ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 50. Cintanya Berbalas


__ADS_3

"Kakak mau?" tanya Nara menyodorkan sandwich yang sedang dia makan kepada calon suaminya. Memang sudah dia gigit, Nara memberikan sudut lain yang belum dia makan.


"Bolehkah?" tanya Myung-Soo dengan senyum bahagia. Setelah masalah itu selesai. Nara sikapnya lebih baik, perempuan ini telah lebih membuka hati untuknya.


"Hmmm. Aku suapin, Kak!" Nara kembali menyodorkan sandwich tersebut.


Myung-Soo mengambil tangan perempuan itu. Namun, bukan sisi yang utuh yang dia gigit. Melainkan dari sisi bekas gigitan kekasihnya itu.


Perempuan itu cukup terkejut. Dia menatap Myung-Soo dengan dalam. Ini bukan mimpi 'kan? Myung-Soo mengigit makanan yang sudah dia gigit. Kenapa tidak jijik?


"Kakak---!"


"Kenapa? Ini enak," ucap Pria itu membuat pipi Nara bersemu merah. Perempuan itu terlihat sangat malu, dan Myung-Soo menyukai hal tersebut. Ekspresi Nara yang seperti ini membuatnya yakin kalau sang kekasih memang sudah bisa membalas perasaannya. Cinta Myung-Soo tidak bertepuk sebelah tangan lagi.


"Ngebucinnnnn terusssszzzz!" sirik Bora dari belakang Myung-Soo. Bisa-bisanya dia yang sudah mati malah dijadikan obat nyamuk.


Nara mendelik. Perempuan itu membatin. "Sirik terusssszzzz. Mangkanya cari cowok biar enggak jomblo. Atau nanti aku bilang sama Henry kalau kamu suka sama dia."

__ADS_1


"Yakkkk! Jangan lakukan itu, Nara. Kau ingin aku membunuh mu hah?" sungut Bora kesal.


Nara terkekeh kecil, hal itu membuatnya sangat ingin tertawa. Namun, dia lupa jika Myung-Soo masih tidak mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Pria itu tentu saja heran, dia kebingungan tapi berusaha untuk bersikap normal.


"Ada apa Bora?" tanya Myung-Soo.


Perempuan itu tersentak karena terkejut. Namun, beberapa saat kemudian, Nara langsung tersenyum. "Enggak papa, Kak. Aku hanya ingin tertawa saja. Ada beberapa hal yang selalu membuatku ingin tertawa. Anak-anak di Yeonwo School sangat lucu. Aku begah sekolah di sana. Meskipun ada beberapa murid yang jahat, tapi banyak juga orang-orang baik."


Myung-Soo tersenyum. Tangan kanan pria itu terulur, mengusap puncak kepala sang kekasih dengan usapan yang sangat lembut. "Jaga diri baik-baik, Sayang. Meskipun semua masalah di sekolah sudah clear, kakak harap kamu bisa menjaga diri dengan baik. Kakak enggak bisa tiap waktu ada di dekatmu. Jadi, bisakah kau menjaga semuanya untuk calon suamimu?"


Nara mengangguk. Anggukan perempuan ini memang sangat samar, tapi Myung-Soo masih bisa melihatnya, melihat semua yang Nara lakukan. Respon perempuan ini. Myung-Soo hapal semuanya. Dan sekarang, Myung-Soo sudah semakin yakin jika Nara adalah calon istrinya yang paling cocok.


Sesampainya di sekolah, Nara dan Bora celingukan. Keadaan di sana sangat sepi. Benar-benar seperti sekolah yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.


"Nara, kita enggak salah tanggal kan? Hari ini bukan hari libur?"


"Mana mungkin aku salah. Mama, Papa sama Kak Myung-Soo juga enggak bilang apa-apa."

__ADS_1


"Tapi ini hening banget Nara. Aku takut!"


Nara mengerutkan kening. Perempuan itu melirik ke samping. Menatap Bora dengan mata memincing. Jangan bilang hantu takut sama hantu, jika iya, Nara getok juga kepala sahabatnya itu.


"Jangan ngelantur, Bora. Kau itu hantu. Masa takut sama hantu!"


"Tapi aku cantik. Aku pernah melihat beberapa hantu yang tampilannya buruk. Aku tidak menyukainya!"


Bora, arwah itu malah bersembunyi dibalik punggung Nara. Sedang perempuan yang menjadi tameng terus saja berjalan melewati lorong meskipun hatinya sangat takut.


"Kenapa tadi kita enggak ajak Kak Myung-Soo aja? Orang-orang itu tidak akan mencelakai kita kan? Aku enggak mau mati dua kali, Nara."


"Shhutttt!" Nara menaruh jari telunjuknya di atas bibir.


Langkah kakinya semakin melambat saja. Nara sudah akan sampai di depan kelas, tapi keadaan di sana malah lebih sepi. Lampu - lampu yang biasanya menyala kini padam, ada beberapa yang berkedip dan seperti sengaja dihidup matikan oleh seseorang.


"Nara jangan sampai hantu-hantu itu mengerjai kita."

__ADS_1


Kaki Nara melangkahkan masuk ke dalam kelas perempuan itu. Baru saja keduanya berpijak di sana tiba-tiba ....


__ADS_2