ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 30. Myung-Soo Menyesal


__ADS_3

Nara berbalik tapi saat ia melakukan itu, Myung-Soo menarik kembali pergelangan tangannya. Nara memejamkan mata, dia kembali menoleh ke arah Myung-Soo dengan air mata yang sudah menyeruak keluar.


"Nara," gumam Myung-Soo seraya melepaskan cekalan tangan pada pergelangan perempuan itu. Myung-Soo takut jika apa yang dia lakukan telah melukai perempuan di depannya.


"Kak! Bisakah tidak usah membahas Sarang di depan ku? Kau ingin menyalahkan ku, atas apa yang menimpa Sarang saat ini?" Nara mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. "Aku tahu, Sarang adalah keluarga mu. Tapi bukan berarti kau bisa membelanya tanpa melihat apa yang terjadi padaku, apa yang sudah dia lakukan sampai dia mendapatkan hal seperti itu? Kau tahu? Sarang tidak sebaik yang kau pikir!"


Myung-Soo tertegun, pria itu menatap punggung Nara yang sudah menjauh dengan tatapan sendu. Bingung harus melakukan apa karena dia sendiri pun tidak berniat untuk membela Sarang. Hanya saja memang, Myung-Soo ingin tahu masalah yang terjadi diantara mereka dari mulut calon istrinya sendiri. Bukan dari mulut orang lain.


"Seharusnya kau menggunakan kekuasaan mu untuk mencari tahu bobroknya si Sarang, Kak!"


Bora pun ikut berlalu, mengejar Nara karena dia terlalu kecewa terhadap Myung-Soo. Padahal, jika Myung-Soo mau, dia bisa dengan mudah mengetahui seluk beluk Sarang. Tapi karena memang tidak niat, sampai sekarang pun, Myung-Soo belum bisa mengetahui alasan dibalik jahatnya Nara terhadap Sarang.


"Manse! Saya mau cari tahu apa pun juga tentang Sarang! Jika terbukti kalau dia melakukan hal yang tidak baik, saya harap kamu bisa memberitahukan hal-hal itu kepada Ibu-nya!"


"Baik, Tuan!"


Myung-Soo mengembuskan napas kasar. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Meminta maaf juga tidak akan mudah karena dia sangat tahu bagaimana kerasnya Nara yang sekarang. Jika itu terjadi sebelum kecelakaan, mungkin mudah untuk membujuk calon istrinya. Namun, untuk sekarang semuanya terlihat sangat sulit.


....


Nara menghentak-hentakan kakinya dengan sangat kesal. Perempuan itu menatap ramainya kota dari atap gedung sekolah. Entah apa yang terjadi padanya, Nara tidak biasanya seperti ini. Namun, saat Myung-Soo menyebutkan nama Sarang seraya menatapnya penuh kecurigaan, Nara sakit hati karena hal itu. Dia tidak pernah menyangka jika orang bijak seperti calon suaminya bisa melayangkan tuduhan meskipun secara tidak langsung.


Kepala Nara menoleh ke samping begitu seseorang menyodorkan satu kaleng soda untuknya.

__ADS_1


"Henry!" gumam Nara dengan kening mengerut.


"Ambilah!" kata pria itu sambil menyodorkan lagi kaleng soda kepada Nara. "Aku tahu kau marah kepada pria yang menemui di lapangan!"


Nara tersenyum kecut. Perempuan itu mengambil soda dari tangan Henry tanpa keraguan. Jujur saja, jika bisa Nara sangat ingin mencoba Soju. Tapi karena dia masih di bawah umur, soda pun jadi.


"Terima kasih," ucap Nara. Henry pun hanya mengangguk. Ia menoleh ke samping, menatap Nara dari jarak se dekat ini, menjadikan perempuan itu terlihat jauh lebih cantik. "Aku dengar kau sangat jago dalam bidang olahraga?"


Nara tertawa kecil, hampir saja dia tersedak minumannya jika tidak berhati-hati.


"Kenapa malah ketawa? Aku sungguh-sungguh. Itu bukan hanya sekedar gosip karena aku sangat mengetahuinya."


Kepala Nara menggeleng dengan cepat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Orang-orang di sekitarnya ini sangat lucu, apa mereka tidak melihat kalau dia dibantu oleh Bora.


Nara mendelik tak kalah tajam. Apa, Bora mengatainya bodoh, yang benar saja.


"Hei!" Henry mengibaskan tangan di depan wajah Nara karena perempuan itu malah menatap kosong ke arah lain.


"Akh, kenapa!" tanya Nara kikuk.


"Ada apa di sana?" tanya Henry melihat ke arah yang tadi ditatap oleh Nara.


"Enggak ada apa-apa, kok. Semuanya baik-baik saja! Aku hanya sedang kesal pada seseorang!"

__ADS_1


Henry pun mengangguk mengerti. Pria itu kembali memusatkan perhatiannya kepada Nara, tersenyum seraya menatap Nara dengan mata mendamba.


"Aku congkel matamu!" ketus Bora. Dia tahu kalau saat ini Henry sedang mencoba untuk mendekat ruh penunggu cangkang yang dia miliki.


"Jangan macam-macam, Bora! Henry itu manusia normal, dia tidak tertarik akan urusan orang lain!"


semakin masam lah wajah Bora. Dia kesal setengah mati kepada pria di depannya itu. Andai saja dia bisa menghajar Henry, dia pasti akan melakukannya saat itu juga. Enak saja mau merebut Nara dari Myung-Soo.


"Inget, Nara! Aku sudah mengatakannya dengan cukup lantang, jangan mendekati pria lain Nara! Fokus mu hanya Myung-Soo!"


Lim Nara mengembuskan napas panjang. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan arwah satu ini. Maunya ikut campur aja. Padahal uang menjalani kehidupan adalah dia 'kan?


"Kau itu terlalu berisik, Bora!"


....


Beberapa jam kemudian, sosok Myung-Soo yang ada di balik meja kebesarannya dibuat terkejut karena melihat beberapa CCTV sekolah yang menunjukan kalau Sarang dan teman-temannya sedang merundung orang lain. Dan sialnya, hal itu dilakukan dengan cara yang sangat menjijikkan.


"Kirimkan ini ke ponsel saya, Mase! Saya harus menemui Sarang dan Tante saya!"


"Baik, Tuan!"


Myung-Soo kembali mengembuskan napas kasar. Pria itu menyugar rambutnya dengan mata terpejam. Selama ini, dia sudah berpikir kalau Nara berprilaku aneh tanpa sebab. Tapi, sebenarnya yang menderita paling banyak adalah korban.

__ADS_1


"Maafkan saya, Bora!"


__ADS_2