
Arwah itu gelagapan. Dia kebingungan saat ditodong seperti itu oleh Nara. "Apaan sih. Enggak usah ngomong yang bukan-bukan mana mungkin aku menyukai Henry. Aku itu bukan manusia, Nara."
Perempuan itu tersenyum tipis, dia mendekat ke arah Bora, bersandar pada bahu sahabatnya itu dengan tatapan yang masih fokus menerawang ke depan. Nara menggenggam tangan Bora erat. Perempuan itu merasa berat hati karena harus membiarkan Bora menderita seperti ini.
"Bora. Aku tahu, aku salah karena sudah mengambil tubuh mu. Dan jika aku saat itu diberikan pilihan, aku akan tetap mengambilnya. Apakah kau akan membenciku?"
Nara bertanya dengan suara lirih.
"Aku tidak akan pernah membencimu, Nara. Ini semua sudah takdir dari Tuhan. Mungkin, kehidupan kita sebelumnya sangat berbanding terbalik. Aku terlalu bahagia dengan kehidupan yang Tuhan berikan, itu sebabnya Tuhan menyudahi kehidupan ku."
Kedua mahluk itu tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Baik Nara maupun Bora, mereka sama-sama sudah pasrah dengan apa yang Tuhan berikan. Mulai sekarang, mereka tidak akan mempertanyakan apa pun lagi. Hanya akan membiarkan semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan.
.....
Keesokan paginya, Nara bangun dari atas ranjang. Perempuan itu menyalakan televisi. Nara tersenyum ketika melihat berita tentang Minho dan juga teman-temannya. Pria itu diseret dengan tangan diborgol. Tugas Nara sudah selesai. Dia sudah menerima keadaan karena orang-orang itu sudah mendapatkan hukuman setimpal yang memang harus mereka dapatkan dari perbuatan mereka.
"Wuahhhhhh ... kita bisa sekolah dengan tenang, Bora!"
"Yeayyyy. Aku suka sekolah!" Bora memekik sambil berjingkrak di atas ranjang. Arwah tersebut melemparkan bantal-bantal. Dan hal itu juga akhirnya dilakukan oleh Nara.
"Kau suka sekolah atau suka ketemu sama Henry!"
"Yakkkk! Aku tidak seperti itu!" pekik Bora. Kedua perempuan itu bertarung sambil melempar bantal sampai bulu - bulu angsa dari bantal tersebut berhamburan.
"Hahaha. Kau jadi sinterklas, Nara!" Bora tertawa melihat bulu angsa itu menempel pada kedua alis Nara.
"Hahaha. Kau juga terlihat seperti nenek - nenek!" Nara cekikikan. Dia juga tertawa saat bulu-bulu itu menempel pada rambut Bora.
"Bora!"
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Bora!"
Nyonya Han mengetuk pintu itu. "Bora!"
Krietttt!
Bugh!
Mereka semua mematung. Nara, Bora, Nyonya Han yang tertimpuk bantal lemparan dari Bora bergeming.
"Mama!"
Perempuan itu melompat dari atas ranjang. Dia mendekati ibunya, membersihkan rambut Nyonya Han dari bulu-bulu angsa tersebut.
"Ngapain kamu, Bora. Bukannya siap-siap sekolah malah menghancurkan kamar seperti ini."
Nara memeluk perempuan itu. Mendekapnya dengan erat. Ternyata, seperti ini rasanya memiliki orang sebagai tempat berbicara. Sangat nyaman, juga perasaannya menjadi plong. Benar-benar menyenangkan. Nara menarik tangan Bora. Perempuan itu meminta Bora untuk memeluk ibu mereka.
"Mama. Bora sayang sama Mama. Bora sangat mencintai Mama. Terima kasih untuk semua yang Mama berikan pada Bora. Bora bangga dan Bora sangat bersyukur memiliki ibu seperti Mama!"
Kata-kata itu hantu Bora yang mengatakan tapi Nara yang menyampaikan.
"Kamu itu kesambet atau bagaimana, Bora? Kamu enggak sakit 'kan?" Nyonya Han sudah sangat ingin menjauhkan Bora. Dia ingin memegang kening anaknya itu barangkali Bora sedang demam tinggi.
"Euuummm. Jangan seperti itu, Mama. Bora benaran sayang sama Mama."
"Eishhhhhhh ... sudahlah! Kamu ngomong kayak gitu Mama jadi takut. Buruan mandi. Myung-Soo udah nunggu di bawah!"
__ADS_1
"Kakak?" heboh Nara dengan wajah berbinar.
"Iya, calon suami kamu udah nunggu dari tadi."
Mendengar hal itu Nara langsung berlari ke kamar mandi. Baru beberapa langkah, dia sudah kembali, mengecup pipi Nyonya Han membuat perempuan paruh baya itu bergidik ngeri.
20 menit kemudian, Nara sudah bersiap dengan seragam dan juga tas gendongnya. Beberapa kali perempuan itu melirik ke arah cermin untuk memeriksa penampilan. Setelah yakin, barulah dia berlari menuju lantai bawah.
Orang yang sedang duduk pada sofa di dekat ujung tangga tersenyum. Dia menatap Nara tanpa berkedip, gadis belia ini memang sangat cantik. Apalagi ketika dia dalam mode rapih seperti sekarang, Myung-Soo menyukai semuanya. Karakter Bora, wajah cantiknya, postur tubuhnya, dan semuanya, Myung-Soo benar-benar sangat menyukai itu.
"Kakak!" panggil Nara.
Myung-Soo pun mengangguk.
"Mama udah buatkan sandwich untuk sarapan kamu. Makan di mobil aja. Udah enggak bakal keburu kalau harus sarapan di rumah."
"Jangan sentuh Hyunsik!" ketus Nyonya Han. "Kamu udah telat. Minggu depan kamu sudah harus ujian. Berangkat sekarang atau Mama usir dari rumah!"
Nara mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya sudah, usir saja. Biar aja Bora tinggal sama Kak Myung-Soo. Iya enggak?" Nara mengedipkan salah satu matanya pada sang kekasih.
"Huekkkk!" Nyonya Han membuat ekspresi seperti orang tengah muntah. "Berani satu rumah sebelum nikah mama coret kamu dari kartu keluarga, Bora!"
"Bora enggak takut. Wleeee!"
Nara malah semakin membuat Nyonya Han meradang. Perempuan itu menyambar kotak bekal lantas berlari. Untuk kesekian kalinya dia berbalik, lupa jika yang lebih penting adalah Myung-Soo.
"Yakkkk! Anal nakal. Awas kalau pulang. Mama cincang kamu!"
"Bora enggak takut. Cincang Bora tapi Mama yang meninggoy!
__ADS_1
"Eishhhhhhh. Kurang asem kamu, Bora."