ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 33. Kejahilan Bora


__ADS_3

"Aku hanya asal bicara!" jawab Nara kesal. Padahal, dia mengatakan itu dengan kesungguhan. Nara tidak ingin setelah pertunangan ini mereka menjadi dekat dan tidak ada lagi batasan. Mungkin untuk mereka itu tidak berarti apa pun. Karena pada dasarnya itu kembali pada keyakinan masing-masing. Hanya saja, bagi Nara yang sudah pernah mengalami hal tidak menyenangkan dengan para pria, Nara tidak ingin menyerahkan tubuh Bora dengan begitu mudah. Sekalipun Myung-Soo calon suaminya, Nara tidak akan mudah diajak kompromi.


Myung-Soo mengembuskan napas lega. Sementara Nara hanya menghela napas berat. Ia kembali tersenyum ke arah tamu undangan. Namun, atensi perempuan itu malah dicuri oleh seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak menyenangkan.


Sarang tersenyum penuh kelicikan ke arah Nara. Perempuan itu menggerakan tangannya dan munculah Minho dengan teman-temannya yang lain. Mereka sama-sama tersenyum evil, mengangkat gelas berisi alkohol padahal mereka belum diijinkan untuk meminum minuman seperti itu.


"Kenapa?" tanya Myung-Soo, pria itu sadar jika ada raut tidak menyenangkan dari wajah calon istrinya.


Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Perempuan itu membisikan sesuatu di telinga Myung-Soo kemudian bertolak dari sana.


"Apa yang ingin dia lakukan," gumam Myung-Soo keheranan. Myung-Soo sangat ingin mengikuti istrinya, akan tetapi orang-orang yang menjadi rekan bisnisnya mulai berdatangan satu per satu.


"Ekhemmmm!" Nara berdehem di dekat orang-orang itu.


Sarang tersenyum kecut yang mana itu membuat Nara heran bukan main. Seharusnya Sarang telah kapok dengan apa yang sudah dia lakukan saat itu, tapi kenapa dia malah melayangkan tatapan menantang yang mana itu membuat Nara ikut melakukan hal yang sama.


"Kenapa kalian datang? Aku tidak mengundang kalian 'kan?" sarkas Nara kepada Minho dan teman-temannya.


"Aku yang membawa mereka!" ketus Sarang. Perempuan itu berjalan mendekati Nara, berdiri di hadapan perempuan itu sambil membusungkan dada. Dia memiliki hak karena dia datang dari pihak laki-laki, bukan dari pihak Nara. Jika sudah seperti itu, Sarang tidak membutuhkan persetujuan dari Nara lagi bukan?.


Seringai muncul dari wajah Nara. Perempuan itu tertawa kecil. Tawa yang mampu membuat Sarang dan teman-temannya mundur dengan kening mengkerut.


"Selamat menikmati pestanya!" kata Nara. Kali ini senyum itu terlihat sangat tulus.

__ADS_1


Bora yang ada di belakang Sarang CS mengacungkan kedua jempol tangannya. Nara pun mengangguk dan mereka meninggalkan tempat itu.


"Apa yang kau masukkan ke dalam minuman mereka?" batin Nara bersuara.


"Obat pencahar!"


"What?"


"Hmmm ... aku mendapatkannya dari kamar Papa. Papa pasti suka susah BAB."


"Tapi, bagaimana bisa kau tahu tentang ini, kau tahu kalau mereka akan datang?"


Bora mengangguk antusias. Bukan Bora namanya jika dia tidak memiliki otak licik. Bora seperti ini bukan karena ingin berbuat jahat, tapi ia hanya ingin membuat jera orang-orang itu. Jika tidak bisa membuat mereka kapok dengan tidak kan besar, alon-alon tapi santai pun jadi.


"Apa kau baik-baik saja, Bora?" tanya Myung-Soo.


"Hmmm ... aku baik-baik saja. Sangat!" jawabnya dengan senyum merekah.


Kening Myung-Soo mengkerut, wajah Nara ini membuatnya agak merinding.


"Ahhhh ... kau takut bukan, aku akan membuatmu semakin takut."


Bora tiba-tiba menarik tangan Nara kemudian mengalungkannya di leher Myung-Soo. Seketika itu juga lampu di sana padam, digantikan dengan lampu lain yang menyoroti Myung-Soo juga calon istrinya. Alunan musik menyala, membuat atensi semua orang tertuju pada sepasang kekasih di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Nara kebingungan.


"Kita hanya akan berdansa."


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu!"


"What?"


Nara mengangguk, ia ingin melepaskan tangannya dari tangan Myung-Soo tapi pria itu dengan cepat menarik pinggang Nara dan berbisik. "Injak kakiku, semuanya akan baik-baik saja."


"Tapi---!"


"Lakukan saja!"


Nara pun melakukan apa yang Myung-Soo minta. Mereka berdua berdansa dengan sangat hati-hati. Tatapan keduanya saling bertemu, menyelami perasaan masing-masing yang sulit untuk diungkapkan.


Sementara di ujung lantai dansa. Sarang, Minho dan teman-temannya malah meringis sambil memegangi perut mereka yang melilit. Kepanikan di wajah orang-orang itu dimulai ketika salah satu dari mereka membuang gas. Beruntungnya, lampu padam, tapi bau gas itu membuat semua orang kebingungan dan hampir pingsan.


"Astagaaaa ... aku ingin ke toilet!" bisik Minho kepada Taeil.


"Aku juga!"


"Perut aku sakit banget!"

__ADS_1


Orang-orang itu berlarian seperti orang dikejar-kejar setan. Mereka sudah tidak memperdulikan apa pun lagi. Malu, malu lah. Yang penting mereka tidak boker di celana. Itu lebih memalukan dan sangat menjijikan.


__ADS_2