ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 39. Cemburunya Myung-Soo


__ADS_3

Nara menaruh jari telunjuknya di atas bibir. Perempuan itu memberikan isyarat kepada Henry untuk diam sementara dia akan mengangkat panggilan video dari calon suaminya.


Ponsel itu diletakan di depan Henry. Menghindari Myung-Soo yang mungkin saja akan tahu apa yang sedang dia lakukan dan siapa yang ada di depannya kala itu.


"Halo, Kak!"


"Iya. Lagi apa? Sudah pulang sekolah? Kamu lagi di mana?"


Nara berdehem. Perempuan itu melirik ke arah Bora kemudian bersuara," "Aku masih di luar. Hari ini ada ujian dadakan. Otak ku panas, aku beli milk shake dulu!"


Nara menyodorkan tangannya sementara Henry memberikan cup minuman itu kepada perempuan di depannya untuk Nara tunjukan kepada calon suaminya.


"Ahhh ... hati-hati! Jangan pulang terlalu malam!"


"Baiklah, Kak."


Nara tersenyum. Perempuan itu baru akan menutup panggilan videonya tapi tiba-tiba Henry bersin tanpa bisa dia tahan dan tak terduga.


"Haciiwww!"


Nara dan Bora melotot tajam.


"Siapa itu Bora? Sepertinya suara laki-laki?"


Nara gelagapan. Dia pura-pura tidak mendengar yang Myung-Soo katakan tapi wajah tidak bisa berbohong, terlihat sangat jelas kalau Nara kebingungan.


"Aku tidak bisa mendengar suara mu, Kak. Di sini berisik sinyalnya jelek! ... Yah, sinyalnya enggak ada."


"Bora. Jangan tutup dulu telponnya! Hei! Han Bora!"


Tut!


Ketiga orang itu saling menatap, jika Bora memiliki jantung seperti Nara dan Henry, mungkin saat ini mereka bertiga akan terlihat seperti orang yang tengah menabuh genderang bersamaan.

__ADS_1


Untuk beberapa saat mereka hanya diam, tapi tak lama setelahnya, ketiga mahluk berbeda spesies itu tertawa terbahak-bahak.


Untuk pertama kalinya Henry bisa melihat tawa perempuan di depannya. Pria itu agak memincing. Dilihat seperti ini pun, Nara bisa memancarkan aura yang berbeda. Ada dua perempuan di depannya, dengan wajah yang sama tapi entah kenapa, Henry hanya melihat cahaya dari wajah Nara. Bahkan, ketika perempuan itu tertawa, wajah Nara asli lah yang ada dalam bayangannya.


"Aku akan membantumu, Nara!" ujar Henry yang mana hal tersebut membuat Nara dan Bora menghentikan gelak tawanya.


Lagi-lagi mereka terdiam, saling menatap dengan wajah bingung.


"Apa yang bisa kau lakukan, Henry? Ini tidak akan mudah, aku tidak akan mengijinkan mu untuk ikut campur jika kau masih menyisakan hati nurani untuk mengasihani orang-orang itu!"


Apa yang Nara ucapkan sangat jelas. Henry pun mengerti, dia tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk seraya menatap Nara dengan dalam.


"Aku setuju, Nara. Aku yakin Henry tidak akan mengecewakan kita," kata Bora.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Nara. Perempuan itu tidak memiliki pilihan lain. Henry juga sudah tahu rahasia tentang dia dan Bora. Sudah waktunya bagi Nara untuk menyelesaikan semua masalah agar ini bisa cepat selesai.


"Baiklah. Aku terima bantuan darimu, Henry!"


Pria itu tersenyum lebar, dia juga tersenyum ke arah Bora yang memberikan senyum terbaik untuknya.


"Wuahhhhh! Keren, aku bisa merasakan sentuhannya, Nara!"


Bora berjingkrak heboh. Perempuan itu menggoyangkan tangannya dengan tangan Henry, dia meminta Henry berdiri kemudian berputar layaknya boneka Barbie yang tengah berdansa dengan pasangannya.


Nara hanya tersenyum. Perempuan itu senang jika Bora bisa merasakan sentuhan dari Henry. Selama ini hanya dialah yang bisa Bora sentuh, jika ada orang lain, itu akan sangat baik.


"Henryyyy! Aku padamu!" kata Bora. Perempuan itu melompat, memeluk leher Henry dengan erat. Nara hanya terkekeh, sedang Henry lebih fokus menatap Nara yang sedang tersenyum itu. Muncul banyak perasaan aneh dalam hati Henry. Tapi dia bingung perasaan apa itu. Untuk sekarang, Henry akan mengikuti alur saja. Dia akan mengikuti apa yang hatinya inginkan.


....


Keesokan paginya, Nara sudah kembali rapih dengan baju sekolah dan juga segala atributnya. Ia tidak duduk di kursi yang ada di dekat meja makan hanya meminum sedikit susu juga mengambil selembar roti.


"Makan dulu yang baik, Nak!" kata Nyonya Han.

__ADS_1


"Bora udah terlambat, Ma. Hari ini masih ada ujian."


Perempuan itu berjalan mendekati Hyunsik. Mengajak Hyunsik berbicara dan berceloteh tapi hanya dia dan bayi itu saja yang mengerti.


"Hyunsik udah minum susu? Udah kenyang belum? Mau lagi enggak?"


Nara baru akan mengambil dot susu milik anaknya akan tetapi langsung ditepuk oleh Nyonya Han.


"Jangan macam-macam! Kamu berangkat aja dulu. Hyunsik bukan boneka, Bora! Jangan asal kamu itu!"


Nara terkekeh kecil, dia mengecup tangan Hyungsik kemudian beralih mengecup Nyonya Han dan Tuan Han bergantian.


"Bora berangkat dulu, ya Ma. Pa! Kayaknya pulang malem lagi!"


"Iya! Hati-hati!"


"Siap!"


Perempuan itu memberikan hormat dengan senyum terbaik yang dia miliki. Bukan hanya Nara yang tersenyum, tapi Bora juga tersenyum lebar, dia sangat senang karena sedikit demi sedikit Nara mulai membuka hatinya untuk orang-orang yang dekat dengan mereka. Tidak lagi hanya murung, Nara mulai menikmati apa yang sudah Tuhan berikan padanya.


"Bora!" panggil seseorang tiba-tiba. Nara yang sudah akan naik ke mobilnya kembali berbalik.


"Kak Myung-Soo!" gumam Nara dengan kening mengerut.


"Aku yang akan mengantar mu ke sekolah!"


Belum sempat Nara menjawab, Myung-Soo sudah menarik tangan Nara lantas menuntun perempuan itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Kenapa orang ini ada si sini?" batin Nara kebingungan.


Bora mengangkat kedua bahunya acuh. Dia juga tidak tahu, kenapa Nara malah bertanya padanya.


"Jangan-jangan!" ucap kedua orang itu bersamaan. Netra keduanya terbelalak. Mereka saling menatap kemudian menatap Myung-Soo yang sedang berjalan mengitari mobilnya.

__ADS_1


"Aku harus keluar sekarang," panik Nara.


"Aku ikut!"


__ADS_2