ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 6. Memanfaatkan


__ADS_3

"Apa sih!" Nara menghempaskan tangan Myung-Soo dari tangannya. Gadis itu mendelik menatap Myung-Soo tidak suka.


"Masuk dulu, Bora!" kata Myung-Soo. Dia tidak membentak, tapi raut wajahnya pun sangat tidak menyenangkan.


Nara mengembuskan napas kasar, ia masuk ke dalam mobil tersebut meskipun hatinya benar-benar sangat dongkol. Tidak ada yang ingin dia bicarakan. Nara diam, dan Bora yang ada di jok belakang pun hanya bisa menunggu, kelanjutan drama di depannya itu.


"Kenapa kau memukul orang, Bora?" tanya Myung-Soo akhirnya. Nara tetap diam, enggan untuk menjawab. "Apa yang terjadi dengan mu. Kenapa kau berubah seperti ini, bukannya kau adalah gadis lugu dan tidak pernah bersikap kasar kepada orang lain!"


Bora mengangguk akan tetapi detik berikutnya dia mendelik tidak suka. Nara itu tidak salah, kenapa Myung-Soo harus mengatakan hal-hal seperti itu tanpa tahu masalah apa yang terjadi sebenarnya. "Nara, katakan sesuatu! Bilang kalau Sarang lah yang salah! Dia yang selalu merundung mu di masa lalu!" Hantu Bora memohon dengan wajah memelas akan tetapi, Nara masih dengan posisi yang sama. Dia Diam, lagi-lagi tidak ingin menjawab semuanya.


"Kenapa diam saja, apa karena kecelakaan itu kamu jadi seperti ini?" tanya Myung-Soo lagi. Dia benar-benar heran, sebenarnya ada apa dengan gadis ini, Myung-Soo tahu, Bora bukan gadis yang menyukai kekerasan. "Bora kau--"


"Apa?" bentak Nara di depan wajah Myung-Soo. "Jangan sok tahu jika kamu hanya melihat semuanya di permukaan. Apa Sarang adalah gadis yang kau sukai? Kenapa kau sangat perduli padanya? Dan siapa kau sampai berani menceramahi ku seperti ini. Jangan sok Myung-Soo, kau tidak memiliki hak apa pun atas ku!"


Nara membuka pintu mobil dan membantingkannya kencang. Gadis itu berjalan tergesa menjauhi mobil Myung-Soo entah mau ke mana tidak ada yang tahu. Myung-Soo pun keluar dari mobilnya, ingin mengejar Nara akan tetapi langkahnya terhenti karena sebuah motor besar berhenti di depan Nara.


"Naiklah!" titah Eunhae pada Nara. Gadis itu melirik Myung-Soo sekilas kemudian naik ke atas motor Eunhae. Nara tersenyum sinis, biarlah hubungannya dengan Myung-Soo hancur. Dia benar-benar tidak bisa menjalani hubungan seperti itu.


"Bora! ... pulang bersamaku! Han Bora!" Myung-Soo berteriak akan tetapi tidak berarti apa-apa karena Nara telah melesat pergi dari sana. Hembusan napas kasar keluar dari mulut pria tampan itu. Apa yang salah dengan Bora. Dia merasa kalau dia tidak mengatakan sesuatu yang salah. Tapi kenapa ... kenapa semuanya menjadi seperti ini.


"Ini semua gara-gara kau!" ketus Hantu Bora. Dia merengut menatap Myung-Soo tidak suka. "Seandainya kau tahu apa yang sudah Sarang dan teman-temannya lakukan pada Nara, kau akan menyesal karena telah mengucapakan itu pada Nara."

__ADS_1


"Kakak!" panggil seorang gadis dari belakang Myung-Soo. Pria itu pun menoleh.


"Aku harus pergi." Myung-Soo berjalan hendak meninggalkan Sarang, akan tetapi Sarang menahan lengannya.


"Ada apa, Kak? Ada hubungan apa kau dengan Bora?" tanya gadis itu menatap Myung-Soo penasaran.


"Dia calon istri, Kakak!" jawab Myung-Soo singkat, padat. Pria itu menepis tangan Sarang yang mencengkram kuat lengangnya. Dia dan Sarang memang memiliki hubungan keluarga, Sarang adalah sepupunya, oleh karena itu dia agak kaget saat melihat Bora menghajar Sarang seperti tadi.


