ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 31. Masih Mengelak


__ADS_3

Dua orang dewasa kini tengah duduk berhadapan dengan satu perempuan yang duduk di tengah-tengah keduanya. Myung-Soo benar-benar mendapati janji, pria itu menemui orang tua Sarang untuk membahas masalah perilaku Sarang disekolah. Video yang diberikan oleh Manse juga sudah dia perlihatkan kepada tantenya itu.


"Jawab Mama, Sarang! Apa benar kau melakukan perundungan di sekolah hah!"


Nyonya Kang menatap putri semata wayangnya itu dengan tajam. Matanya memincing seperti tatapan singa yang siap untuk menyergap mangsa.


"Maafkan saya Tante, saya mengatakan ini bukan karena saya benci pada Sarang. Saya hanya tidak ingin Sarang berbuat lebih jauh sehingga nantinya dia sendiri yang akan rugi."


Nyonya Kang mengangguk mengiyakan. Dia meminta maaf kepada keponakan dari mendiang suaminya itu. Nyonya Kang tidak tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini.


"Tante janji, tante akan menghukum Sarang dengan baik, Myung-Soo. Terima kasih karena sudah memberitahukan hal ini kepada tante!"


Myung-Soo mengangguk mengiyakan. Ia tersenyum kemudian beranjak dari duduknya. "Myung-Soo pulang dulu, Tante. Masih banyak urusan yang belum Myung-Soo selesaikan."


"Pergilah!" kata Nyonya Kang. Dia mengantar Myung-Soo sampai ke pintu lalu berbalik dan tanpa diduga-duga, perempuan itu menghampiri Sarang dan ....


Plakkkk!


Satu tamparan pelak mendarat pada pipi perempuan itu, Sarang tercengang dan langsung mendongak menatap mamanya tidak percaya.


"Kamu itu bodoh, Sarang! Kamu mau bikin mama malu, hah! Melakukan hal seperti itu saja tidak becus! Seharusnya kau main cantik. Bukannya menyodorkan diri seperti ini!"


Sarang tersenyum miris. Perempuan itu menatap mamanya dengan kilatan amarah, kedua tangannya terkepal sangat kuat. Ini semua gara-gara Nara, gara-gara perempuan itu dia harus menerima kemarahan mamanya. Nara pasti sudah banyak membicarakan tentangnya kepada Myung-Soo. Mereka akan segera bertunangan, wajar jika hal ini terjadi bukan.


"Sarang akan menyelesaikan ini dengan baik, Ma!"

__ADS_1


"Good! Jangan sampai kamu mempermalukan mama!"


Perempuan itu melengos, meninggalkan Sarang yang masih mematung di tempatnya. Seringai muncul dari sudut bibir Sarang, tatapan itu berubah menjadi tatapan menantang penuh kelicikan. Entah apa yang akan Sarang lakukan, tapi sepertinya dia masih belum kapok dengan pelajaran yang telah dilakukan Nara padanya.


"Brengsekkk kau Bora! Aku membencimu. Sangat membencimu!"


.....


Sementara orang yang dimaki Sarang malah sedang tersenyum. Nara melambaikan tangan pada teman-teman persekutuan. Ia kembali berjalan ke arah luar sekolah, ingin mencari mobil yang dibawa sopirnya akan tetapi mobil itu tiba-tiba hilang, malah ada mobil lain yang dia tahu kalau itu adalah mobil calon suaminya.


Nara mengembuskan napas kasar. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan Myung-Soo, tapi pria itu malah menghampirinya lagi dan lagi. Bukankah ini sangat menyebalkan?


"Bora!" panggil Myung-Soo. Dia menarik tangan Nara yang hendak berbalik untuk menghindarinya.


"Apa sih, aku mau pulang. Bisa enggak kalau gak usah ganggu!" ketus Nara kesal.


Tanpa menunggu persetujuan dari Nara, pria itu langsung menarik tangan Nara dan memasukannya ke dalam mobilnya. Nara pun tidak bisa berontak, semakin menurut dia, maka permasalahannya pun akan cepat selesai.


"Pergi, Manse!"


"Baik, Tuan!"


"Jadi kenapa? Enggak usah ganggu aku Kak. Kita cukup ketemu kalau ada acara keluarga saja. Tidak usah---!"


"Aku minta maaf!"

__ADS_1


Kitttt!


Hampir saja mobil itu menabrak pohon di pinggir jalan jika Manse tidak segera melakukan pengereman. Dia memutar matanya, merasa heran atas apa yang baru saja dia dengar. Myung-Soo bukan tipe orang yang mudah untuk meminta maaf, tapi apa yang baru saja dia dengar? Apa Myung-Soo benar-benar sedang tidak sehat?


"Maaf, Tuan!" ucap Manse tulus.


Myung-Soo hanya mendengus, dia kembali fokus kepada Nara, menelisik keadaan perempuan di depannya lantas bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka bukan?"


Nara mengerutkan keningnya halus, dia tidak mengerti kenapa Myung-Soo tiba-tiba berubah seperti ini. Bulu romanya berdiri dengan tegak saking terkejutnya Nara saat itu.


"Apa dia kesambet hantu?" gumam Bora. Dia yang duduk di depan berbalik menatap Myung-Soo dengan tubuhnya yang semakin condong ke depan. Wajahnya tepat berada di depan wajah Myung-Soo, hanya saja pria itu tidak tahu.


"Mungkin otaknya terganggu. Apa tadi ada gempa sehingga kepala pria ini terguncang dan terjadi pergeseran di dalam sana!" Nara membatin.


Han Bora tertawa terbahak-bahak. Arwah itu sampai memegangi perutnya saking kencangnya dia tertawa kala itu. Baru kali ini Bora mendengar kalimat sarkastik dari mulut Nara yang sangat lucu.


"Astaga ... kenapa bisa dia kepikiran gempa. Apa mungkin Nara pikir otak Myung-Soo longsor!"


Myung-Soo mengibaskan tangannya di depan wajah Nara yang masih terbengong seperti orang bodoh.


"Are U oke? Kenapa tidak menjawab ku?" tanya Myung-Soo.


Nara yang saat itu sedang berkelana dengan pemikirannya langsung tertawa. Wajah setampan ini, dengan otak longsor. Tampan tapi bodoh. Ya Tuhan, Nara benar-benar tidak bisa untuk tidak tertawa.


"Cantik!" gumam Myung-Soo tanpa sadar.

__ADS_1


"What?"


__ADS_2