ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 17. Galaunya Nara dan Bora


__ADS_3

Nara tidak menjawab, dia hanya menatap Bora dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Entahlah, dia pun bingung jika memang hal itu terjadi. Jika mungkin bisa menjawab, Nara akan mengatakan kalau dia masih ingin tetap hidup, tubuhnya sudah dibakar habis oleh keluarganya sebelum dia bisa melakukan otopsi untuk membuktikan kebejatan orang-orang itu. Jika memang salah satu dari mereka harus mati, mungkin Bora memang orang yang tepat untuk itu.


Hantu di depan Nara tersenyum sendu. Dia tentu tahu apa yang dipikirkan oleh Nara. Dia tidak marah, Bora tahu, banyak hal yang harus Nara selesaikan. Terlebih dia juga memiliki bayi. Namun, jika dia memang diberikan pilihan seperti itu, dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama.


"Bora!" panggil Myung-Soo. Pria itu mengibaskan tangan di depan wajah calon istrinya.


"Hah? Kenapa?" tanya Nara terkejut.


"Apa yang kau lihat?" tanya Myung-Soo celingukan mencari apa pun yang mungkin menjadi pusat perhatian Nara. Tapi tidak ada apa pun di sana. "Jaga bayinya baik-baik. Kalau tidak, aku pastikan besok dia akan berada di panti asuhan!"


Nara langsung mendelik saat mendengar hal tersebut. Myung-Soo ini sudah gila. Bagaimana bisa dia mengatakan hal mengerikan seperti itu di depan anak bayi.


"Udah, Kakak masak aja sana!"


Kedua bahu Myung-Soo terangkat, pertanda kalau dia tidak peduli. Pria itu melanjutkan aktivitasnya sampai semua makanan pun siap tersaji di atas meja makan. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Akhirnya, dia bisa melepaskan apron yang dia kenakan.


"Nara, makanannya sudah siap---!"


Myung-Soo tidak melanjutkan kalimatnya karena perempuan yang dia panggil ternyata malah tidur pada sofa dengan Hyunsik yang masih terjaga.


"Dasar bocah! Tumbang juga pan!" ejek Myung-Soo. Ia mengambil selimut kecil kemudian menyelimuti Nara.

__ADS_1


"Hai!" sapa Myung-Soo pada bayi kecil itu.


"Hai," sahut Bora di depannya.


"Kenapa? Pipis? Atau pup? Mau minum susu?"


Bora menggelengkan kepalanya. "Anak bayi itu membuang kotoran, Kak. Sepertinya dia sakit perut. Jangan sampai kau muntah!" beber Bora padahal sudah bisa dipastikan kalau Myung-Soo tidak akan bisa mendengarnya.


Myung-Soo tersenyum, dia mengulurkan tangan untuk menangku bayi itu dan membawanya ke kamar. Jangan pikir mereka pergi berdua karena Myung-Soo saat ini diikuti oleh Bora dibelakangnya.


"Sepertinya kau memang pup. Aku mencium bau-bau masakan busuk di sini!" kata Myung-Soo tersenyum geli. Ia meletakan Hyunsik di atas meja khusus miliknya, kemudian mengambil ponsel.


"Aku belum pernah punya bayi. Jadi harus liat tutorial dulu. Yang sabar ya! Enggak akan kering kok e'e nya."


"Oke, pertama-tama, kita siapkan air hangat dulu!" Myung-Soo mondar-mandir kesana-kemari mencari apa pun yang dia butuhkan, setelah semuanya terkumpul, ia mulai kebingungan mencari popok dan handuk.


Mengerti akan kebingungan Myung-Soo. Bora pun berinisiatif untuk mengambilkan Myung-Soo handuk dan pokok tersebut kemudian menaruhnya di atas tempat tidur.


"Nah, ini dia!" kata Myung-Soo. Dia tersenyum, mengambil handuk itu dan meletakkannya tak jauh dari sisi Hyunsik. "Sekarang, kita unboxing popok nya."


Awalnya Myung-Soo terlihat sangat antusias, akan tetapi, saat bau menyengat itu menusuk hidungnya, Myung-Soo menjauh seraya mengibaskan tangan.

__ADS_1


"Huekkkk! Huekkkk!" Myung-Soo melipir jauh dari dekat Hyunsik karena perutnya yang kosong itu telah bergejolak.


Bora tertawa geli. Myung-Soo yang belum pernah memiliki bayi malah berusaha mati-matian untuk mengurus bayi ini. Jujur, Bora sangat terharu kerena itu.


"Pakai ini, Kak."


Bora meletakan sebuah penjepit jemuran di dekat Myung-Soo agar pria itu melihatnya.


"Akh ... maafkan aku, Hyunsik. Aku tidak tahu kalau baunya akan seperti ini!"


Myung-Soo pun mengambil penjepit tersebut, mencapit hidungnya dan mulai membersihkan Hyunsik sambil melihat tutorial yang dia tonton pada handphonenya.


"Apa burung semua orang memang sekecil ini saat masih bayi!"


Pertanyaan konyol itu lagi-lagi membuat Bora tertawa. "Memang punyamu sebesar apa, Kak?"


"Entahlah," kata Myung-Soo bergidik ngeri setelah menunduk melihat ke arah area sensitifnya.


"Kau benar-benar sangat pandai!" puji Bora. Iya, pria ini sangat mudah belajar. "Dia harus minum susu, Kak!" ucap Bora mengingatkan. Karena tahu Myung-Soo tidak bisa mendengarnya, Bora pun mengambil botol susu agar Myung-Soo mengerti.


Dan ya ... pria ini memang sangat ajaib. Setelah meletakan Hyunsik di atas ranjang, dia mengambil botol susu dan membuatkannya untuk si bayi.

__ADS_1


"Susunya segimana? Air dingin atau air panas?" tanya Myung-Soo kebingungan.


__ADS_2