ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 27. Hidung Belang


__ADS_3

Myung-Soo pamit kepada orangtuanya untuk pulang. Dia tidak bisa kembali terlalu malam, takut mengganggu mereka yang akan beristirahat. Sebenarnya bukan hanya itu saja. Akan tetapi ada hal-hal yang harus dia ketahui.


"Bora. Antar Myung-Soo, Nak! Pergilah sebentar!" pinta Nyonya Han.


Nara pun mengangguk. Ia mempersilakan Myung-Soo untuk berjalan lebih dulu, sementara dia dan Bora mengikutinya dari belakang.


Baru akan menuruni anak tangga menuju halaman rumah. Tubuh Nara tiba-tiba oleng. Sialnya, Bora ternyata sengaja membuat dia tersandung. Beruntunglah karena saat itu Myung-Soo sigap menangkapnya.


Merangkul punggung dan pinggang Nara sehingga tatapan mereka kembali bertemu. Tidak cukup sampai disitu, arwah nakal itu menarik tangan Nara, mengeratkannya di punggung Myung-Soo sehingga terjadilah aksi tarik menarik.


Apa yang Nara lakukan itu membuat Myung-Soo salah paham. Gerakannya membuat Myung-Soo berpikir jika Nara ingin memeluknya, alhasil, Myung-Soo menarik punggung Nara, mendekap perempuan itu dengan dekapan yang sangat hangat.


Nara tertegun. Tangannya berhenti di belakang punggung Myung-Soo. Sudah tidak bergerak karena dia takut Myung-Soo akan semakin salah paham.


"Belajar dengan baik. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau alami. Jika membutuhkan bantuan. Hubungi aku, kau adalah calon istriku. Minggu depan kita akan melangsungkan pertunangan. Sudah saatnya melibatkanku dalam masalahmu."


Pria itu tersenyum, ia melonggarkan pelukannya, mengusap kepala Nara kemudian berkata, "Aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik!"


Nara hanya mengangguk. Melambaikan tangan, itu pun Bora yang melakukannya. Persis seperti petani yang sedang menggerakan orang-orangan sawah.


"Akh." Nara memekik karena Bora mencubitnya.


"Bilang hati-hati!" bisik Bora.


"Hati-hati, Kak!"

__ADS_1


"Hmmm. Masuklah! Diluar dingin!"


Mobil itu melesat pergi meninggalkan kediaman keluarga Han. Dan setelah tidak ada siapapun, Nara menoleh, menatap Bora dengan tatapan membunuh.


"Han Boraaaaa," geram Nara kesal. "Apa yang kau lakukan!" pekik Nara lagi.


"Shutttt!" Bora menaruh jari telunjuknya di atas bibir. "Jangan teriak-teriak. Nanti ada yang melihat!"


Nara mendengus. Bora ini sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin seorang perempuan melakukan hal seperti ini. Mereka memang akan menikah, tapi itu baru akan. Terlebih agaknya terlalu bar-bar jika perempuan yang harus mendekat lebih dulu. Menjadi agresif terlalu menakutkan.


Bukannya sadar akan kesalahan, Bora malah tersenyum penuh arti. Perempuan itu mengangkat tangan, menujuk wajah Nara dengan jari telunjuknya.


"Cieeee ... kau berdebar bukan?" tuduh Bora. "Kau marah karena jantung mu tidak berdetak dengan baik kan? Ihhhhh ngaku enggak!" goda Bora.


"Jangan tudur di kamar ku," batin Nara.


Bora yang ada di balik pintu mendengus kesal. Tapi sudahlah, dia akan tidur bersama Hyunsik saja.


Dalam kamar itu, Nara menatap pantulan dirinya dari cermin. Tangan kanannya terangkat, meraba bagian dadanya yang masih berdegup cukup kencang.


"Ada apa dengan ku?" gumam Nara menatap nanar dirinya sendiri. Nara bingung dengan semua ini. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Apa mungkin karena dia tidak pernah menerima perlakuan baik, hatinya bisa dengan mudah menerima saat Myung-Soo memperlakukannya dengan baik.


"Sadar, Nara. Yang Myung-Soo sukai itu Bora. Bukan kamu!"


....

__ADS_1


Sementara di sudut lain. Myung-Soo pun tengah melakukan hal yang sama. Meraba dada sebelah kirinya seraya fokus ke jalanan. Dia kembali menggerakan jemari yang dia gunakan untuk mengacak rambut Nara.


"Gadis itu memang agak sedikit berbeda," gumamnya.


Tak berselang lama setelah itu, Myung-Soo sampai di basement apartemen. Ia keluar dari mobilnya dengan senyum merekah. Pria yang sudah melajang sejak lama ini mulai melihat kembang-kembang kehidupan. Bukan masalah pekerja lagi yang membuatnya tertarik. Tapi seorang gadis, mungkin belum bisa dikatakan sebagai seorang wanita. Dan hebatnya, justru perempuan itulah yang mampu menggetarkan hati seorang Myung-Soo.


"Halo, Manse! Saya memiliki pekerjaan penting untuk mu! Hmmm ! Saya akan mengirimkan semuanya sekarang. Iya. Terima kasih!"


Myung-Soo melekatkan kembali ponselnya. Kali ini di atas meja makan karena saat itu Myung-Soo tengah mengambil air minum. Menenggaknya sebentar kemudian mengirimkan list yang harus dikerjakan oleh Manse. Sang asisten.


"Mulai sekarang, kau akan menjadi bagian dari hidupku, Bora. Apa pun tentang mu, aku harus mengetahuinya."


Myung-Soo tersenyum penuh arti. Pria itu tahu dan sangat sadar dengan apa yang dia lakukan. Sekali dia ingin memiliki sesuatu, maka selamanya dia harus memiliki itu.


....


Keesokan harinya. Yeonwo School mendadak heboh setelah foto-foto seorang guru bersama dengan beberapa murid tersebar. Hanya wajah dari gurunya saja yang terlihat dari foto-foto vulgar itu. Sedangkan wajah para murid di blur. Namun, sebenarnya jika mereka jeli, melihat dari postur tubuh saja sudah kelihatan siapa saja murid yang ada di dalam foto tersebut.


Nara tersenyum. Tidak sia-sia dia menghabiskan uang jajannya hanya untuk menyewa orang. Memata-matai Jian-Man ternyata tidak selulit itu. Apalagi saat Nara memberikannya umpan, Jian-Man langsung melahapnya tanpa memikirkan apa pun.


"Bodoh!" gumam Nara dengan seringai.


Di ujung sana, Minho dan teman-temannya yang lain terlihat sedang gelisah. Mereka kebingungan. Sesekali Minho melirik ke arah Nara yang baru datang, ini tidak mungkin bukan? Apakah masuk akal jika Nara yang melakukannya.


"Bagiamana ini, Minho? Jian-Man Ssaem aja diuleti sampai seperti ini. Bagiamana jika Bora menyebarkan video tentang kita juga!"

__ADS_1


__ADS_2