ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 20. Keputusan Myung-Soo Dan Nara


__ADS_3

Kedua wanita paruh baya itu duduk dengan kepala menunduk di depan Myung-Soo dan Nara. Mereka sama sekali tidak bisa berkutik, setelah membuat keributan dan membuat Hyunsik takut, tidak ada lagi aksi saling ngotot untuk memperebutkan bayi tak berdosa itu.


"Ra. Ada baiknya juga kalau salah satu dari mereka merawat Hyunsik. Kita bisa fokus pada balas dendam yang akan kita lakukan," bisik Bora yang duduk di samping Nara.


Perempuan itu bergeming. Entahlah, dia merasa tidak aman kalau meninggalkan Hyunsik dengan ibunya atau dengan calon mertuanya. Kedua orang itu terlalu menggebu-gebu.


"Jadi gimana?" tanya Nara pada Myung-Soo.


Perempuan itu tidak menoleh, hanya menjawab dengan tangan terlipat di depan dada. "Terserah saja! Tapi memang lebih baik kalau dia tinggal bersama mu. Nanti biar aku yang melihatnya ke rumah mu. Tidak baik kalau kita selalu bersama seperti ini. Kita belum menikah, Bora. Kau juga bisa langsung pulang dan belajar setelah jam sekolah berakhir. Sekarang sudah kelas 12. Kau juga harus mempersiapkan untuk ujian dan untuk kuliah mu nantinya!"


"Loh, kok gitu sih. Hyunsik biar sama kita aja, Myung!" protes Nyonya Kang.


Myung-Soo menatap ibunya dengan tatapan yang seolah mengatakan jika Hyunsik memang bukan hak mereka. Dan Nyonya Kang pun hanya bisa mendesah pasrah.


"Ya udah enggak papa. Kau bisa datang ke rumah kami setiap hari. Bora juga pasti akan sangat senang karena hal itu." Nyonya Han merentangkan tangan meminta calon besan untuk masuk ke dalam dekapan. Dan ya, Nyonya Kang pun tidak memiliki pilihan selain menerima hal itu.


Kruyukk!


Nara membulatkan matanya dengan wajah memerah. Ya Tuhan, bisa-bisanya perut itu mengaum dalam keadaan seperti ini.


Myung-Soo tersenyum kecil, dia berdehem lalu berkata, "Aku lapar."


Nara malah semakin menunduk karena malu. Myung-Soo mengatakan itu pasti hanya untuk melindunginya saja. Bukan karena hal lain.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian makan dulu! Hyunsik biar kami saja yang jaga! Kami bisa dipercaya kok," ucap Nyonya Kang dengan cengirannya.


....


"Jangan sungkan! Makan yang banyak." Myung-Soo meletakkan lauk-pauk di atas mangkuk Nara. Dia tersenyum, menatap Nara yang begitu lahap menyantap makanan buatannya. Sesekali dia berhenti menyuap hanya untuk melihat Nara yang ada di depan mata. Perempuan ini, dia bahkan tidak bisa menjaga image nya.


"Terima kasih," ucap Nara tiba-tiba. Kalimat yang sukar diucapkan perempuan itu keluar dari mulutnya tanpa diminta. "Untuk semua kebaikan Kakak. Aku benar-benar berterima kasih. Dan ... maaf kalau aku membuat kekacauan!"


Myung-Soo menggelengkan kepalanya. Dia menatap Hyunsik yang sedang bermain dengan kedua wanita paruh baya itu. Mungkin, awalnya dia tidak perduli kepada bayi itu, tapi sekarang, Myung-Soo pun seperti merasa jika bayi itu telah menjadi bagian dari hidupnya juga.


"Aku akan sering menghubungi mu untuk menanyakan kabar Hyunsik!"


Nara pun mengangguk. Dia tidak boleh menolak hal itu. Walau bagaimanapun, Myung-Soo sudah sangat baik karena mau membantunya di saat-saat kritis.


....


"Ikh sumpah, Ra. Aku pikir Mama sama Papa bakal marah. Tapi ternyata, mereka malah seneng banget."


Nara hanya mengangguk mendengar hal tersebut.


"Jadi, gimana sama 100 juta won yang kita pinjam dari Myung-Soo Oppa. Apa kita minta aja sama Mama?"


"No," jawab Nara. "Identitas ku pasti akan terbongkar, lagipula, aku tidak ingin orang tahu kalau aku punya ibu tiri seperti Seo Jin. Kita enggak bisa ngelakuin itu. Aku sudah tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya."

__ADS_1


Bora mengangguk paham. Jika ini yang Nara inginkan, maka dia pun akan menurut saja. Toh, yang akan menjalankan misi ini pun Nara. Setelah semua masalahnya selesai, mereka mungkin bisa hidup lebih santai.


"Bora!" panggil seseorang dari arah gedung sekolah.


Nara dan Bora menoleh bersamaan. Dia melihat Eunhae dan Hye-In berlari ke arah mereka dengan begitu tergesa.


"Kenapa?" tanya Nara menatap kedua temannya itu dengan tatapan bingung dan penasaran.


Hohhh ... haaahhhh. Mereka berdua berjongkok dengan napas tersengal-sengal.


"Bora ... gawat, Bora. Anu ... itu, ada yang mau lompat dari atap gedung."


Kedua netra perempuan itu membola. Nara mendongak, mencari orang yang dimaksud oleh Eunhae.


"Bukan di sini, Ra. Di gedung belakang. Semua orang berkumpul di sana."


"What!" pekik Nara dan Bora bersamaan. Apa yang orang itu pikirkan sampai ingin bunuh diri seperti ini. Nara tidak bisa diam saja, dia harus menemui orang itu.


Nara dan Bora langsung berlari menuju gedung sekolah karena saat ini mereka masih ada di halaman depan.


Namun, Eunhae dan Hye-In dibuat lebih bingung. Nara bukan berlari ke arah orang-orang yang berkerumun, melainkan masuk ke area gedung sekolah dan berlari menuju lorong.


"Eishhhhhhh ... apa yang ingin dia lakukan," keluh Eunhae.

__ADS_1


__ADS_2