan memberitahu Sarang kesalahannya. Tapi tolong, jangan penjarakan anak saya. Saya mohon, cabut tuntutan Anda! Anda adalah orang yang baik. Saya percaya Anda memiliki hati yang sangat mulia. Saya janji, saya akan mengurus keperluan Bora dengan baik. Saya akan membayar semua biaya rumah sakit ini, Tuan."
Tuan Han yang mendengar itu bukannya iba malah dibuat tergelak. Kalian mungkin bisa menilai sendiri, seberapa tulus permintaan maaf Jessica terhadap mereka. Hal yang pertama Jessica katakan adalah cabut tuntutan yang dilakukan olehnya. Tidak sekalipun keluar dari mulut Jessica yang menanyakan keadaan Bora. Apakah orang seperti ini pantas mendapatkan maaf? Tidak bukan?
"Maafkan saya, Nyonya Jessica yang terhormat, saya tidak akan pernah mencabut tuntutan yang telah saya lakukan. Anak Anda itu salah, lebih salah lagi karena Anda sebagai orang tua malah memberikan kebebasan untuknya."
"Tapi Tuan Han!"
Tuan Han sama sekali tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Jessica. Tidak perduli seberapa keras perempuan itu mencoba untuk membujuknya, Tuan Han tidak akan pernah tergerak. Dia tidak akan pernah sudi untuk memaafkan Sarang.
"Anak saya hampir mati, Nyonya Jessica. Anda masih berharap saya akan mencabut tuntutan saya. Anda terlalu percaya diri!"
Tuan Han melengos pergi meninggalkan Jessica, Miseo dan Myung-Soo di luar. Tidak satu pun dari mereka bisa menghentikan Tuan Han. Amarah dan kekhawatiran yang ditunjukkan Tuan Han membuat mereka malu untuk sekedar meminta didengarkan.
"Tante!" panggil Myung-Soo. Pria itu menahan kedua lengan Jessica saat perempuan itu akan terhuyung. Myung-Soo menuntun Jessica untuk duduk di kursi tunggu dan berbicara kepadanya.
__ADS_1
Jujur, Myung-Soo sangat kecewa terhadap tantenya itu. Tapi, Myung-Soo bukan pria yang akan dengan mudah memutus tali persaudaraan. Hati kecilnya meminta Myung-Soo untuk tetap memberikan empatinya untuk perempuan itu.
"Myung-Soo ... kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa Sarang harus berakhir seperti sekarang? Apa salah tante, apa salahnya?"
Perempuan itu menangis terisak. Air mata yang sejak tadi dia tahan tidak bisa dia bendung lagi. Hatinya sakit dan hancur, Jessica benar-benar kehilangan satu-satunya sumber kehidupan yang dia miliki. Saat ini, dunianya telah hancur. Jika memang dunia permodelannya harus berakhir sekarang, Jessica sudah tidak perduli lagi. Alasan dia menekuni bidang itu adalah untuk menghidupi dan membahagiakan Sarang. Kalau Sarang sudah tidak bisa kembali bersamanya, semua uang dan ketenaran yang dia miliki sudah tidak ada artinya lagi.
"Tante, Tante harus sabar. Jika Myung-Soo bisa membantu, Myung-Soo akan membantu Tante. Tapi, sarang sudah melakukan kesalahan besar. Bukan cuma kali ini dia membuat seseorang berada dalam keadaan yang buruk. Sarang harus sadar kalau apa yang dia lakukan sangatlah tidak baik!"
Jessica semakin terisak saat mendengar itu semua dari mulut Myung-Soo. Myung-Soo sudah pernah memberitahunya untuk memberikan paham kepada Sarang jauh-jauh hari sebelum ini.
"Semuanya mungkin sudah terlambat, tapi ... tidak ada kata terlambat untuk menjadi ibu yang Sarang ingin dan butuhkan. Jangan pernah meninggalkan Sarang, Tante. Myung-soo akan selalu membantu Tante dan Sarang."
Setelah kejadian itu, Yeonwo school menjadi sangat sepi. Bukan sepi karena tidak ada siswanya, tapi sepi karena sekarang sudah tidak ada yang berani membuat masalah. Satu minggu setelah Sarang pergi, anak-anak itu merasa jika sekolah mereka sudah lebih baik dari sebelumnya.
Nara melirik kanan kiri dengan senyum di bibir. Hari ini ada pelajaran olahraga. Anak-anak itu memilih untuk bermain basket dengan alasan lebih seru dan mereka beralasan kalau mereka ingin tubuh mereka tumbuh tinggi dengan usaha yang sedang mereka lakukan.
"Wuahhhhhh ... kok bisa?" keluh semua orang saat bola yang ada di tangan Nara melayang dan masuk ke dalam ring dengan indahnya.
__ADS_1
"Yessss!"
Nara dan Bora berjingkrak heboh. Kedua mahluk itu terlihat sangat bahagia karena mereka terus-terusan mencetak poin.
"Aku bilang juga apa. Kau bisa mengandalkan ku, Nara. Kalau cuma main basket, kecil lah." Bora mengatakan itu dengan perasaan bangga nya.
"Kau memang hebat, Bora." Nara membatin. Arwah itu mengangguk dengan perasaan luar biasa bahagia.
Peluit yang ditiupkan oleh guru olahraga sudah terdengar, itu artinya mata pelajaran itu sudah selesai. Mereka semua boleh kembali ke kelas mereka atau langsung istirahat juga tidak dipermasalahkan.
"Bora!"
Tiba-tiba seseorang memanggil, orang itu mendekati Nara, berdiri di depannya dengan senyum terbaik.
"Minho," gumam Nara.
"Benar, aku Minho,' ujarnya seraya tersenyum. "Aku ingin meminta maaf padamu, Bora. Aku tahu aku telah melakukan banyak dosa. Di depan semua orang yang ada di sekolah ini aku ingin memohon maaf!"
__ADS_1
Nara, Bora dan teman-temannya yang lain mendadak diam. Mereka semua menjadi patung hanya karena permintaan maaf yang dilakukan oleh Minho.
"Jangan percaya padanya, Bora!" Henry juga tiba-tiba ada di sana dan berada tepat di belakang Nara dan Bora.