"Gila, Kak Myung-Soo mau nikah sama si Bora, bencana apa ini. Gak bisa, ini enggak bisa dibiarkan, Kak Myung-Soo enggak boleh nikah sama cewek brengsek itu!"


Myung-Soo meninggalkan Sarang tanpa mempertanyakan sepupunya itu pulang bersama siapa. Dia harus tahu Bora pergi ke mana karena dia sudah berjanji akan mengantarkan Bora pulang ke rumahnya. Terlebih malam ini orang tua Bora ingin membuat acara makan malam antar dua keluarga. Jika anak itu hilang, Myung-Soo takut kehilangan kepercayaan orang tua Bora. Walau bagaimanapun, gadis itu pernah terluka karenanya, Myung-Soo harus bertanggungjawab untuk itu.


Motor besar Eunhae berhenti di depan sungai besar yang terkenal dengan nama Sungai Han. Nara turun dari motor itu, mendekat ke arah pembatasan sungai. Sejauh mata memandang, sejauh itu pula pikiran Nara. Dia tidak tahu apakah rencana balas dendamnya akan berhasil atau tidak. Siapa yang harus dia singkirkan lebih dulu, apakah Myung-Soo, Minho, atau Sarang? Tidak, mantan wali kelasnya harus menerima lebih dulu.


"Bora! Aku tahu siapa Sarang dan teman-temannya. Semua anak-anak di sekolah pun sudah tahu," kata Eunhae.


Nara hanya mengerutkan kening menunggu kelanjutan cerita gadis di sampingnya.


"Kita semua tahu, Minho, Sarang dan teman-temannya bukanlah anak-anak baik. Tapi, kita enggak bisa ngelakuin apa-apa!"


Eunhae menjelaskan jika anak-anak yang suka merundung anak lain adalah anak-anak orang kaya, mereka memiliki kuasa di Yeonwo School, oleh karena itu tidak pernah ada anak-anak yang mau mengangkat suara. Sampat beberapa kali ada murid yang ingin bunuh diri karena sudah tidak tahan, tapi karena saat itu ada murid pindahan baru, posisinya tergantikan dan murid lama itu memilih untuk keluar dari sekolah.

__ADS_1


Nara kembali diam, semuanya hening untuk beberapa saat. Orang yang menjadi lawannya bukakanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang beruang dengan segala kuasanya.


"Eunhae!" panggil Nara.


Gadis itu menoleh seraya tersenyum.


"Kau mau bergabung dengan ku tidak?" tanya Nara.


"Maksudmu?"


Nara tersenyum menyeringai. Gadis itu berbisik di samping telinga Eunhae yang mana hal itu membuat Eunhae membelalakkan matanya tidak percaya.


"Kau serius dengan itu? Tapi kenapa?" tanya Eunhae kebingungan.


"Iya atau tidak?" sarkas Nara menatap Eunhae dengan tatapan penuh arti. Eunhae pun mengangguk, tanpa sadar, gadis itu ikut tersenyum, Nara pun tertawa kecil, membuat Eunhae merinding tetapi dia juga sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Nara.


Eunhae menatap Nara dari samping, gadis ini benar-benar sangat misterius, tawanya seperti tawa iblis yang sangat mengerikan.


"Han Bora!"


Panggil Myung-Soo. Akhirnya pria itu bisa menemukan Nara. Hal baru yang dia lakukan, seumur hidupnya dia tidak pernah mengejar seorang wanita, dan sekarang, karena harga diri, dia harus mengambil anak ini agar Bora bisa ikut bersamanya ke acara dinner malam.

__ADS_1


Gadis itu berbalik, dia menatap Myung-Soo dengan senyum di bibirnya. "Mungkin, akan lebih menyenangkan jika aku juga menggunakan kekuasaan yang kau miliki, Myung-Soo. Aku akan membalaskan dendam tanpa harus membuat tanganku kotor!"


"Aku harus pulang, Eunhae! Kita akan bertemu lagi besok!" ucap Nara meninggalkan Eunhae lantas berjalan mendekati Myung-Soo. Eunhae pun hanya mengangguk, cukup lama dia menatap Myung-Soo dan Nara, sampai sepasang sejoli itu pergi jauh dari pandangannya.


__ADS_2