ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 35. Keegoisan Nara


__ADS_3

Myung-Soo membaringkan Nara di atas tempat tidur. Perempuan itu mungkin kelelahan, dan saat mereka tengah membicarakan beberapa hal, Nara tidur dan Myung-Soo mengantarkannya lebih dulu. Besok juga Nara harus sekolah.


Tatapan pria itu tidak sekalipun dia alihkan dari sosok di depannya. Myung-Soo hanya duduk di tepian ranjang tanpa mau mengatakan apa pun. Tangan besarnya itu terulur, ingin menyentuh kepala Nara tapi tidak jadi dia lakukan.


Namun, saat Myung-Soo akan sudah beranjak, Nara menggenggam tangan itu, kelopak matanya terbuka membuat Myung-Soo tertegun. Ia mematung, menunggu apa yang akan Nara katakan tapi perempuan itu hanya diam.


"Ada apa? Aku mengganggu tidur mu?"


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Nara tergugu. Dia bingung harus mengatakan apa. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nara ingin Myung-Soo tahu kalau dia bukanlah Bora, dia bukan perempuan yang dicintai pria itu. Nara sangat ingin mengatakan jika dia adalah orang lain.


"Why? Ada yang kau butuhkan?" tanya Myung-Soo.


Perempuan di depannya itu duduk lantas bergerak mendekat untuk memeluk Myung-Soo. Memeluk pinggang pria itu, menempelkan sisi wajahnya pada perut calon suaminya yang tengah berdiri kebingungan.


"Kak ... bisakah aku memercayai mu? Bolehkah jika aku menaruh harapan lebih padamu? Aku lelah menyembunyikan ini semua, lelah jika harus berbohong kepada semua orang, setidaknya, aku butuh satu orang untuk berada di pihak ku."


"Aku calon suamimu, Bora! Apakah aku tidak boleh dipercaya? Bukankah sudah seharusnya aku melindungi mu, bahkan melindungi kepercayaan mu!"


Nara memejamkan mata ketika tangan itu terulur mengusap lembut puncak kepalanya. Disayang oleh orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita itu rasanya sangat luar biasa. Nara tahu mungkin dia egois karena hal ini. Tapi, tidak ada yang tahu ending apa yang akan dia terima nantinya. Apakah dia yang akan pergi dari tubuh ini, atau justru sebaliknya.


Untuk sekarang, biarkan Nara menikmati apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Dia tidak akan menuntut hal lebih lagi. Membuat orang-orang yang pernah menyakitinya kapok dan menerima cinta dari Myung-Soo.


....


Sementara di kamar yang lain, seseorang tengah berbaring di samping bayi mungil Hyunsik. Bora tahu kalau tadi Myung-Soo masuk ke kamarnya. Namun, dia telah berjanji dan bertekad jika dia harus bisa menerima semuanya. Tugas dia hanya untuk menjadikan Nara sebagai duplikat dirinya agar orang-orang itu tidak bersedih.

__ADS_1


Tapi ... sekarang rasanya sangat berbeda. Mengetahui kalau Nara akan semakin dekat dengan Myung-Soo, juga orang-orang yang dia cintai rasanya sangat menyakitkan. Hmmm ... begitu sakit sehingga dia tidak memiliki tenaga untuk bertahan.


"Hyunsik. Aku harap ibumu tidak melupakan niat awalnya untuk membalaskan dendam. Aku tidak akan pernah tenang untuk pergi jika orang-orang itu masih berkeliaran dengan mudah!"


Bayi mungil itu tersenyum dalam tidurnya, dia sama sekali tidak terganggu dan hanya menggeliat lucu. Bora yang sedang dilanda kegelisahan pun ikut tersenyum.


"Kau memang penghibur untuk kami, Hyunsik."


....


Pagi ini, Nara terlihat lebih ceria dari biasanya. Bahkan ketika bermain dengan Hyunsik pun Nara tidak mengijinkan orang lain untuk mengambil alih perannya sebagai seorang ibu.


"Bora. Ini sudah siang, nanti kau terlambat. Berikan Hyunsik sama mama, Nak!"


Nyonya Han tidak mengindahkan apa yang Nara minta. Perempuan itu malah merebut Hyunsik dari gendongan Nara seraya berbisik.


"Myung-Soo sudah menjemputmu. Dia ingin mengantarkan mu pergi ke sekolah!"


"Really?" tanya Nara dengan wajah berbinar. Nyonya Han pun mengangguk dan Nara langsung berlari ke arah ruang tamu.


"Tak!"


Langkah itu terhenti begitu sepasang netranya bertemu tatap dengan mata Myung-Soo yang kini tengah duduk menatap ke arahnya. Myung-Soo tersenyum, tapi Nara hanya menarik ujung bibirnya, berusaha menormalkan sikap agar dia tidak terlihat seperti perempuan yang mengejar-ngejarnya.


"Udah siap?" tanya Myung-Soo.

__ADS_1


Nara mengangguk. Mengambil tasnya kemudian pamit kepada kedua orangtuanya dan mereka pun keluar dari rumah.


"Masuklah!" kata Myung-Soo membukakan pintu mobil untuk Nara. Perempuan itu pun masuk sedang Bora sudah duduk di kursi penumpang.


Keheningan menyelimuti keduanya. Myung-Soo tidak tahu harus membicarakan apa karena dia masih agak canggung, sedangkan Nara. Dia lebih - lebih tidak tahu harus bagaimana setelah semalam berprilaku seperti itu.


"Aku ...." Keduanya menoleh karena berbicara di waktu bersamaan.


"Kakak duluan!" titah Nara.


"Kau lebih dulu, aku akan menunggu!"


Bora memutar bola mata. Ternyata lebih enak menjodohkan orang-orang ini daripada harus melihat kebucinan mereka.


"Kakak aja dulu!" Nara bersikukuh.


Myung-Soo tersenyum, dia melirik Nara sekilas lantas berkata, "Mulai besok, aku akan sangat sibuk, aku tidak mungkin bisa mengantar mu ke sekolah setiap hari. Aku juga harus pergi ke Indonesia untuk beberapa waktu!"


Nara mengerutkan kening, perempuan itu langsung tersenyum saat sadar apa yang baru saja dia dengar. "Ah, tidak apa-apa. Lagipula bukankah tidak efektif kalau Kakak mengantar aku pergi sekolah! Aku bisa sendiri. Dan untuk perjalanan bisnis, Kakak. Semoga lancar ya!"


Myung-Soo menarik tangan perempuan di sampingnya. Pria itu menggenggam tangan Nara, meminta maaf karena mungkin dia tidak bisa menjadi calon suami yang selalu ada untuk Nara. Bayangan kekasih sempurna sama sekali tidak ada dalam diri Myung-Soo.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Myung-Soo.


Nara menggelengkan kepalanya. "Bukan hal penting. Cuma mau bilang kalau minggu depan aku akan ujian!" bohongnya dengan senyum meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2