ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 32. Maju Selangkah


__ADS_3

Visual dulu.



Lim Nara



Bora sebelum ketemu Nara



Nara dalam tubuh Bora.


Maybe kayak gini kali ya perbedaan ekspresi wwjah Bora sebelum dan sesudah dirasuki Nara.


Myung-Soo gelagapan. Pria itu menoleh ke sembarang arah karena terlalu malu dengan apa yang baru saja dia katakan. Myung-Soo tidak sengaja, tapi memang dia tidak bisa memungkiri kalau Nara itu memang cantik.


Bora mendelik, arwah itu menatap Myung-Soo dengan tatapan tidak percaya. Dari mana aja Myung-Soo sejak dulu, kenapa dia baru menyadari kecantikannya yang pari purna itu.


"Aku rasa dulu dia tidak memiliki penglihatan yang baik," ucap Bora dengan wajah masam.


"Tapi kau memang cantik, Bora!" batin Nara.


Bora menjatuhkan bahunya lesu. Perempuan itu merasa jika semuanya sudah tidak berarti. Entah kenapa, Bora seperti merasa jika perempuan yang Myung-Soo sukai adalah Nara, bukan dirinya. Dulu, ketika dia berusaha untuk menampakan diri, Myung-Soo selalu berpaling bahkan mungkin dia tidak pernah menganggapnya ada. Tapi, setelah ada Nara, semuanya menjadi berbanding terbalik.


Ia kembali menoleh ke belakang, seperti dugaannya, Myung-Soo tengah mencuri-curi pandang kepada temannya, Nara. Dia sepertinya akan gila karena cemburu pada wajahnya sendiri. Bayangkan saja, orang yang kamu cintai memujimu cantik, tapi sayangnya, itu hanya cangkang, Bora tidak tahu, yang mana yang Myung-Soo sukai, apakah arwah Nara, atau cangkangnya.

__ADS_1


Mobil itu sampai di depan rumah keluarga Han. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau Myung-Soo akan ikut keluar.


"Kakak enggak mau ketemu Hyunsik?" tanya Nara.


Myung-Soo menggelengkan kepala. "Tidak dulu. Besok kita akan bertunangan, tidak baik kalau aku pulang terlalu larut."


Nara pun mengangguk. Baru akan membuka pintu mobilnya, dia malah dibuat terkejut karena Myung-Soo tiba-tiba menarik tangannya kemudian mendekapnya cukup erat.


Perempuan itu diam, dia tidak bisa bergerak dan hanya menerima apa yang Myung-Soo lakukan padanya. Perasaan aneh itu kembali muncul, degup jantungnya juga desiran hangat pada aliran darah membuat Nara hanya bisa mematung. Apa yang salah dengannya, kenapa dia tidak bisa mengontrol respon tubuhnya sendiri.


"Maafkan aku, Bora. Aku sempat meragukan mu. Aku janji, aku akan lebih hati-hati. Aku tidak akan menanyakan kenapa dan apa alasan kau melakukan hal-hal seperti itu."


Nara benar-benar diam, apa yang Myung-Soo katakan itu seperti masuk melewati telinga kanan, ke luar lewat telinga kiri.


"Masuklah! Sampai bertemu besok malam!" ucap Myung-Soo.


"Yakkkk!"


Nara memekik ketika kesadarannya mulai kembali. "Apa yang kau lakukan!" protes Nara tidak terima.


Bora memutar bola mata, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Nara karena terlalu kesal dengan tingkah perempuan itu.


"Aku tahu kau sudah mulai menyukainya, Nara. Tapi kau berpura-pura. Aku sudah bilang Oppa Myung-Soo itu tampan, kau yang tidak percaya."


Bora terus saja menggerutu entah karena kesal atau cemburu. Yang jelas, Bora kesal karena Nara tidak mau mengakui perasaannya kepada Myung-Soo.


.....

__ADS_1


Malam ini, acara pertunangan Myung-Soo dan Nara pun diadakan di sebuah ballroom hotel termewah di kota tersebut. Acara ini benar-benar acara yang sangat megah, bukan seperti pertunangan, melainkan seperti sebuah pesta pernikahan. Tamu yang diundang pun bukan hanya sekedar dari pihak keluarga, melainkan banyak sekali relasi dan juga para petinggi dari perusahaan ayahnya Bora dan juga berusaha ayahnya Myung-Soo.


Ketika host telah berada di atas panggung, Myung-Soo dan Nara datang dari arah yang berbeda. Kedua orang itu berjalan dengan sangat apik, bak putri raja dan pangeran dari negri kayangan, keduanya terlihat sangat serasi. Sorot lampu yang menyinari mereka berdua membuat visual itu benar-benar terlihat sangat indah dan sangat mempesona.


Hingga, ketika kaki keduanya akan bersentuhan, mereka berhenti, memberikan jarak yang cukup agar mereka tidak terlalu menempel.


Keduanya saling menatap satu sama lain, bersitatap yang mana itu membuat jantung Myung-Soo dan jantung Nara berdegup tak terkendali. Debaran itu semakin lama semakin menggila, apalagi saat orang tua Bora mengumumkan dan juga menjadikan pertunangan itu sah di depan semua orang.


Tiba waktunya ketika Myung-Soo dan Nara saling bertukar cincin. Sepasang kekasih dengan umur yang berbeda 10 tahun itu terlihat sangat gugup. Nara bisa merasakan tangan Myung-Soo yang sangat dingin sedangkan tangannya sendiri berkeringat banyak.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan semua orang membuat acara pertunangan itu terasa lebih meriah. Myung-Soo dan Nara saling menggenggam kemudian membungkuk ke arah para tamu untuk mengucapakan terima kasih.


"Kak!" bisik Nara.


"Hmmm!"


"Kau tidak akan meminta hal-hal aneh setelah ini 'kan?"


"What?"


Myung-Soo mengerutkan keningnya bingung ketika mendengar pertanyaan aneh dari Nara. Dia berusaha berpikir, kemana maksud pembicara perempuan itu, dan saat dia sadar, barulah Myung-Soo terbelalak.


"Bora, kau!"


__ADS_1


Nara untuk pertunangan


__ADS_2